Sikap Positif: Menjadi Pribadi yang Lebih Baik

Bercermin dari masa-masa sulitnya belakangan ini, Maryam Yusof mengingatkan kita akan kekuatan sederhana yang ditemukan dalam sikap optimis.

2201-WP-Maryam-Positivity-SXC-sm

Foto: SXC

Beberapa bulan silam, saya menuliskan kegelisahan saya tentang kelulusan dan apa rencana saya setelah meninggalkan bangku kuliah. Yah, akhirnya saya memperoleh gelar dan minggu depan saya akan menghadiri upacara wisuda. Selayaknya mahasiswa yang baru lulus, saya giat menjelajahi situs-situs untuk pencari kerja dan mengirimkan surat lamaran beserta CV. Saya juga telah menjalani sejumlah wawancara kerja dan psikotes. Sayangnya, saya tetap merasa sangat kecewa.

Sebuah insiden khusus yang baru-baru ini terjadi membuat saya kecil hati. Saya menerima email mengerikan berisi  kalimat ‘Terima kasih atas usaha Anda, tapi maaf, Anda tidak cukup memenuhi persyaratan—salam hangat!’ dari sebuah perusahaan yang saya incar dan sudah beberapa kali mewawancarai saya.

Biarpun saya yakin semua terjadi karena suatu alasan—biasanya saya mampu bersikap tenang saat menghadapi kekecewaan—kejadian itu mengantar saya memasuki lubang hitam yang dipenuhi pikiran negatif dan keraguan atas kualitas diri. Selama kira-kira dua minggu, saya menolak pergi keluar atau bertemu siapa pun, cenderung membalas sms dengan nada marah, pokoknya terlalu kecewa untuk melakukan apa saja. Sampailah saya pada satu titik di mana seorang teman mengirimi saya sms untuk bilang dia tidak mau bicara dengan saya sampai suasana hati saya kembali normal.

Sederhananya begini: penolakan itu menyakitkan. Dalam kasus saya, saya telah bereaksi secara negatif terhadap segala sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan saya. Bersikap minder dan mengasihani diri sendiri menjadi cara saya untuk menghadapi berita buruk. Saya membenci situasi ini.

Sikap negatif melahirkan sikap negatif lain, dan saya punya pengalaman langsung dalam menghadapinya. Meski kekecewaan saya disebabkan berakar pada satu penyebab, saya mulai melihat hampir semua hal lain dalam pandangan negatif dan menjadi luar biasa kesal terhadap hal-hal yang paling remeh. Di waktu yang sama, secara tidak sengaja, tingkah laku saya mulai memengaruhi orang-orang yang dekat dengan saya. Kekecewaan membuat kesabaran saya menipis, membuat saya condong untuk menyerang orang lain.

Akhirnya saya berhasil keluar dari keputusasaan setelah berbicara dengan ayah saya, saat itu saya hampir menangis melihat sebuah truk milik perusahaan yang menolak saya itu lewat.

Ayah berkata, ‘Allahlah perancang terbaik. Mungkin kamu berpikir pekerjaan adalah segalanya tapi Allah punya rencana lain untukmu; kamu hanya belum bisa melihatnya.’

Sekalipun mustahil untuk tidak merasa sedih, saya sadar saya perlu berhenti mengasihani diri sendiri dan lebih menaruh kepercayaan terhadap keputusan Tuhan. Semua orang memiliki musibahnya masing-masing; sementara masalah saya, amatlah sepele. Selain itu, meratapi kegagalan dan kekecewaan tidak akan mengubah situasi. Lebih buruk lagi, hal itu mematikan motivasi saya dalam menjalani hidup dan meneruskan tujuan utama saya: mendapatkan pekerjaan.

Walaupun tidak selalu mudah untuk mengubah akibat dari situasi tertentu, kita dapat mengubah cara kita dalam menanggapinya. Jika saya memperlakukan insiden ini dengan berbeda dan menanggapinya secara positif, saya tidak akan menghabiskan begitu banyak waktu untuk merasa marah dan sedih (sekaligus membuat jengkel orang lain), dan akan lebih banyak mengirim lamaran kerja, ketimbang merasa seperti senantiasa menyerah saat salah mengambil arah.

Menanamkan pemikiran positif

Mengadopsi pola pikir positif ketika semuanya seolah hancur berantakan barangkali tidak terlihat mudah, tapi mungkin untuk dilakukan. Berpikir positif dimulai dengan bicara pada diri sendiri. Jadi, daripada memelihara pikiran negatif dan pasrah saat terkungkung masalah, mari kita coba untuk berpikir lebih optimistis. Hal ini akan membentuk kita dalam menghadapi situasi tidak menyenangkan yang menghadang di depan.

Selain itu, penelitian telah menunjukkan bahwa pikiran positif memberikan manfaat kesehatan seperti meningkatnya kesempatan untuk hidup lebih lama, tingkat depresi lebih rendah, kesejahteraan psikologis dan fisik membaik, kemampuan dalam menghadapi kesukaran dan tekanan pun semakin terasah.

Sekalipun saya pasti menghadapi lebih banyak halangan dan rintangan di masa mendatang, saya berusaha untuk menanamkan pola pikir yang lebih positif demi keuntungan diri sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Bagaimanapun juga, saya mempunyai begitu banyak hal yang bisa saya hargai. Bahkan rasa syukur dan doa dapat membantu menumbuhkan sikap positif.

comments powered by Disqus

Dapatkan berita mingguan terbaru seputar mode dan gaya hidup dengan berlangganan Aquila Style
What Ramadhan Means to Adibaaah Lihat Video Aquila lain