Modest Style

Utusan Muslim Minta Paus Mengambil ‘Langkah Maju’

,

 

File foto: Pemimpin Kristen Koptik Mesir Paus Tawadros II, (kiri), duduk di samping Syekh Muslim Tawfik Abdelazizi (tengah) dan Mahmud Azab dari al-Azhar saat mereka menghadiri perayaan ulang tahun ke-60 Dominican Institute of Oriental Studies di Kairo, 9 Juni 2013. AFP PHOTO/KHALED DESOUKI
File foto: Pemimpin Kristen Koptik Mesir Paus Tawadros II, (kiri), duduk di samping Syekh Muslim Tawfik Abdelazizi (tengah) dan Mahmud Azab dari al-Azhar saat mereka menghadiri perayaan ulang tahun ke-60 Dominican Institute of Oriental Studies di Kairo, 9 Juni 2013. AFP PHOTO/KHALED DESOUKI

VATIKAN, 7 Juni 2013 (AFP) – Seorang utusan dari lembaga pendidikan tertinggi Islam Sunni, Al-Azhar di Kairo, menyerukan masa depan pemulihan hubungan dengan Vatikan pada hari Jumat, namun meminta Paus Francis untuk mengambil ‘langkah maju’ dengan menyatakan Islam sebagai agama damai.

‘Kami tidak bermasalah dengan Vatikan, melainkan dengan mantan paus. Sekarang pintu Al-Azhar sudah terbuka,’ kata Mahmod Abdel Gawad, utusan diplomatik untuk imam agung Al-Azhar, Ahmed al-Tayyeb, kepada surat kabar Italia Il Messaggero di Kairo.

‘Francis adalah paus yang baru. Kami mengharapkan langkah maju dari beliau. Jika di salah satu pesannya beliau menyatakan bahwa Islam adalah agama damai, bahwa umat Islam tidak menginginkan perang atau kekerasan, itu akan menjadi kemajuan tersendiri,’ katanya.

Sebuah upacara di bulan Maret di mana Paus Francis membasuh kaki para narapidana muda di Roma, termasuk seorang gadis muslim, adalah ‘sikap yang sangat, sangat dihargai’ oleh Al-Azhar, kata Gawad.

Dia mengatakan, jika Francis menerima undangan dari Paus Ortodoks Koptik Tawadros II untuk mengunjungi Mesir, maka ia juga bisa mengunjungi Al-Azhar.

‘Pada saat itu, hubungan dan dialog akan segera pulih,’ katanya seperti dikutip.

Tapi Gawad mengesampingkan kemungkinan pembicaraan antara para pemimpin tiga agama monoteisme utama dunia yang beredar di kalangan Vatikan, dengan mengatakan Al-Azhar ‘tidak akan mengambil bagian dalam pertemuan dengan Israel.’

Pada tahun 2006, Paus Benediktus XVI memicu kemarahan muslim di seluruh dunia ketika ia menceritakan sebuah anekdot di mana Nabi Muhammad digambarkan sebagai penghasut perang yang menyebarkan ajaran sesat.

Dialog dilanjutkan pada tahun 2009, namun kembali terputus setelah Benediktus tegas meminta perlindungan untuk kalangan minoritas Kristen setelah pengeboman 2011 di sebuah gereja di Alexandria, kota terbesar kedua Mesir.

Leave a Reply
<Modest Style