Modest Style

Dicari: Muslimah Pemimpin

,

Seiring dengan munculnya figur publik feminin di Hamas, Fatimah Jackson-Best membahas mengapa wanita muslim yang mengambil posisi kekuasaan menjadi langkah yang revolusioner dan diperlukan.

Kita mungkin tidak selalu melihat wajahnya, tetapi kepemimpinan wanita muslim terus berkembang. Gambar: Salam Stock
Kita mungkin tidak selalu melihat wajahnya, tetapi kepemimpinan wanita muslim terus berkembang. Gambar: Salam Stock

Minggu lalu diumumkan bahwa Isra Almodallal telah ditunjuk sebagai juru bicara pers asing yang baru dari otoritas Hamas di jalur Gaza Palestina. Langkah bersejarah ini membuat Isra,23, menjadi wanita pertama yang memegang posisi tersebut, dengan pengangkatannya menandakan pergeseran ke arah berubahnya citra internasional Hamas. Lahir di Gaza dan dididik di Inggris, Isra menegaskan sentimen sosial dan politiknya dalam menyatakan bahwa ia adalah “seorang aktivis Palestina yang mencintai negaranya”[1].

Beberapa sumber berita telah menyebut langkah Hamas sebagai upaya untuk menyegarkan citra organisasi itu dalam arena internasional di mana Palestina terpinggirkan dan Hamas sering difitnah. Apapun sudut pandang atau niatnya, posisi baru Isra ini adalah terobosan karena menantang gagasan seksis tentang perempuan muslim dalam posisi kepemimpinan.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa di banyak komunitas muslim, gagasan bahwa seorang wanita dapat mengambil posisi kepemimpinan adalah hal yang tabu dan kadang-kadang bahkan secara aktif dilarang. Demikian pula, banyak organisasi Islam arus utama dan bahkan masjid-masjid kita tidak mengizinkan wanita naik tingkat dan pindah ke posisi kekuasaan meskipun ada fakta bahwa perempuan biasanya merupakan tulang punggung komunitas mereka.

Masjid khususnya adalah salah satu ruang di mana kita dapat dengan jelas melihat marginalisasi perempuan; mereka biasanya ditugaskan ke posisi sekretaris dan administrasi, tetapi jarang diizinkan untuk memegang posisi yang berpengaruh atau kepemimpinan. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kita memiliki masalah seksisme yang melembaga dan ketidakseimbangan jenis kelamin dalam hal kepemimpinan di dunia muslim dan masyarakat muslim kita.

Alasan untuk ketidakseimbangan ini dapat ditemukan dalam interpretasi konservatif dari Al-Quran, akses terhadap pendidikan dan kesempatan bagi perempuan, atau campuran dari semua faktor ini dan banyak lagi. Akibatnya, perempuan muslim sangat jarang dipersiapkan dan didorong untuk mengambil posisi yang akan menempatkan mereka di mata publik. Sebaliknya, sering kali kita melihat negara-negara dan organisasi di mana para ayah mentransfer kekuasaan ke anak-anak lelaki mereka tanpa mempertimbangkan bahwa perubahan diperlukan dan tak terelakkan.

Sementara itu di seluruh dunia, lebih banyak perempuan yang menempati posisi kepemimpinan yang kuat. Dari Perdana Menteri Portia Simpson-Miller di Jamaika sampai pemimpin terbaru Senegal Aminata Toure, perempuan menduduki kantor tertinggi di negara mereka. Lalu mengapa begitu banyak negara dan organisasi muslim saat ini tampaknya ragu-ragu untuk menerapkan program ini?

Mungkin hal yang mencegah kita dari bergerak maju adalah keengganan untuk memulai perubahan mendasar yang diperlukan dalam hal bagaimana Muslim melihat kepemimpinan. Supaya perempuan dapat menempati posisi seperti itu, kita semua perlu berpartisipasi dalam mengubah cara kepemimpinan dimaknai, yang juga memerlukan pergeseran gagasan bahwa kepemimpinan hanya ditujukan untuk laki-laki. Asumsi usang ini tidak berarti apa-apa bagi kita secara pribadi maupun kolektif. Untuk menyingkirkan itu, kita semua harus berpikir tentang prasangka kita sendiri tentang kepemimpinan perempuan dan kemudian membuang prasangka itu.

Selain itu, perempuan harus didorong untuk mengambil posisi kepemimpinan. Seperti Dr Ingrid Mattson menjelaskan, ini mungkin berarti menetapkan posisi bagi perempuan sehingga mereka dapat berpartisipasi secara bermakna dalam pemerintah, masjid, dan organisasi-organisasi Islam.

Perubahan kondisi ini harus sistemik sehingga merembes ke dalam setiap celah di kelompok dan masyarakat kita. Dengan melakukannya, kita mungkin dapat menciptakan perubahan yang cukup untuk memaksa perubahan ide-ide lama. Tentu saja, pekerjaan ini akan makan waktu dan sulit, tetapi alternatifnya – yaitu membiarkan segala sesuatu sebagaimana adanya – tidak dapat dipertahankan.

Sebagai komunitas muslim global, kita harus menyadari bahwa sangat penting bagi perempuan untuk difasilitasi dalam menempati posisi kekuasaan, baik dalam bidang politik, pendidikan, teologi atau organisasi. Pengalaman, masukan, dan perspektif perempuan sangat penting dan mereka harus diintegrasikan ke dalam kesadaran sosial kita.

Harapannya adalah bahwa dengan melakukan hal itu, wanita-wanita pemberani seperti Isra Almodallal akhirnya akan menjadi norma yang umum dan bukan sekadar pengecualian.

[1] ‘Hamas menunjuk juru bicara perempuan pertama’, Al-Jazeera, 11 Nov 2013, baca di sini

 

Leave a Reply
<Modest Style