Modest Style

Perjalanan Menemukan Islam Lewat Maroko, Chicago, dan Florida

,

YazTheSpaz berbagi kisah mengharukan tentang bagaimana seorang temannya, fotografer Lisa Vogl, menemukan jalan ke Islam.

ina revert
Islam adalah agama yang berkembang setiap detiknya. Kisah-kisah mereka yang terpikat dengan agama ini menjadi sumber ilham bagi kita semua.

Dalam artikel pertama saya tentang mualaf, saya menulis tentang perjalanan ibu saya menuju Islam, yang berlangsung lebih dari 30 tahun silam di Amerika. Minggu ini saya akan berbagi kisah tentang sahabat saya yang menjadi muslim baru dua tahun yang lalu, serta pengalamannya sebagai warga Amerika berkulit putih.

Lisa Vogl, 30, dibesarkan di sebuah keluarga Kristen – keluarga ayahnya beragama Katolik, ibunya Protestan. Lisa diasuh dengan cara yang tidak begitu religius tapi ibunya sangat spiritual, karena seperti itulah dulu ibunya dibesarkan.

Pada usia 18 tahun Lisa terdaftar di sebuah sekolah khusus perempuan, Chatham College, di Pittsburgh, Pennsylvania, di sana ia bermain softball sebagai olahraga favoritnya. Setelah tahun pertama, ia memutuskan cuti setahun untuk bepergian dan mencari pengalaman magang. Pada setengah tahun pertama itu, ia magang di Disney World sambil melakukan dua pekerjaan lain sekaligus.

isa melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman budaya, tetapi akhirnya mendapatkan jauh lebih banyak – ia pulang dengan Islam di hatinya

Dengan uang yang ia tabung dan kumpulkan, Lisa memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Maroko selama tiga bulan, di mana ia mengajar di Pusat Bahasa Amerika. Lisa menggambarkan hidup di Maroko sebagai ‘pengalaman paling menakjubkan dan mencerahkan’ selama hidupnya. Keluarga tempat ia menumpang waktu itu menempati tempat tinggal berukuran 60 meter persegi. Mereka tidur dan makan di ruangan yang sama, dan tidak tersedia air panas untuk mandi. Saat tinggal di Maroko itulah Lisa pertama kali bersentuhan dengan Islam. Lisa melakukan perjalanan untuk mencari pengalaman budaya, tetapi akhirnya mendapatkan jauh lebih banyak – ia pulang dengan Islam di hatinya

Ketika kembali ke Amerika Serikat, Lisa mendapat pekerjaan di sebuah bank di Chicago. Pada saat itu, ia tidak tahu bahwa dalam Islam hukumnya haram – tidak diperbolehkan – bekerja dengan bunga. ‘Ironisnya, ada sesuatu dalam diri saya yang betul-betul tidak merasa cocok bekerja di sana,’ kenangnya. Inilah salah satu alasan ia berhenti – karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan hatinya. Alasan lainnya, ia ingin mengejar cita-citanya di bidang fotografi.

Lisa mengorbankan segalanya pada saat itu untuk masuk ke sekolah fotografi di Florida. Pada tahun pertamanya di sana ia mengambil kelas videografi di mana siswa ditugaskan membuat film dokumenter pendek tentang topik pilihan mereka.

Saat itu, ia bekerja sama dengan Project Downtown, sebuah badan amal lokal yang menyelenggarakan perkumpulan di masjid setiap hari Minggu, dua minggu sekali untuk memberi makan kaum tunawisma. Lisa mengenakan kerudung setiap hari di Maroko, tapi hal itu lebih untuk mengikuti norma budaya dan berbaur dengan penduduk setempat. Karena Lisa belum memahami makna hijab sebenarnya, ia memutuskan untuk melakukan proyek dokumenternya mengenai hal ini.

Untuk memulai penelitiannya ia meminta temannya, Nadine AbuJubbara, yang ia temui di acara amal. Lisa mewawancarai Nadine dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, ‘Mengapa Anda mengenakan kerudung? Apakah orang-orang berprasangka kepada Anda di jalanan? Apa saja kesalahpahaman tentang hijab?’

Orang tetap akan berprasangka apa pun yang kita lakukan, tapi sebagai muslim kita harus bersedia mengubah perspektif mereka yang berhubungan dengan kita, jika kita ingin melihat perubahan

Jawaban Nadine begitu meyakinkan sehingga benar-benar membuka mata Lisa akan alasan wanita memakai hijab. Karena wawancara tersebut, Lisa memutuskan mempelajari lebih dalam ayat-ayat Al-Qur’an tentang hijab, dan dari sini ia menggali agama Islam lebih jauh. Ia mulai menemui para ulama, menonton video-video YouTube, dan mengkaji Al Qur’an lebih lanjut. Selama sembilan bulan berikutnya ia mulai membandingkan Alkitab dengan Al-Qur’an dan menemukan bahwa keduanya sangat mirip. Lisa merasa, perbedaan utama keduanya adalah Alkitab telah berubah berkali-kali sedangkan Al Qur’an, yang belum pernah berubah, adalah firman langsung dari Allah.

Pada tanggal 29 Juli 2011, hari Jumat sebelum Ramadhan, Lisa Vogl menjadi mualaf. Ia bilang hidupnya telah benar-benar berubah sejak itu, dan betapa dirinya memiliki begitu banyak berkah untuk disyukuri.

[Not a valid template]

Awalnya, keluarga Lisa menanggapi kepindahannya ke Islam dengan baik. Tapi ketika Lisa mulai berhijab, ibunya merasa seolah-olah telah ‘kehilangan’ putrinya, karena tidak hanya Lisa telah menjadi seorang muslim, tapi sekarang hal itu juga terlihat ke mana pun ia pergi. Lisa menjelaskan kepada keluarganya bahwa mengenakan kerudung adalah anugerah itu sendiri karena ini adalah cara seorang wanita berdakwah – menyebarkan Islam – dan memungkinkan dia untuk menjelaskan alasan ia berhijab kepada orang-orang yang bertanya.

Baru-baru ini Lisa disapa di tengah jalan oleh beberapa perempuan yang lebih tua di lingkungannya. Mereka mengatakan kepada Lisa, mereka kagum melihat seorang perempuan muslim yang tidak dilahirkan sebagai muslim, berkerudung setiap hari – bahkan saat berlari di luar. Mereka takjub betapa seorang mualaf bisa lebih yakin dalam berhijab daripada mereka yang terlahir muslim. Para perempuan itu mengungkapkan kekhawatiran mereka mengenai hijab dan prasangka masyarakat, tetapi seperti dikatakan Lisa, ‘Perubahan hanya bisa datang jika kita menghadapinya.’ Orang tetap akan berprasangka apa pun yang kita lakukan, tapi sebagai muslim kita harus bersedia mengubah perspektif mereka yang berhubungan dengan kita, jika kita ingin melihat perubahan.

Perempuan memiliki kesempatan – lebih besar dari laki-laki – untuk menyebarkan Islam karena kemusliman kita tampak pada wajah kita, dan kita perlu mengambil kesempatan itu sebagai berkah dan memanfaatkannya

‘Ada dua hal yang ingin saya katakan kepada umat Islam,’ ujar Lisa. ‘Satu: jangan pernah takut menunjukkan jati diri Anda. Orang akan lebih menghormati Anda ketika Anda jujur pada diri sendiri. Dan dua: ingatlah bahwa hijab adalah bentuk dakwah. Perempuan memiliki kesempatan – lebih besar dari laki-laki – untuk menyebarkan Islam karena kemusliman kita tampak pada wajah kita, dan kita perlu mengambil kesempatan itu sebagai berkah dan memanfaatkannya.

Dia melanjutkan dengan mengatakan kita semua harus mengejar impian kita. Bagaimanapun, jika ia tidak meninggalkan semua hal dalam hidupnya untuk beralih ke fotografi, ia tidak akan menjadi muslim.

Akhirnya, Lisa mengaku dan menyebutkan betapa video-video saya menginspirasi dirinya untuk berhijab – Alhamdulillah! Dengan cara yang sama seperti saya berbagi gairah hidup dengan dunia, ia ingin melakukan hal yang sama melalui fotografinya, insya Allah.

Saya berharap kisah Lisa akan menginspirasi orang di seluruh dunia sebagaimana kisah ini telah mengilhami saya untuk menuliskannya!

Leave a Reply
<Modest Style