Modest Style

Yang saya pelajari dari kegagalan di sekolah kedokteran

,

Usaha atau pencapaiankah yang menentukan eksistensi kita? Adibah Iskandar membicarakan cara berbeda dalam memandang kesuksesan.

Tetaplah bersenang-senang. (Gambar: Dreamstime)
Tetaplah bersenang-senang. (Gambar: Dreamstime)

If you can meet with Triumph and Disaster

And treat those two impostors just the same…

(Jika kau dapat bertemu dengan Kejayaan dan Kemalangan

Dan memperlakukan kedua penipu tersebut dengan sama…)

Puisi If karya Rudyard Kipling di atas diajarkan di sekolah menengah. Dulu, meski mengetahui arti penipu, saya tidak benar-benar memahami apa yang dimaksud Kipling di baris kedua. Kini, saat saya telah menjalani hampir tiga tahun sekolah kedokteran, saya sering berpikir bahwa saya akhirnya memahami makna metafora tersebut.

Menurut Apple Dictionary (ya, saya menggunakan kamus tersebut di MacBook saya), seorang penipu adalah “seseorang yang berpura-pura menjadi orang lain dengan tujuan memperdaya”.

Kata kunci yang selama ini saya cari adalah “memperdaya”. Kejayaan dan Kemalangan, atau kesuksesan dan kegagalan, hanya memperdaya Anda. Mengapa begitu, Anda mungkin bertanya?

Saat Anda dikelilingi oleh orang-orang sukses – entah dalam bidang olahraga, akademik, maupun seni – tuntutan untuk sukses sangat besar. Masyarakat, sepertinya, memiliki toleransi yang sangat rendah untuk kegagalan. Bayangkan besarnya tekanan saat berada di sekolah kedokteran: tiba-tiba nilai adalah segalanya, dan IPK tinggi mendulang kehormatan. Bukannya mendapat nilai di atas rata-rata itu salah. Yang salah adalah saat masyarakat memaknai kesuksesan hanya sebagai sesuatu yang dapat diukur.

Suatu hari, hanya tujuh hari sebelum masa ujian, saya memutuskan bahwa saya tidak lagi dapat menanggung hal tersebut. Saya telah mempertimbangkan berhenti dari sekolah kedokteran sejak tahun pertama, namun pada saat itu, keinginan tersebut terasa lebih kuat dari biasanya. Sekolah kedokteran telah menjadi sebuah persaingan yang sangat ketat. Saya telah mempelajari banyak hal, nanum tidak ada yang terasa masuk akal. Teman-teman seangkatan saya tampak sangat menguasai di saat praktikum dan perkuliahan, sementara saya berjuang untuk memahami dasarnya.

Mengurus diri sendiri pun semakin sulit. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Saya mulai meragukan diri sendiri. Saya mulai meragukan tulusnya kepedulian orang-orang. Saya meragukan kasih Tuhan. Berbagai hubungan (dan bukan yang jenis romantis) terus mengecewakan saya.

Di rumah, saya mencurahkan seluruh kekecewaan saya pada saudara-saudari ipar yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Saya merasa mereka adalah orang-orang terbaik yang dapat saya ajak bicara, hanya karena mereka ada untuk saya, selain perbedaan usia kami yang juga tidak jauh. Saya ingin berbicara pada orangtua saya, namun takut mengecewakan mereka.

Saya merasa tidak berharga. Meski perasaan ini tidak benar-benar hilang, dengan perlahan saya dapat menerima diri saya. Saya bercerita melalui Skype pada ayah saya betapa saya merasa tidak berguna. Saya tidak seperti dia: kapten tim debat sekolah. Saya tidak seperti saudara saya: pemenang kuis nasional. Saya berkulit gelap, tidak seperti ibu saya, yang kecerahan  kulitnya sangat diidam-idamkan oleh masyarakat Malaysia. Saya tidak mahir memainkan instrumen apapun, dan membutuhkan delapan pekan hanya untuk menguasai gaya dada.

“Satu-satunya yang pernah saya lakukan, Ayah, hanyalah menjadi seorang kutu buku.”

Mata saya basah saat menuliskan kata-kata tersebut. Saya tidak dapat mengatakannya secara langsung – terlalu menyakitkan rasanya.

Setelah menumpahkan perasaan, terjadilah hal yang mencengangkan. Untung saja saya tidak takut buka-bukaan. Pembicaraan kami sama sekali tidak semenakutkan yang saya bayangkan. Tidak ada yang menertawakan saya, dan saya mengetahui bahwa saya tidak sendiri. Seluruh keluarga saya telah merasakan hal yang sama.

Untuk pertama kalinya, saya mendengar ayah saya mengatakan, “Adik, tidak apa-apa jika kau gagal.”

Yah, mungkin bukan benar-benar pertama kalinya, namun memang saat itu adalah kali pertama saya merasakan keseriusan ayah saya. Ia meyakinkan bahwa apapun yang yang terjadi pada saya, saya akan selalu mendapatkan dukungan keluarga. Ia juga mengakui telah bersikap terlalu protektif karena rasa sayangnya pada saya. Dulu saya sering merasa marah pada orangtua saya karena tidak memperbolehkan saya melakukan hal yang saya inginkan, namun setelah bertambah dewasa, saya mengerti sulitnya membuat keputusan. Saya pikir pastilah lebih sulit memutuskan yang terbaik bagi anak.

Eksistensi Anda ditentukan oleh usaha dan niat, bukan pencapaian

Lalu bagaimana kegagalan memperdaya Anda? Dan bagaimana dengan kesuksesan – benarkah sukses dapat menjadi hal yang buruk?

Sekilas, kegagalan tampak buruk, padahal kenyataannya, kegagalan hanya menambah makna pada kesuksesan. Dalam Islam, kita diajarkan bahwa pahala bagi perjuangan seseorang yang terpatah-patah membaca Qur’an dua kali lebih besar daripada yang membacanya dengan indah dan lancar.[i] Belajar dari kesalahan Anda dan tidak mengulanginya: itu merupakan bentuk kesuksesan tersendiri.

Masyarakat kita harus menyadari bahwa kita bukanlah sekadar pencapaian kita. Memangnya kenapa jika Anda tidak memiliki satu piala pun di lemari Anda, atau jika nilai Anda tidak sebaik tetangga Anda? Banyak orang, termasuk saya, menjadi korban dari pola pikir populer ini. Di masa di mana segala sesuatu harus pantas dipampang di Facebook, kesuksesan menjadi hal palsu.

Kesuksesan dapat menjadikan kita terlena dan arogan. Saya tidak menyatakan bahwa kesuksesan itu buruk, namun ada bahaya tersembunyi di baliknya. Seringkali, orang-orang terperdaya dan berpikir bahwa seluruh kesuksesan dalam hidup mereka merupakan hasil usaha mereka sendiri. Padahal, segala sesuatu dalam hidup, baik dan buruk, semua berasal dari Sang Pencipta.

Keuntungan memahami hal ini adalah agar kita dapat bersikap biasa dalam menghadapi kegagalan dan kesuksesan: saat kita sukses, kita tidak terlalu bangga; saat kita gagal, kita tidak terpuruk dalam keputusasaan. Penting diingat bahwa tidak mungkin kita mampu mendapatkan berbagai hal tanpa bantuan dari orang lain. Kesuksesan tidak pernah menjadi milik kita sendiri, maka tidak ada gunanya jika kesuksesan tersebut tidak membawa manfaat bagi masyarakat.

Jika saat ini Anda sedang berjuang, ketahuilah bahwa Anda tidak sendiri. Ingatlah selama Anda melakukan segala hal dengan niat baik, dan berusaha sebaik mungkin, Anda tidak akan merugi. Eksistensi Anda ditentukan oleh usaha dan niat, bukan pencapaian.

Penulis adalah mahasiswa kedokteran tahun ketiga di University College Dublin, Irlandia


[i] Hadis dirawi oleh Aisyah, dalam Bukhari, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style