Modest Style

Menangkal Perilaku Sadar Merek

,

Apakah Anda pernah membeli barang bermerek yang jauh di atas kemampuan Anda?

ina WP-BRand-consciouness-sm
Berbagai kantong kertas tanpa merek aneka warna. Lebih menarik dari kantong plastik! Foto: Nextweb

Mengapa kita membeli barang-barang bermerek terkenal yang luar biasa mahal? Apakah mereka banyak gunanya? Atau bisakah mereka berubah menjadi produk lain?

Untuk menentukan apakah Anda termasuk sadar merek, lihatlah benda-benda kepunyaan Anda dan yang telah Anda beli setahun belakangan ini, lalu bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Apakah Anda mengejar citra yang ditimbulkan produk tersebut, atau apakah Anda memutuskan membelinya karena fungsinya?

Jujur saja, terkadang sejumlah barang tak bermerek bisa terlihat sama hebat dan sama baik kualitasnya dengan barang sejenis yang bermerek, minus banderol harganya yang selangit. Sebagian orang membeli produk bermerek demi meningkatkan status sosial atau supaya menimbulkan kesan baik terhadap diri mereka.

Saya tidak menyalahkan alasan itu. Malahan, jika Anda mampu membelinya, kenapa tidak? Tetapi, apakah Anda pernah memikirkan ke mana perginya uang yang dihabiskan untuk sepasang sepatu bertumit tinggi buatan desainer kenamaan? Mula-mula, sebagian besarnya mengalir ke akun bank sang duta merek yang terpilih untuk memasarkan, mengiklankan dan menjual brand tersebut. Barulah sisanya disalurkan kepada para buruh yang sesungguhnya di pabrik-pabrik.

Saya tidak bermaksud menyuruh Anda berhenti membeli barang bermerek. Alih-alih, jadilah konsumen cerdas dan evaluasilah prioritas sebelum membeli apa pun yang harganya mahal. Sebagai contoh, Anda dapat memandang pembelian tersebut sebagai investasi. Apabila ingin menghabiskan uang demi arloji buatan desainer terkenal yang akan Anda gunakan setiap hari, untuk kemudian Anda wariskan ke anak-cucu, silakan saja. Dalam kasus ini, Anda pun dapat memaksimalkan uang yang dihabiskan untuk jam tangan berkualitas tinggi.

Akan tetapi, sepasang sepatu berhak tinggi yang nilainya setengah gaji bulanan barangkali perlu sedikit dievaluasi. Bagaimanapun juga, entah itu harganya 200 ribu atau dua juta rupiah, jika Anda mudah bosan pada sepasang sepatu setelah hanya beberapa bulan dipakai, apakah benda itu layak dibeli?

Seiring dimulainya kesadaran akan merek, kita menemukan kaum remaja dan dewasa muda, yang bahkan belum memperoleh kebebasan finansial, mengandalkan orangtua untuk memenuhi segala keinginan mereka, hanya demi menyesuaikan diri di sekolah. Saya malah pernah menjumpai beberapa anak kecil yang lebih suka makan di McDonalds setiap kali melewati jaringan makanan cepat saji itu di jalan, daripada menyantap pilihan makanan lokal yang lebih memuaskan dan jauh lebih murah.

Menangkal fenomena ini harus berawal dari rumah. Para orangtua dapat memelihara lingkungan yang positif dengan menunjukkan pada anak-anak apa manfaat produk yang baik, daripada bagaimana penampilan mereka saat mengenakan produk tersebut.

Ajari anak-anak bagaimana cara memperbaiki, mendaur ulang, mengubah atau bahkan membuat sendiri barang-barang mereka, ketimbang membeli penggantinya yang benar-benar baru. Bonus utama dari pendidikan berdasarkan pengalaman semacam itu tidak hanya akan membuat hubungan Anda dan mereka semakin kuat, namun juga memungkinkan Anda untuk membesarkan generasi baru konsumen yang cerdas.

Leave a Reply
<Modest Style