Modest Style

Cara Cerdas Menambah Busana Berkelas

,

Dina Toki-O berbagi pengalaman pribadi yang menantang tentang cara memperluas gaya berbusana Anda.

Tak terhitung rasanya saya masuk ke sebuah butik mewah, baik itu di London, Cardiff, atau Kairo, dan keluar dengan rasa tertekan dan kecewa, karena melewatkan begitu banyak pakaian indah dengan satu-satunya alasan mendasar dan sederhana: pakaian-pakaian itu tidak ‘ramah-hijab’.

Itulah masa-masa pahit yang harus saya jalani sebelum saya menemukan panggilan hidup saya: bekerja di bidang fashion. Alhamdulillah, sejak itu saya telah maju terus dan sangat menanti sesi rutin ‘terapi belanja’ –entah itu karena sengaja mencari inspirasi atau untuk memenuhi hasrat belanja pakaian mingguan saya! Yang mana pun itu, tugas ini sekarang sangat menyenangkan: Saya kini memiliki cara pandang baru tentang gaya berpakaian sekaligus memetik manfaat dari terbukanya pikiran saya atas gagasan-gagasan baru yang mungkin saja bisa diwujudkan.

Dalam kolom minggu ini, saya ingin berbagi salah satu ide. Saya berharap ini dapat menjadi solusi Anda dalam mencari dan menemukan busana ‘ramah-hijab’ yang sangat dibutuhkan!

Jawaban atas masalah Anda? Busana pria.

Ketika Anda mencari blus dalam yang panjang dan standar untuk menutupi lekuk tubuh, ambilah T-shirt polos di area pakaian pria! Ketika Anda keluar-masuk toko dan berjuang tanpa henti di kamar pas yang pengap untuk menemukan denim sempurna yang ‘tidak terlalu longgar dan tidak terlalu ketat’, ambillah celana jins pria dari Levi! Ketika Anda mencari sweater ‘longgar’ dan ‘santai’ untuk hari-hari ‘kasual’ Anda, cobalah sweater polos pria! Anda akan melihat sweater ini memeluk bahu feminin Anda dengan sempurna dan menggantung tepat di atas lutut. Padankan dengan sepatu bertumit yang keren dan Anda secara otomatis menciptakan tampilan yang elegan untuk di siang hari!

Mungkin cuma saya yang merasa begini, tapi saya capek berpikir, “Baju ini akan sempurna seandainya ini sedikit lebih…” (selesaikan sendiri kalimat itu sesuai kondisi Anda). Saya yakin ini mengingatkan kita akan beberapa insiden dalam hidup kita. Jika tidak, selamat! Anda memiliki mata jeli dan tidak perlu bantuan dalam memakai apa dengan yang mana, untuk dipakai ke mana atau kapan. Jika memang kalimat di atas pernah terpikir oleh Anda, silakan lanjutkan.

Hanya karena Anda mengenakan T-shirt pria, tidak berarti hari itu Anda terlihat seperti pria

Sepanjang dua tahun terakhir ini saya menemukan bahwa busana pria bisa sangat bermanfaat bagi kita yang dengan bangga telah memutuskan untuk berhijab. Saya telah berkali-kali membeli berbagai jenis pakaian pria di toko-toko mewah, butik kecil, toko online, dan toko vintage. Saya melihat bahwa busana pokok pria seperti T-shirt, kemeja, sweater, dan celana jeans ukurannya cukup standar dan pada kenyataannya tampak hebat dalam gaya tertentu di tubuh wanita.

[Not a valid template]

Tak diragukan lagi, saya menerima banyak sekali ‘saran religius’ dan kritik karena menyatakan pakaian saya hari itu merupakan busana pria berupa sweater, celana jins, atau bahkan sepatu kets. Perhatikan saya bilang ‘menyatakan’ karena sungguh lucu bahwa tak ada yang menyadari sweater yang saya kenakan sesungguhnya sweater pria sampai saya menyebutkannya. Ini menunjukkan betapa mudahnya produk busana pria didandani menjadi busana wanita. Bila para kritikus itu melihat penampilan saya tanpa membaca rinciannya, berkedip pun mereka tidak.

Dalam Islam, haram hukumnya meniru atau berdandan sebagai lawan jenis. Sebagai contoh, pria dilarang memakai sutra, karena sutra dipandang sebagai kain feminin. Banyak hadis dan berbagai pendapat ulama tentang topik ini. Jadi saya memahami dari mana ‘saran religius’ ini berasal.

Namun, mengambil busana pria dan menyesuaikannya agar cocok dan berguna sebagai pakaian wanita,  merupakan hal yang sama sekali berbeda. Hanya karena kit mengenakan T-shirt pria, tidak berarti hari itu kita terlihat seperti pria. Banyak gadis yang gayanya dapat dibilang  ‘tomboi’ tanpa meniatkan tampil bak laki-laki. Dengan hijab untuk menyempurnakan penampilan kita, kita juga tidak benar-benar meniru pria.  Meniru dalam konteks religius sebenarnya tidak hanya dalam urusan pakaian, tetapi juga menyangkut pada perilaku maskulin, berjalan dengan gaya maskulin, dan sebagainya.

Fashion lebih merupakan pernyataan daripada sekadar apa yang kita kenakan. Jadi kepribadian si wanita, rasa percaya diri dan femininitas akan selalu muncul dalam gayanya. Saya bisa mengenakan T-shirt pria dan memadukannya dengan keren bersama rok 80-an yang ngejreng! Keseluruhan citra dan gaya itu sendiri pasti tidak mencerminkan pria.

Setengah dari produk busana pria yang saya beli, biasanya karena versi perempuannya lebih pendek, berlengan pendek, dan ketat. Tentu saja, hal ini karena perempuan terus-menerus dibujuk oleh media, majalah, dan iklan televisi untuk memamerkan tubuh kita sebanyak mungkin. Kita terus-menerus ditampilkan dan digambarkan sesuai dengan penampilan yang diharapkan masyarakat. Tapi sebagai perempuan berhijab, kita mencoba sebaik mungkin untuk berpakaian sopan dan menyembunyikan tubuh kita untuk lebih berkonsentrasi pada jiwa kita.

Tentu saja, penampilan akan selalu penting. Bagi saya, penampilan bukan masalah daya tarik, melainkan keinginan saya mengekspresikan kepribadian dan minat saya dalam berpakaian dan bergembira dengan fashion. Memadankan sweater longgar pria yang bagus atau blazer vintage dengan celana jins, dan kemudian menambah busana kita dengan aksesori clutch bag, sepatu tinggi atau perhiasan, tak akan membuat orang menganggap kita berbusana pria. Semua terletak pada niat. Maksud saya, mudah-mudahan kita memang tidak berusaha untuk tampil seperti pria, melainkan sekadar mengadaptasi busana yang jauh lebih longgar dan lebih nyaman, serta menutupi sebanyak mungkin. Langkah terakhir, tentu saja, adalah mengubah tampilan maskulinnya dan memaksimalkan keanggunan feminin kita!

Leave a Reply
<Modest Style