Modest Style

Terjun ke Media

,

Jika kita ingin melihat penuturan yang lebih representatif mengenai umat muslim di media, maka kita perlu menjadi pelakunya, tulis Mariam Sobh.

Tersedia banyak ruang untuk suara-suara baru di industri ini (Gambar: SXC)
Tersedia banyak ruang untuk suara-suara baru di industri ini (Gambar: SXC)

Sesekali  kita mendengar kabar tentang seorang muslimah yang dahulu mantan seorang model, atau aktris yang kini mengenakan hijab dan meninggalkan dunia panggung hiburan. Di saat yang lain, kita mendengar tentang seorang mantan model atau aktris yang beralih keyakinan kepada Islam. Para perempuan ini seakan dipamerkan dan dipromosikan sebagai contoh hebat bagi remaja muslimah. Seringkali, pada akhirnya mereka tampil di seminar-seminar Islami dan seolah menjadi “cendekia instan” dalam semalam.

Anda menginginkan menjadi aktris? Dengar apa yang disampaikan mantan Miss (masukkan nama negara), maka ia akan bercerita kepada Anda betapa buruknya industri tersebut; kini ia terselamatkan dan bebas dari dunia yang dipenuhi simulasi tindak seks dan pesta pora.

Jika Anda menyebutkan keinginan Anda menjadi seorang penyanyi atau model, Anda akan mendapat khotbah lain tentang bagaimana dunia tersebut dipenuhi oleh bayang-bayang kejahatan. “Dengarkan perkataan perempuan yang telah meninggalkan industri ini, ia berujar bahwa akhirnya ia berhasil meninggalkannya dengan beralih keyakinan”.

Ada sedikit kebenaran dalam pernyataan bahwa industri hiburan bisa cukup sulit bagi mereka yang berpegang pada identitas agama. Meski demikian, ini adalah industri di mana saya sendiri secara personal percaya bahwa kita betul-betul perlu mengambil bagian ketimbang hanya menonton di pinggiran.

Dari perspektif saya, dalam beberapa dekade belakangan di AS, terjadi kepanikan yang tertanam di benak kita perihal melibatkan diri dengan “non-muslim”, yang tak menghasilkan apa pun kecuali hanya mengasingkan kita dari komunitas arus-utama.

Kita diajari mitos dan legenda tentang dunia hiburan. Kesemuanya terfokus pada aspek negatif yang dimilikinya seperti penyalahgunaan obat, seks bebas, dan intinya segala bentuk perilaku non-Islami yang bisa mengancam identitas kita sebagai umat muslim.

Dan meski selalu ada secuil kebenaran dalam mitos, namun tak berarti bahwa setiap orang dalam industri terbukti korup dan amoral. Jika seseorang memiliki kepercayaan agama yang kuat, maka saya pikir mereka tidak akan sepenuhnya meninggalkan kepercayaan itu begitu saja, hanya karena mereka telah menjadi seorang aktris atau penyanyi.

Bagian yang paling membingungkan adalah bahwa masyarakat muslim yang menentang adanya keterlibatan bentuk apa pun dalam seni justru aktif mengonsumsi media yang mereka katakan tak akan diambil sebagai bidang karier. Orang-orang membeli CD Britney Spears dan menonton film yang dibintangi Tom Cruise atau Kate Winslet, dan masih saja menganggap tidak layak bagi umat muslim, terutama kaum muslimah, untuk bercita-cita memiliki karier sebagai bintang film.

Meski demikian, kini keadaan mulai berubah, dan kita bisa melihat lebih banyak dan lebih banyak lagi orang-orang memilih jalur kariernya di bidang seni. Ada lebih banyak umat muslim yang memasuki dunia film dan program-program jurnalisme, namun kita melihat masih segelintir orang yang memilih rintisan karier sebagai aktor, penyanyi atau penulis.

Opini pribadi saya adalah jika kita menginginkan hiburan yang lebih berkualitas atau lebih bernas, maka kita perlu untuk terjun terlibat di dalam industrinya guna mengikuti standar-standar tersebut dan berhenti mengeluh serta memandangnya dengan stereotip.

Saya menyadari bahwa negara-negara lain telah menyaksikan keterlibatan umat muslim dalam dunia seni dan hiburan di sepanjang sejarah perkembangannya, namun di AS kita masih sedang mengukir identitas kita– dan kadangkala diperlukan serentetan uji coba.

Sementara para keluarga imigran yang datang ke AS, 40 tahun silam atau lebih mungkin menginginkan karier yang lebih stabil bagi keturunan mereka di bidang sains, masa-masa itu hampir berlalu. Kini cucu-cucu mereka telah belajar bahwa cara lain untuk menjadi bagian dari masyarakat dan untuk memberikan pengaruh positif terhadapnya adalah dengan menciptakan film dan musik sebagai sarana penyebar pesan positif dan berbagi kisah sejati dengan orang lain.

Tak seorang pun akan berubah atau menimbang dalam semalam “Wow mungkin seharusnya kita punya karakter muslim dalam sitkom kita,” namun jika lebih banyak umat muslim yang dengan aktif menghasilkan naskah film serta berani tampil dan menjadi bagian dari kerangka besarnya alih-alih berlari menghindar, mungkin kita akan punya lebih banyak kesempatan untuk kita sendiri dan juga orang lain yang ingin mendengarkan kisah-kisah kita.

Leave a Reply
<Modest Style