Modest Style

Fathiiah Hamzah: Pembawa Harapan Anak-anak Pengidap HIV/AIDS

,

Meski banyak kemajuan dalam bidang kedokteran yang telah dicapai dalam memerangi HIV/AIDS, sikap menghakimi tetap ada. Afia R Fitriati berbagi cerita tentang sumbangsih seorang perempuan untuk mengubah miskonsepsi dan mengubah hidup para penderita.

[Not a valid template]

Bagi sebagian orang, bayangan bekerja bersandingan dengan orang yang terpapar HIV dan AIDS sering diasosiasikan dengan bayangan suram penyakit dan kematian. Namun bagi Fathiiah Hamzah, ini adalah sebuah dunia yang terkait dengan cinta, pembelajaran dan kegembiraan. Dalam lima tahun terakhir, Fathiiah berperan sebagai koordinator proyek dalam sebuah rumah penampungan di Kuala Lumpur, Malaysia, bagi anak-anak penyandang HIV/AIDS. Rumah Solehah (RS), yang bermakna ‘tempat bagi para perempuan soleh’, adalah tempat penampungan anak-anak yatim-piatu yang orangtuanya telah meninggal karena AIDS.

Mereka dikucilkan oleh sanak keluarga mereka sendiri

Banyak anak yang mengalami penyiksaan mental dan fisik dari kerabat sendiri dan dibuang ke jalan atau rumah sakit. Tanggung jawab yang diemban Fathiiah terutama terkait dengan upaya melibatkan anak-anak dalam berbagai aktivitas untuk memupuk rasa percaya diri mereka yang terkikis.

“Anak-anak ini adalah korban tak bersalah dari HIV/AIDS,” jelasnya. “Mereka telah dikucilkan oleh sanak keluarga mereka sendiri. Sebuah tantangan besar bagi kami di Rumah Solehah untuk menyesuaikan pola pengasuhan bagi masing-masing anak. Kebanyakan dari mereka membutuhkan dukungan emosional, sebab telah banyak menjalani perjuangan dalam hidup mereka.”

Lewat aktivitas yang dikelolanya, Fathiiah yang berusia 30 tahun, anak kedua dari seorang dokter, menawarkan kesempatan bagi anak-anak untuk menggali bakat dalam diri mereka dan tampil bersinar. “Anak-anak ini sama dengan anak-anak pada umumnya,” ia menjelaskan. “Mereka cerdas, lucu dan aktif. Saya sangat percaya bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sebuah program bagi mereka. Yang membuat mereka berbeda dari anak kebanyakan adalah bahwa mereka harus patuh pada rutinitas pengobatan sepanjang hidup mereka.”

Semenjak berdirinya Rumah Solehah di bulan Juli 1998, organisasi ini telah merawat lebih dari 50 orang anak, memberikan tempat bernaung dan sebuah keluarga bagi mereka – sesuatu yang terenggut dari anak-anak penderita HIV/AIDS. Petualangan Fathiiah bersama RS dimulai ketika salah seorang seniornya di International Islamic University Malaysia mengundangnya untuk mengatur sebuah perayaan ulang tahun bagi salah seorang anak di RS. Di tempat itu, ia mengamati bahwa kebanyakan anak tersebut tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Hal ini menginspirasi Fathiiah dan rekan-rekannya untuk memulai sebuah les pelajaran bagi anak-anak ini. Tak lama setelah itu, saat Rumah Solehah membuka peluang untuk posisi koordinator proyek, mereka menawarkannya kepada Fathiiah.

Miskonsepsi paling jamak yang ingin saya hancurkan adalah perihal bagaimana HIV/AIDS ditularkan

Menjalani enam tahun pengabdiannya di sana, Fathiiah telah menyelenggarakan serentetan aktivitas dan acara, ragamnya dimulai dari pesta ulang tahun hingga Maulid Nabi dan perayaan Hari AIDS Sedunia. Sebagian diadakan untuk melibatkan masyarakat sekitar sembari memperkenalkan anak-anak penghuni RS. Lewat acara-acara seperti itu, Fathiiah berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat perihal isu-isu seputar anak-anak dengan HIV/AIDS. Ia juga merangkul dan bekerja sama dengan LSM-LSM dan institusi lain untuk mengadakan sesi terapi bermain dan kelas-kelas pengajaran, antara lain kelas akting dan fotografi.

Awalnya, menemukan relawan untuk membantu melakukan aktivitas dalam-ruang cukup menjadi kendala. Ketidakpedulian masyarakat dan prasangka terhadap orang-orang yang menderita HIV/AIDS sering menjadi penghalang.

Terlepas dari tersedia luasnya infomasi tentang HIV/AIDS, anggapan keliru masih tetap ada tersebar di Malaysia. “Miskonsepsi paling jamak yang ingin saya hancurkan adalah perihal bagaimana HIV/AIDS ditularkan,” jelas Fathiiah. “HIV tak akan menular lewat aktivitas berpelukan dan berciuman, berbagi makanan dan minuman atau bermain bersama. Bahkan nyatanya, para penderita HIV/AIDS-lah yang harus waspada terhadap kita, karena kita bisa menginfeksi mereka dengan bakteri dan virus sebab kekebalan tubuh mereka yang rendah.” Untuk membujuk teman-temannya agar membantu, Fathiiah memasang foto-foto aktivitas mereka di RS pada dinding Facebook-nya. Aksi ini segera mengundang ketertarikan dan komen dari kawan-kawannya, yang akhirnya berpartisipasi pada aktivitas berikutnya. Fathiiah pun mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Adik laki-lakinya bahkan menjadi relawan-merangkap-fotografer tetap pada setiap acara RS.

Salah satu momen membanggakan adalah ketika seorang anak kecil perempuan yang pendiam keluar dari cangkangnya dan mulai berani mengekspresikan diri lewat melukis.

Bayaran terbesar bagi Fathiiah adalah saat melihat anak-anak itu bermekaran. Salah satu momen membanggakan adalah ketika seorang anak kecil perempuan yang pendiam keluar dari cangkangnya dan mulai berani mengekspresikan diri lewat melukis. Kesempatan lain misalnya saat ia menemukan bakat bernyanyi dalam diri seorang gadis yang pemalu dan meyakinkan dirinya agar bersedia memimpin paduan suara RS. Namun lebih sering lagi, penghargaan itu didapatkannya lewat sebuah pelukan tak-ternilai dan sapaan riang anak-anak.

“Saya tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi terhadap mereka, karena sudah begitu banyak perjuangan dalam hidup yang mereka alami. Saya hanya benar-benar ingin agar mereka ceria. Mereka masih anak-anak. Namun jika mereka ditunjuk sebagai ketua kelas, mulai membaca Al Quran lagi dan mencoba tertib shalat lima waktu, itu akan membuat saya lebih bangga.”

Berkat kemajuan pengobatan modern, anak-anak penderita HIV/AIDS kini memiliki harapan hidup lebih panjang. Fathiiah menyimpan daftar rinci agenda untuk rencananya berikutnya. “Saya berkeinginan membantu seorang gadis yang ingin membuka butik busana muslimah suatu hari nanti, dan gadis yang lain yang bercita-cita mengadakan pertunjukan konser mini, dan ada juga anak lain yang ingin menulis buku dongengnya sendiri.”

RS telah terpilih untuk bekerja sama dengan UNICEF Malaysia dalam proyek untuk membuat sebuah perpustakaan mini lengkap dengan perlengkapan dan area membaca. UNICEF juga menyediakan seorang konsultan dan pekerja sosial untuk mendukung program RS sepanjang 2011. Ini adalah sebuah agenda ambisius yang membuatnya lebih sibuk, namun pencinta fotografi ini telah menyusun rencana pribadi. Di kemudian hari, ia berencana untuk melanjutkan kuliahnya ke tingkat PhD, dengan fokus topik anak-anak penderita HIV/AIDS sebagai area studinya.

Jika sebuah rumah adalah tempat hati terpaut, maka Rumah Solehah adalah rumah bagi banyak hati yang terluka. Fathiiah Hamzah telah mendedikasikan dirinya untuk menyembuhkan luka itu, meningkatkan kesadaran dan penerimaan masyarakat terhadap proses upaya tersebut. Aquila Style dengan bangga mempersembahkan kisahnya senbagai seorang Muslimah Inspiratif.

UNTUK BERDONASI BAGI RUMAH SOLEHAH DI MALAYSIA
Nama Rekening: PPIM RUMAH SOLEHAH
Bank: Standard Chartered Bank Berhad
No. Rekening: 3121-5705-1313

Pelajari lebih jauh tentang Rumah Solehah di halaman Facebook mereka

Artikel ini versi aslinya telah diterbitkan dalam majalah Aquila Style edisi Juli 2012

Leave a Reply
<Modest Style