Modest Style

Tujuh Meninggal karena Kurangnya Pasokan di Damaskus dan Sekitarnya

,
Gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Arab Syria (SANA) resmi pada 4 Februari 2014, diduga memperlihatkan penghuni kamp pengungsian Yarmuk Palestina di wilayah pengepungan Syria di selatan Damaskus, menantikan paket makanan dari Badan Bantuan dan Pembangunan PBB (UNRWA). Hari keenam PBB membagikan makanan di kamp pengungsian Yarmuk Palestina dalam upaya membantu puluhan ribu warga sipil yang terperangkap. AFP Photo / HO / SANA
Gambar yang dirilis oleh Kantor Berita Arab Syria (SANA) resmi pada 4 Februari 2014, diduga memperlihatkan penghuni kamp pengungsian Yarmuk Palestina di wilayah pengepungan Syria di selatan Damaskus, menantikan paket makanan dari Badan Bantuan dan Pembangunan PBB (UNRWA). Hari keenam PBB membagikan makanan di kamp pengungsian Yarmuk Palestina dalam upaya membantu puluhan ribu warga sipil yang terperangkap. AFP Photo / HO / SANA

BEIRUT, 18 Februari 2014 – Setidaknya tujuh warga sipil meninggal dalam dua hari karena kelaparan dan minimnya pelayanan kesehatan di wilayah pengepungan di ibu kota Syria, Damaskus, dan sekitarnya, sebut sebuah kelompok pemantau di hari Selasa.

Pengamatan Hak Azasi Manusia Syria mengatakan sumber medis melaporkan tiga kematian di kamp pengungsian Yarmuk Palestina di selatan Damaskus dan empat lainnya di timur desa Ghouta antara Senin dan Selasa.

“Dua lelaki, salah satunya orang tua, dan seorang perempuan muda meninggal hari Senin setelah mengalami penurunan kesehatan sebagai hasil dari kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan di Yarmuk,” sebut kelompok bermarkas di Inggris tersebut, yang bergantung pada jaringan aktivis dan sumber lain di dalam Syria.

Kamp tersebut, sebuah wilayah pemukiman yang dulunya rumah bagi sekitar 150,000 warga Palestina juga Syria, berada dalam pengepungan ketat pasukan selama tujuh bulan.

Pembatasan yang dilakukan telah mengakibatkan kematian lebih dari 100 orang di pengungsian yang telah mengalami kehancuran di banyak bagian karena pertempuran yang terjadi antara tentara rezim dan oposisi.

Badan PBB untuk pengungsi Palestina UNRWA mulai membagikan bantuan ke kamp di pertengahan Januari, namun operasi dihentikan sementara pada 8 Februari setelah terjadinya pertempuran.

Pada hari Minggu, seorang pejabat Palestina menyebutkan bahwa seluruh penembak non-Palestina telah meninggalkan kamp, namun UNRWA menyatakan  pihaknya belum diberikan izin untuk melanjutkan operasi.

Pada Senin malam, UNRWA menekan semua pihak untuk memberikan akses kembali.

“UNRWA meminta dengan sangat kepada semua pihak untuk memberikan prioritas utama untuk menangani kelaparan, malnutrisi, dan penderitaan warga sipil di dalam Yarmuk,” juru bicara UNRWA menyampaikan.

“Pihak berwenang dan orang-orang yang peduli dapat melakukan hal ini dengan memberikan UNRWA akses kemanusiaan tidak terbatas, tidak terputus dan besar.”

Sementara di timur Ghouta, Pengamatan menyatakan seorang anak perempuan, seorang perempuan, dan seorang lelaki telah meninggal pada hari Senin sementara seorang lelaki lagi meninggal pada Selasa akibat kekurangan pasokan makanan dan obat-obatan.

Kubu oposisi menjadi target serangan senjata kimia yang diyakini telah menewaskan ratusan orang bulan Agustus lalu.

Serangan tersebut mendesak Amerika Serikat untuk mengeluarkan ancaman aksi militer yang dapat dicegah bila Syria setuju menyerahkan persenjataan kimianya untuk dihancurkan.

Direktur Pengamatan Rami Abdel Rahman menyebutkan sejumlah bantuan telah memasuki timur Ghouta, namun tidak cukup untuk mengangkat penderitaan manusia yang telah meluas.

“Ada sebagian orang yang tidak dapat melakukan perlawanan, dan orang-orang bertumbangan karena kurangnya makanan dan pelayanan kesehatan. Ini adalah bentuk nyata kejahatan perang,” sebutnya.

Tentara Syria telah menggunakan strategi pengepungan dalam melawan sejumlah kubu pemberontak, termasuk di pusat kota Homs.

Hampir setengah dari 3.000 orang yang diperkirakan terjebak di dalam Kota Tua Homs berhasil dievakuasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Bulan Sabit Merah pekan lalu dan bantuan diperbolehkan masuk sementara pihak-pihak yang berperang mengadakan gentacan senjata setempat sementara.

Namun operasi dihentikan akhir pekan lalu dan belum dimulai kembali hingga sekarang.

Gubernur Homs Talal Barazi menyampaikan ke AFP pada hari Selasa bahwa operasi kemanusiaan “dapat dimulai kembali pekan depan” sambil menambahkan bahwa gencatan senjata yang berlangsung selama masa pemberian bantuan “kemungkinan diperpanjang.”

Ia menyalahkan “para lelaki bersenjata di dalam (kota) yang menghalangi orang pergi” atas terhentinya pemberian bantuan.

Belum ada konfirmasi atas pernyataan tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style