Modest Style

WHO: Satu dari Tiga Perempuan Jadi Korban KDRT

,
Foto untuk tujuan ilustrasi semata: Kaum perempuan meneriakkan slogan-slogan dalam demonstrasi untuk mengutuk kekerasan dalam rumah tangga di Ankara, Turki, 15 Desember 2012. AFP PHOTO/ADEM ALTAN
Foto untuk tujuan ilustrasi semata: Kaum perempuan meneriakkan slogan-slogan dalam demonstrasi untuk mengutuk kekerasan dalam rumah tangga di Ankara, Turki, 15 Desember 2012. AFP PHOTO/ADEM ALTAN

JENEWA, 20 Juni 2013 (AFP) – Lebih dari satu dari tiga perempuan di seluruh dunia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga, di mana penduduk di Asia dan Timur Tengah paling banyak menjadi korban kejahatan tersebut, demikian menurut data organisasi kesehatan dunia WHO pada Kamis lalu.

Dalam penelitian yang disebut-sebut sebagai studi sistematis data global yang pertama tentang prevalensi kekerasan terhadap perempuan dan dampaknya bagi kesehatan ini, data badan PBB itu menyebutkan 30 persen wanita di seluruh dunia menghadapi kekerasan tersebut di tangan pasangannya.

‘Bagi saya ini statistik yang mengejutkan,’ kata Flavia Bustreo, kepala divisi kesehatan keluarga, perempuan, dan anak-anak WHO.

‘Mengejutkan pula betapa fenomena ini terjadi di seluruh dunia,’ katanya kepada wartawan.

WHO menyalahkan tabu yang mencegah korban melapor, kegagalan dalam sistem peradilan dan medis, dan norma-norma yang membuat kaum pria dan wanita melihat kekerasan sebagai hal yang wajar.

Temuan itu didapat dari perhitungan angka-angka yang diberikan oleh 81 negara yang menyimpan data, dan tidak memfokuskan pada masing-masing negara.

Skala kekerasan tertinggi terdapat di Asia, di mana data dari Bangladesh, Timor Leste, India, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand menunjukkan 37,7 persen perempuan menjadi korbannya.

Berikutnya adalah Timur Tengah, di mana prevalensi rata-rata 37 persen. Sub-Sahara Afrika mengikuti dengan 36,6 persen.

Rata-rata 23,2 persen terjadi dalam kelompok negara-negara berpenghasilan tinggi termasuk Amerika Utara, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

‘Data ini benar-benar menunjukkan dampak mengerikan kekerasan terhadap kesehatan perempuan,’ kata Claudia Garcia-Moren, spesialis gender, hak-hak reproduksi, kesehatan seksual, dan remaja dari WHO.

Menggarisbawahi dampak kekerasan tersebut, WHO mengatakan bahwa secara global, 38 persen dari perempuan korban pembunuhan tewas di tangan pasangan mereka.

Selain itu, katanya, kekerasan juga meninggalkan parut, yang membekas lama setelah memar hilang dan patah tulang sembuh.

Perempuan dengan pasangan yang kejam dua kali lebih mungkin menderita depresi dan memiliki masalah alkohol, dibandingkan dengan perempuan yang tidak mengalami kekerasan.

Terbukti juga korban kekerasan jauh lebih mungkin untuk terkena berbagai penyakit seksual menular, dari sifilis sampai HIV.

Penelitian ini juga menandai meningkatnya kecenderungan perempuan korban kekerasan mengalami kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi, atau bayi lahir dengan berat badan rendah — dan anak-anak mereka lebih mungkin untuk menjadi pelaku atau korban kekerasan di masa dewasa.

Leave a Reply
<Modest Style