Modest Style

Tumbuh dalam Keluarga Besar

,

Apakah keluarga besar merupakan masalah atau pengalaman unik yang menciptakan keakraban? Layla Maghfur berbagi cerita seperti apa rasanya dibesarkan dalam rumah yang ramai.

Foto bersama kakak dan adik saya (minus dua orang) pada Hari Raya (Idul Fitri). Kami berkumpul untuk menikmati makanan gratis.
Foto bersama kakak dan adik saya (minus dua orang) pada Hari Raya (Idul Fitri). Kami berkumpul untuk menikmati makanan gratis.

Tidak diragukan lagi, keluarga saya terbilang besar. Setiap kali orang bertanya apakah saya mempunyai saudara kandung, jawaban saya biasanya selalu disertai sedikit perasaan canggung (dan mungkin, secuil kebanggaan): “Oh, eh, sebenarnya saudara kandung saya ada tujuh. Lima saudara laki-laki dan dua saudara perempuan.”

Sebagai anak ketujuh dari delapan bersaudara, dari dulu sampai sekarang saya selalu dianggap anak kecil. Bahkan ketika mengenang masa kecil kami di surel, kakak perempuan saya tidak ragu-ragu untuk mengingatkan saya saat dia berumur 14 tahun dan harus mengasuh saya yang masih bayi.

“Ya ampun. Aku harus membersihkan kotoranmu, memandikanmu, memberimu susu dan semua keperluan bayi lainnya itu. Kurasa aku akan jadi ibu yang hebat. HAHAHA.”

Dibesarkan dengan saudara kandung sebanyak itu di bawah satu atap membuat suasana rumah tidak pernah membosankan. Selain itu, hampir selalu ada orang untuk diajak bermain. Saya ingat bagaimana dulu saya sering menghabiskan akhir pekan dengan adik laki-laki saya—orang kepercayaan sekaligus teman sepermainan saya yang istimewa. Kami naik kardus menuruni tangga, berkemah dalam tenda dari selimut dan bermain pura-pura saat melompati sofa demi sofa supaya tidak jatuh ke dalam lava panas di lantai ruang tamu.

Karena jumlah kami begitu banyak, berkumpul menghadapi permainan papan (board game) menjadi kegiatan favorit di waktu senggang bagi keluarga Maghfur—rak permainan di rumah kami memuat hampir seluruh permainan papan populer yang pernah ada. Monopoli, Scrabble, Cluedo, Risk—sebut saja namanya, kami pasti memilikinya. Kami bukan keluarga yang paling berisik, tetapi begitu malam permainan tiba dan ada lebih dari tiga orang yang memainkannya, Anda mungkin akan mendengar teriakan girang kami dari ruangan sebelah!

Sudah menjadi fakta kehidupan bahwa sebagai anggota keluarga besar yang tinggal di rumah keluarga biasanya juga berarti Anda bakal sering berbagi barang dengan para saudara kandung Anda. Dan jika berkenaan dengan berbagi barang, pada akhirnya Anda akan belajar bagaimana sedikit bersabar di usia dini.

Baju dan mainan diturunkan dari kakak ke adik sampai lusuh atau rusak. Kamar dan tempat tidur biasanya ditempati lebih dari satu orang. Pada saat itu, kami bergantian menggunakan satu-satunya konsol permainan yang kami miliki. Sementara itu, antrian panjang ke kamar mandi sudah dianggap lazim. Lebih dari separuh baju di lemari pakaian saya adalah lungsuran dari ibu dan kakak-kakak perempuan saya. Beberapa baju sehari-hari saya dulunya kepunyaan para abang saya. Saya tidak punya kamar sendiri sampai berumur 16 tahun.

Tetapi anehnya, setelah beberapa lama Anda akan terbiasa dengan kenyamanan berada di sekitar banyak orang 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu di sekeliling Anda (dan yang menerobos ruang pribadi Anda). Sebagai contoh, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk merasa uring-uringan dengan malam-malam tenang nan sunyi yang saya peroleh karena memiliki kamar sendiri. Saya juga rindu untuk kembali merasakan keakraban dari berbagi kamar dengan manusia lain. Bahkan sampai hari ini, sudah biasa bagi kami untuk mencoba memuat tiga orang dewasa di atas satu tempat tidur!

Sambil menceritakan kecelakaan yang terjadi selama masa kecil kami, Ibu menegaskan bahwa membesarkan delapan anak bukanlah pekerjaan mudah.

“Tidak ada orangtua yang sepenuhnya siap lahir dan batin saat membesarkan anak-anak yang masih kecil. Ibu sendiri merasa seperti mau pingsan mengurus banyak bayi, dan tugas rumah tangga seperti tidak ada habisnya. Ibu akan menghasilkan uang jutaan jika mampu menjual formula atau resep membesarkan delapan anak yang istimewa dalam keluarga yang hebat.”

Sumber daya orangtua dan finansial yang ada (dalam bentuk kasih sayang dan perhatian) harus dibagi antara saudara kandung. Jadi, adalah keniscayaan bahwa kakak-kakak saya harus membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, memasak dan membesarkan saya dan adik saya.

Meski demikian, kakak perempuan saya mengatakan, “Hal itu juga menjadikan kita mandiri sebab kita selalu mengandalkan diri sendiri dan satu sama lain untuk menyelesaikan berbagai tugas, membeli sesuatu, membuat susu atau memasak mi goreng. Kurasa bukan hanya Ibu dan Abah yang membesarkan kita; kita saling membesarkan satu sama lain.”

Sejujurnya, meski banyak suka dan duka, tidak ada satu hal pun yang akan saya ubah dari ukuran keluarga saya atau cara saya dibesarkan. Konon, persaudaraan adalah hubungan paling lama dan salah satu hubungan paling berpengaruh yang dimiliki kebanyakan orang selama mereka hidup. Dan saya mencintai eratnya ikatan keluarga yang saya bagi dengan keluarga saya.

Selalu ada lebih dari satu orang yang dapat diandalkan apabila saya bersedih, dan saya dapat meminta bantuan tidak hanya dari orangtua, tetapi juga dari salah satu—atau semuanya—dari tujuh saudara saya.

Leave a Reply
<Modest Style