Modest Style

Sunnah merawat penampilan: bukan semata urusan wanita

,

Meski budaya menuntut wanita untuk lebih memperhatikan penampilan, perawatan pribadi seharusnya menjadi wilayah tanpa bias jender baik bagi pria dan wanita Muslim. Fatimah Jackson-Best menjelaskan.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Saya dapat mengingat jelas pelajaran pertama yang saya dapatkan perihal perawatan pribadi dan teknik kecantikan. Seorang sepupu saya yang cantik dan berusia lebih tua memperkenalkan saya pada kohl (pensil mata) pada usia 12 tahun. Sejak itu, mata bergaris hitam menjadi dasar rutinitas rias saya yang agak berlebihan (namun rapi). Aroma khas parfum kesturi ibu saya lalu menjadi salah satu favorit saya – aroma bersihnya mengingatkan saya pada saat-saat ia bersiap pergi kerja, dengan tampilan terbaiknya.

Industri kosmetika dan kecantikan juga lekat dalam ingatan saya. Majalah dan televisi merupakan tempat saya melihat berbagai produk perawatan tubuh untuk wanita seperti pisau cukur, sampo, dan maskara secara rutin. Tentunya saya tidak sendiri: penelitian menunjukkan bahwa rata-rata wanita melihat ratusan iklan sehari. Seiring banyaknya perlengkapan kecantikan dan kebersihan disodorkan pada konsumen wanita dari berbagai usia, mau tidak mau, hal ini berdampak besar pada budaya wanita terkait dengan teladan perawatan dan kecantikan.

Dengan banyaknya perhatian yang diarahkan pada wanita, mudah sekali melewatkan atau mengerdilkan kepentingan perawatan dan upaya memperindah diri yang dilakukan pria. Beberapa orang menganggap pria memiliki lebih sedikit hal untuk diperhatikan atau tidak memerlukan upaya sebesar perempuan, karena ia tidak dituntut untuk tampil sedemikian rupa di depan umum. Namun setelah baru-baru ini menyaksikan dua perbincangan di mana sekelompok pria membicarakan dengan sangat serius sulitnya “berpisah” dengan tukang cukur yang tidak lagi memberi potongan rambut bagus, saya jadi percaya bahwa mereka juga sedikit banyak merasakan pentingnya tampil bagus.

Beberapa tahun lalu, kita juga menyaksikan kebangkitan istilah “metroseksual” atau pria yang menaruh perhatian besar pada rutinitas perawatan tubuh. Meski begitu, hal ini dianggap sebagai sebuah ketidakwajaran dan terkadang digambarkan sebagai sikap “tidak jantan” – yang mengesankan bahwa pria yang menaruh ketertarikan pada penampilan menyalahi gagasan dominan tentang peran jender.

Asumsi seperti ini penting dipertimbangkan oleh pria Muslim, terutama mereka yang mungkin memahami tentang sunnah tentang perawatan tubuh. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh pria yang memperhatikan penampilannya, dari kuku hingga aroma tubuh. Dan jika Anda membayangkan hal ini dalam konteks di gurun pasir Arab di abad ketujuh – maka banyak sekali yang harus dilakukan.

Ada beberapa hadits populer yang membicarakan kesukaannya pada attar (parfum) atau wewangian yang berbau harum. Istrinya Aisyah diriwayatkan mengatakan “Saya terbiasa mengoleskan parfum pada tubuh Rasulullah menggunakan parfum terbaik yang dapat saya temukan, hingga akhirnya saya melihat ada kilau parfum di kepala dan janggutnya”.[i] Dalam hadits lainnya, ia diriwayatkan menyatakan, “Aroma terbaik adalah parfum kesturi. ”[ii]

Hadits-hadits ini memperlihatkan bagian pribadi hidup Nabi Muhammad SAW, dan kisah yang menunjukkan bahwa ia merupakan sosok pria yang memperhatikan tampilan dan aromanya. Dengan kata lain, ia peduli bagaimana orang lain melihat dirinya dan ingin menyajikan dirinya dengan citra terbaiknya. Sebagai sosok pria yang mempunyai tujuan sosial dan keagamaan, cara ia diterima baik oleh umat dan kalangan skeptis jelas penting. Dengan menyadari bahwa aroma seseorang adalah satu di antara berbagai hal penting dalam berhubungan dengan orang lain, ia memberikan contoh penting dan kuat bahwa pria Muslim lainnya akan mendapat manfaat bila mengikuti contoh yang diberikannya. Selain itu, beraroma harum membuat Anda merasa baik, dan saat Anda merasa baik, orang lain juga merasa baik.

Meski begitu, sering ada kesalahpahaman bahwa pria yang memperhatikan penampilan itu feminin. Padahal, perawatan pribadi seharusnya menjadi wilayah tanpa bias jender bagi setiap orang. Namun, akibat penanaman gagasan budaya dan masyarakat tentang pria dan wanita, perawatan tubuh seakan menjadi wilayah khusus wanita. Hasilnya, wanita dituntut untuk melakukan ini dan itu, sementara pria yang melakukan hal yang sama dianggap terancam maskulinitasnya. Mempercayai gagasan semacam itu membatasi ruang gerak identitas kita, yang sangat merugikan bagi kita sendiri.

Ada lagi sisi lain dari sunnah penggunaan parfum, karena banyak orang yang mengikuti sholat berjamaah mengeluhkan aroma menyengat attar yang menguar dari masjid. Penggunaan wewangian yang berlebihan tentunya tidak menyenangkan untuk orang lain yang mencium aromanya – meskipun aroma ini harum. Cara terbaik adalah dengan menggunakan wewangian tidak lebih dari dua kali sehari: sekali di pagi hari, dan jika perlu, sekali lagi di sore hari. Pahamilah bahwa orang dengan penciuman sensitif tentunya tidak ingin mencium aroma Anda datang lebih dulu sebelum Anda tiba.

Tentunya praktek perawatan tubuh pria dan wanita memiliki aturan budaya dan masyarakat tersendiri. Namun, mempertemukan identitas keagamaan dan kesenangan pribadi merupakan jalan yang seharusnya tidak takut kita lalui. Membahas topik semacam ini bukannya ancaman bagi agama Anda – namun justru dapat memperkuat iman yang dicapai dengan pencarian pengetahuan dan pengembangan pemahaman atas diri sendiri.

________________________________________

[i] Diriwayatkan oleh Aisyah, dalam kitab Imam Nasa’i, dapat dilihat di sini
[ii] Diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, dalam kitab At-Tirmidzi, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style