Modest Style

Um Omar: Koki Pejuang Pemberontak Suriah

,
Suriah, Aleppo: Pejuang oposisi Suriah membentangkan kain lebar untuk menghalangi pandangan penembak jitu tentara Suriah sewaktu berusaha melintasi reruntuhan bangunan dalam bentrokan yang terjadi di utara kota Aleppo (27/3). Di tempat lain, pesawat tempur Suriah meluncurkan dua serangan ke distrik Qaboon di timur laut Damaskus. Menurut lembaga pengawas, saat itu pemberontak yang melawan rezim Presiden Bashar al-Assad berhasil merebut tiga pos militer di dekat garis gencatan senjata dengan Israel. AFP PHOTO/BULENT KILIC
Suriah, Aleppo: Pejuang oposisi Suriah membentangkan kain lebar untuk menghalangi pandangan penembak jitu tentara Suriah sewaktu berusaha melintasi reruntuhan bangunan dalam bentrokan yang terjadi di utara kota Aleppo (27/3). Di tempat lain, pesawat tempur Suriah meluncurkan dua serangan ke distrik Qaboon di timur laut Damaskus. Menurut lembaga pengawas, saat itu pemberontak yang melawan rezim Presiden Bashar al-Assad berhasil merebut tiga pos militer di dekat garis gencatan senjata dengan Israel. AFP PHOTO/BULENT KILIC

Oleh Marie Roudani: Rabia, Suriah, 4 April 2013 (AFP) – Di usianya yang ke-53, Um Omar memutuskan untuk melancarkan aksi jihadnya sendiri. Mendiami sebelah utara pegunungan Turkmen, Suriah, setiap harinya ia berkutat dengan panci dan wajan untuk memasak bagi para pejuang pemberontak di wilayah tersebut.

‘Saya bangun pukul 5 pagi untuk menyiapkan makanan mereka, dan saya tidak pernah melewatkan satu hari kerja pun selama hampir setahun,’ ujarnya sambil menyendok potongan kentang yang diirisnya pagi tadi dari dalam wajan berisi minyak mendidih.

‘Di tengah salju, hujan, bahkan di bawah serangan roket, dia tidak pernah berhenti memasak untuk kami,’ ungkap Assad, pemberontak muda dari wilayah Jabal al-Turkman (pegunungan Turkmen) di provinsi Lattakia, daerah kekuasaan klan al-Assad yang telah memerintah di negara itu selama lebih dari empat dekade.

Abu Khaled, penembak jitu dari satuan pemberontak terdekat, juga memuji-muji Um Omar, yang, menurutnya, sudah seperti ibu atau saudara perempuan bagi para pejuang.

‘Dia melakukan hal yang nyaris mustahil demi mewujudkan keinginan kami. Pernah seorang pejuang meminta puding beras. Walau dia harus jungkir balik mendapatkan bahannya, besoknya si pejuang pun mendapatkan puding beras,’ tuturnya.

‘Di sini, orang yang tidak menganggap masakannya lebih enak dari masakan ibunya masih mengatakan ‘masakannya sama enaknya dengan masakan ibu saya’,’ tambah Abu Khaled sambil menyajikan kentang dan nasi berbumbu yang dimasak Um Omar pagi itu kepada sekelompok pemuda.

Meski demikian, andilnya itu tidak lantas membuat Um Omar besar kepala. Sembari memasukkan bersendok-sendok garam ke dalam penggorengan, ia berkata, ‘Memberi makan pasukan ini hanya cara saya untuk mendukung revolusi. Kegiatan ini juga membuat pikiran saya sibuk, sehingga saya tidak cemas akan pengeboman dan penghinaan yang setiap hari kami rasakan di bawah kendali rezim.’

Um Omar, yang mengakhiri setiap kalimatnya dengan ‘Semoga Allah mengutuk Bashar (al-Assad, presiden Suriah),’ mengambil sendiri keputusan untuk meninggalkan kota sebelah barat Lattakia, tempat tinggalnya yang sebagian besar wilayahnya sejauh ini masih terbebas dari perang.

Mayoritas Jabal al-Turkman saat ini dikuasai pejuang oposisi. Daerah ini berbatasan dengan Turki di sebelah utara, yang mendukung revolusi, serta pegunungan yang dihuni suku Alawi di sebelah selatan, rumah bagi minoritas pendukung Assad.

Selama sembilan bulan terakhir, pertempuran sengit telah berkecamuk di sekitar batas selatan Jabal al-Turkman, di mana para pemberontak telah mencoba untuk merebut kota Lattakia yang jaraknya hanya 50 kilometer.

‘Saya bersumpah kepada diri sendiri untuk tidak meninggalkan pegunungan ini sampai penguasa tiran itu digulingkan. Setelah itu kami bisa pulang ke rumah sebagai pemenang,’ kata Um Omar dengan nada yakin.

‘Pada awalnya, anak-anak saya tidak memahami (keputusan saya). Tapi saya menjelaskan apa yang saya lakukan kepada mereka, dan sekarang, bahkan suami saya pun menjadi pendukung,’ tambahnya, beranjak dari satu panci yang menggelegak ke panci lainnya. ‘Bagaimanapun juga, saya menentukan pilihan sendiri, saya melakukan apa yang saya inginkan.’

Setiap hari, wanita tangguh berumur 53 tahun ini menjalani rutinitas yang keras di pegunungan: bangun di waktu fajar untuk sholat, minum kopi dan langsung bekerja.

‘Saya pergi dan menemui tetangga. Mereka semua memberi saya sesuatu untuk dimakan hari itu, yang lantas saya berikan kepada para pemberontak dan mereka yang tinggal di dekat sini,’ jelasnya.

Di kebun milik sebuah keluarga Turkmen, Um Omar menggunakan pisau kecil untuk memotong beberapa tangkai daun mint, peterseli dan selada. Lalu dia kembali ke ‘dapur’-nya—beberapa batako yang ditumpuk dengan selembar kain kanvas sebagai atap.

Koki yang kerap berimprovisasi ini tidak bekerja dengan topi atau celemek, melainkan dengan satu set seragam perang yang diberikan pasukan oposisi demi melakukan apa yang disebutnya sebagai ‘jihad’.

‘Di rumah saya punya kompor gas di dapur, tapi di sini saya harus belajar memasak menggunakan kayu bakar,’ katanya seraya menambahkan ranting dan dahan pohon cemara ke dalam api di bawah panci dan wajan yang ditaruhnya di tengah-tengah lapangan, bersebelahan dengan markas brigade pemberontak setempat.

Terkadang, Um Omar sendiri yang memotong kayu bakar di hutan terdekat untuk ‘dapur gunung’-nya itu. ‘Revolusi ini benar-benar telah memaksa saya menjadi lebih tangguh,’ ujarnya sambil tertawa.

Leave a Reply
<Modest Style