Modest Style

Ulama Iran: Muslim Boleh Redakan Haus saat Berpuasa

,
Foto: SXC
Foto: SXC

TEHERAN, 18 Juli 2013 (AFP) – Sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama senior Iran yang menyatakan muslim boleh meredakan ‘rasa haus yang ekstrem’ selama bulan Ramadhan menimbulkan perdebatan di kalangan ulama di republik Islam ini, media melaporkan, Kamis lalu.

‘Mereka yang tidak tahan haus yang ekstrem boleh minum air secukupnya untuk menghilangkan (rasa haus) itu. Tindakan ini tidak akan membatalkan puasa,’ demikian isi fatwa Ayatollah Agung Assadollah Bayat Zanjani tersebut, yang dipandang dekat dengan kaum reformis.

Tapi fatwanya segera mendapat serangan dari Ayatollah Agung Nasser Makarem Shirazi.

Dia menentang ‘berpuasa dan minum pada saat yang sama’, dan menegaskan bahwa setiap pembatalan puasa harus diganti dengan berpuasa di lain hari dalam tahun yang sama.

Laporan media juga mengacu ke fatwa yang dikeluarkan oleh pemimpin tertinggi Ali Khamenei dan Ayatollah Agung Ali Sistani yang mengatakan, ‘kondisi lemah atau haus tidak layak menjadi alasan membatalkan puasa.’

Namun, Zanjani yang bermukim di kota suci Qom mengatakan Islam mengizinkan beberapa pembatalan dalam berpuasa.

Dia mengatakan hal ini tergantung pada ‘kondisi iklim dan geografis tertentu’, mengingat bahwa di negara-negara seperti Iran, puasa di bulan Ramadhan dapat berlangsung sampai 16 jam di musim panas.

Mereka yang ‘jatuh sakit ketika berpuasa atau jika puasanya memperparah penyakit yang ada’, atau ‘pekerja yang bekerja keras di siang hari yang panjang’ boleh minum jika itu demi kelangsungan hidup mereka, Zanjani mengatakan di situsnya.

Orang-orang dalam kasus tersebut juga tidak harus menggantinya dengan berpuasa pada hari lain, ia menambahkan.

‘Imam Shadiq (imam Syiah keenam) sendiri mengatakan bahwa orang boleh minum jika itu untuk menyelamatkan nyawa mereka,’ bantah Zanjani.

Leave a Reply
<Modest Style