Modest Style

Bunda-Super Penguasa Dunia Digital

,

Para mama super ini adalah bagian dari gelombang kaum perempuan yang menggunakan Internet untuk mencapai kesuksesan. Oleh Afia R Fitriati.

supermums-sm

Iim Fahima Jachja
CEO, Virtual Consulting

[Not a valid template]

‘Bundaaaaa, hari ini ulang tahunku!’

Seorang gadis kecil berponi berteriak sesaat setelah kedatangan saya ke lantai tiga Graha Sentana Building, kantor pusat Virtual Consulting, perusahaan konsultan pemasaran digital di Indonesia yang sedang naik-daun dan rumah kedua bagi si gadis kecil dan ibunya, CEO Virtual Consulting, Iim Fahima Jachja. Saya mewawancarainya saat ulang tahunnya yang ke-34. Ia mengajak saya berkeliling kantornya untuk sebuah tur singkat dan memperkenalkan saya kepada putrinya yang merebut momen ulang tahunnya, Maleeka Kendra Adhitia, yang memiliki panggilan sayang Kenken. Sementara ruang kantor Iim yang bergaya berada di lantai dua gedung ini, Kenken menempati ‘kantor’nya di lantai tiga dengan sebuah beruang teddy menemani di bawah meja yang bersebelahan dengan meja milik ayahnya, bersama dengan sebagian besar dari ke-70 pegawai Virtual. Ayah Kenken adalah Direktur Kreatif perusahaan ini, Adhitya Sofyan.

Di tahun 2005, Iim dan suaminya mendirikan sebuah agensi periklanan online, Virus Communications, meninggalkan pekerjaan mereka yang nyaman di agensi periklanan terkemuka. Beberapa tahun kemudian, mereka berjumpa dengan Nukman Luthfie, salah seorang pakar pemasaran online terkemuka dan pendiri dari Virtual Consulting. Kemudian mereka menciptakan sebuah aliansi dan menggabungkan kedua perusahaan mereka. Di awal 2009, Iim mengambil posisi sebagai CEO dari Virtual Consulting.

Bagi Iim, yang dijuluki ‘Ibu Terbaik’ versi majalah Femina di tahun 2009, memegang peranan sebagai CEO sekaligus ibu adalah prioritas utamanya dan sama-sama menantang. ‘Sebagian perempuan mungkin mengatakan peran ibu lebih menantang ketimbang memimpin sebuah perusahaan, namun saya tidak berada dalam posisi untuk mengatakan hal serupa. Saya bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup karyawan-karyawan saya, dan itu bukan tanggung jawab ringan,’ demikian jelasnya. Menyeimbangkan dua hal yang dalam pandangan banyak orang sebagai profesi yang bertentangan bukan perkara sepele bagi Iim. Kenken yang telah berusia empat tahun menghabiskan waktunya di kantor ibunya usai sekolah hingga tiba waktunya bagi keluarga ini untuk pulang ke rumah. ‘Kami bertiga selalu bersama-sama’, ujarnya.

Iim memberikan penghargaan bagi almarhumah ibundanya yang telah mendidiknya menjadi seorang perempuan mandiri dan ibu yang berdedikasi. ‘Ibu saya adalah perempuan pekerja yang sibuk namun beliau selalu membawa saya agar senantiasa dekat dengannya. Saya benar-benar meniru dia. Hidupnya berakhir dengan indah, dan seperti itu pula saya menginginkan hidup saya berakhir kelak.’ kenang bungsu dari sembilan bersaudara ini.

Pengikut timeline Twitter-nya paham betul bahwa Iim memulai harinya sangat awal, yaitu sekitar jam 3 dini hari. Ia memanfaatkan saat-saat menjelang fajar untuk menunaikan ibadah shalat Tahajjud dan berkontemplasi. Sebagai seorang CEO dalam industri yang kental persaingan, saya yakin hari-harinya padat dan penuh tantangan – namun penampilannya yang segar dan penuh energi sangat bertolak belakang dengan asumsi saya. ‘Saya mencintai setiap hal yang saya lakukan, setiap hari,’ ia berbagi tipsnya. ‘Sangat penting untuk mencintai apa pun yang kita lakukan.’

Ninit Yunita
Editor-in-Chief, The Urban Mama

[Not a valid template]

Menyebut Ninit Yunita sebagai perempuan yang telah mencicipi berbagai pengalaman terdengar meremehkan. Ia adalah penulis novel laris, bloger peraih penghargaan, pengusaha online, ibu dari dua orang anak dan penjelajah dunia, semua menjadi satu. Namun ketika saya menanyakan pengalaman terbaik yang telah dilaluinya, tanpa sedikit pun keraguan ia akan menjawab: mendirikan The Urban Mama.

‘Ada orang-orang yang mendatangi saya hanya untuk mengatakan, “Terima kasih telah melahirkan The Urban Mama,” ‘ ia membagi kisahnya kepada saya suatu siang di sebuah kedai kopi dalam kompleks apartemennya di Jakarta Pusat. ‘Membahagiakan sekali mengetahui bahwa orang-orang mendapatkan manfaat [dari situs tersebut].’

The Urban Mama adalah sebuah portal jaringan yang dibuat oleh Ninit Yunita, Shinta Lestari dan Thalia Kamarga bersama pada tahun 2009. Idenya datang saat ketiga ibu Indonesia ini, semuanya saat itu sedang bermukim di Singapura, punya satu kebutuhan yang sama: sumber daya online yang berbahasa Indonesia dan bersahabat, yang dapat membantu mereka memandu menghadapi tantangan seputar dunia pengasuhan anak. Sehingga masing-masing dari mereka – yang adalah penulis, ahli keuangan dan desainer grafis – berkontribusi di tiap-tiap bidang keahliannya untuk menciptakan sebuah situs-jejaring yang memungkinkan para orangtua Indonesia saling berbagi pengalaman dan pengetahuan dalam beragam topik pengasuhan anak. Setelah dua tahun berselang, keanggotaan situs tersebut telah berkembang dan mencapai hingga lebih dari 15.000, sehingga menarik minat serius arus pengiklan seperti Mothercare dan GlaxoSmithKline.

Kini setelah menetap di Jakarta, Ninit mengatur waktunya di seputar pengelolaan dua situs dan mengasuh dua bocah laki-lakinya, Aldebaran yang berusia lima tahun dan Arza yang masih dua tahun. Ia juga telah merilis novel terbarunya, sebuah adaptasi dari film Orenji, dan novel terlarisnya, Testpack, telah diadaptasi dalam naskah film yang berjudul sama. Ninit menyebut suaminya, penulis buku laris Adhitia Mulia, sebagai sumber inspirasi dan dukungannya. ‘Kadangkala saya merasa apa yang saya lakukan hanyalah hal biasa. Dialah yang meyakinkan saya dan memberi saya kepercayaan diri untuk melakukannya.’

Ainun Chomsun
Kepala Sekolah Akademi Berbagi

[Not a valid template]

Semuanya bermula dari rasa penasaran. Tahun 2010 Ainun Chomsun men-tweet salah satu ahli periklanan Indonesia, Subiakto, sebuah pertanyaan sederhana. ‘Pak, apakah bisa Bapak mengajari saya tentang copywrite?’ Jawabannya datang tak lama berselang. ‘Cari 10 orang lagi, saya akan mengajar kalian di kantor saya.’

Dalam waktu kurang dari setengah jam, juga lewat Twitter, Ainun berhasil menemukan jumlah murid yang disyaratkan. Kelas copywriting (penulisan naskah iklan) di kantor Subiakto menjadi kelas pertama dari Akademi Berbagi, sekolah gratis, terbuka-untuk-semua dan dikelola secara sukarela di mana Ainun ditunjuk sebagai kepalanya.

Kurang dari dua tahun kemudian, Akademi Berbagi telah menyelenggarakan 17 kelas di kota seluruh Indonesia, mendidik ribuan partisipan dalam beragam subjek, dari fotografi hingga pemasaran lewat media sosial juga kewirausahaan – pertumbuhan dengan jumlah eksponensial yang mengejutkan bahkan bagi kepala akademinya sendiri. ‘Saya menengok ke belakang dan terpukau, “Wow, 17 kota dalam periode kurang dari dua tahun. Betapa cepat!”,’ ia berkata. Jangkaun akademi itu bahkan mencapai hingga lintas negara. ‘Kini kami sedang merencanakan sebuah kelas untuk pekerja Indonesia yang bermigrasi ke Singapura untuk mengajarkan tentang bagaimana mengelola pendapatan mereka,’ Ainun memaparkan.

Sebagai orangtua tunggal, ibu dari Haiqa Matahati yang kini berusia delapan tahun mengakui bahwa menjalankan peran ibu, sebuah karier di bidang periklanan sosial media dan mengelola Akademi Berbagi bukanlah tugas mudah.

Menjadi ibu adalah peran yang paling menantang dari kesemuanya. Jika dan kapan pun saya mau, saya bisa mendelegasikan tugas-tugas saya di akademi kepada orang lain. Tapi saya tidak mungkin berbuat serupa untuk peran saya sebagai seorang ibu.’ Untuk mengganti waktu-waktu panjang yang dihabiskan di tempat kerja, Ainun mencoba menghabiskan sebanyak mungkin waktu yang ia bisa berikan untuk bersama anaknya di akhir pekan. Pada Sabtu petang saat saya menjumpainya, ia baru saja kembali dari mengantar Haiqa ke olimpiade sains di mana anak-anak sekolah dasar diikutsertakan sebagai partisipan.

Ainun percaya bahwa Akademi Berbagi adalah sebuah harapan besar di Indonesia dan semestinya akan terus demikian. ‘Sungguh menyegarkan untuk melihat bahwa kendati begitu banyak berita buruk di bumi Indonesia, ternyata masih banyak orang-orang yang bersedia membagi pengetahuan mereka yang berharga dengan yang lain.’

Artikel yang sudah mengalami perbaikan ini versi aslinya telah muncul di majalah Aquila Style pada bulan Juni 2012.

Leave a Reply
<Modest Style