Modest Style

Terhubung dengan Tuhan Melalui Seni

,

Meaghan Seymour berbincang dengan Laurelie Rae, seniman visual Kanada dan juga seorang mualaf, yang menemukan panggilannya dalam melukis dan menggambar.

[Not a valid template]

Laurelie Rae adalah seniman visual kreatif di balik Veda Sultanfuss Art, sebuah merek yang memberikan penafsiran penuh warna dari desain dan arsitektur Islam tradisional. Dikerjakan di Montreal, Kanada, karyanya berfokus pada ubin ikon-ikon terkenal di seluruh dunia muslim dan cetakan bertekstur yang membentuk permukaan masjid dan tempat-tempat suci lainnya dari Jalur Sutra ke Andalusia. Melalui sketsa dan teknik cat air, ia memberikan kehidupan baru yang mudah diakses kepada sebuah bentuk seni yang telah dipraktikkan pada batu selama berabad-abad

Misinya? Untuk membawa seni ke rumah-rumah umat Islam, dan untuk menginspirasi dan melibatkan khalayaknya dan masyarakat dalam dialog antaragama.

Karya seninya baru-baru ini tiba-tiba memperoleh banyak pengakuan dan eksposur, baik di dalam maupun di luar lingkup Islam. Namun sebagai seorang mualaf, masuk Islam sebagai seniman memberikan sedikit perjuangan pribadi bagi Rae, yang dihadapkan pada sikap negatif orang-orang di komunitas barunya, beberapa orang bahkan secara blak-blakan mengatakan kepadanya bahwa seni itu haram. Dengan kenegatifan semacam ini dari rekan-rekannya, ditambah dengan frustrasi pribadi yang tidak pernah menemukan media yang membangkitkan inspirasinya, dia memohon kepada Tuhan untuk meridhai jalur kreatif yang dia kejar.

Petunjuk yang dia cari datang segera. Tak lama kemudian, dia diperkenalkan ke bidang baru, arsitektur Islam. Dengan memperhatikan lebih dekat desain dan ubin di masjid yang dia buat sketsanya, aktivitas ini segera membangkitkan kecintaannya pada desain.

Karena petunjuk untuk membuat setiap desain tertentu tidak pernah diwariskan turun-temurun, Rae menciptakan karyanya dalam gaya purist sejati. Dia mempelajari sendiri setiap desain dari awal, dimulai dari desain sederhana sampai sekarang bereksperimen dengan desain yang semakin rumit. Dia tidak menggunakan alat-alat grafis, dan menggubah setiap bagian sepenuhnya dengan tangan, sampai ke perhitungan matematika yang tepat di mana garis harus ditarik pada pola tertentu. Karena nuansa yang tepat sangat penting dalam ubin tradisional, dia menghabiskan berjam-jam mencampur cat air, berupaya meniru nuansa aslinya setepat mungkin.

Sudah pasti ada sisi spiritual dari karya seninya, terutama dalam apa yang dia lukiskan kepada saya sebagai ‘momen Subhanallah

Lucunya, di luar reaksi negatif yang pertama kali ia dapat dari rekan-rekannya, sejarah Islam memiliki koneksi yang sangat kaya dan bermakna bagi seni. Demikian banyak sampai-sampai Rae mengungkapkan kepada saya bahwa setelah lebih dari dua tahun melakukan studi yang terfokus, dia merasa seperti baru saja menemukan permukaannya, dan belum sempat menggali lebih dalam.

Seni berkembang pesat terutama selama era yang disebut sebagai Golden Age of Islam (Zaman Keemasan Islam), periode antara abad ke-8 hingga ke-13. Pada periode ini, kerajaan Islam yang luas menghasilkan banyak sekali inovasi dan penemuan, sedangkan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Eropa relatif dalam stragnasi.

‘Banyak orang berbicara tentang [hilangnya] Golden Age of Islam, namun mereka tak melakukan apa-apa,’ desahnya.

Ketika saya bertanya bagaimana menurut dia kita bisa memulihkan jejak kita, dia menjawab, ‘Orang-orang lupa bahwa dalam agama ada spiritualitas,’ maka mereka pun ‘kehilangan koneksi ke Pencipta mereka, dan kehilangan gairah tertentu karena mereka tak memiliki koneksi atau pemahaman atas kesabaran.’

Sudah pasti ada sisi spiritual dari karya seninya, terutama dalam apa yang dia lukiskan kepada saya sebagai ‘momen Subhanallah‘. Dalam sekilas proses pembuatan desain ini, keindahan desain dan ubin Islam terungkap, ketika pola garis-garis yang teliti dan saling berpotongan itu secara perlahan menampilkan desain geometris yang rumit.

Ini mungkin alasan mengapa dia merasa bahwa dia tidak menciptakan karyanya. Sebagai seorang seniman, bahkan sebelum memeluk Islam, ia selalu percaya bahwa kreativitas tidak datang dari dalam diri seseorang.

Rae memahami ‘penciptaan’ sebagai salah satu atribut ilahiah Tuhan. ‘Mencipta adalah atribut yang dapat kita miliki, atribut yang bekerja melalui saya.’ Untuk menegaskan pernyataan ini, dia memberi saya banyak contoh karya yang dia singkirkan dalam prosesnya, hanya karena merasa dirinya terlalu terlibat dalam desain, dan bukannya membiarkan pengalaman kreatif menguasai dirinya.

Untuk seniman yang berfokus pada iman yang berharap dapat memancing dialog antaragama, kota Montreal adalah tempat yang ideal untuk melakukannya. Dengan lingkungan yang dihiasi gereja-gereja indah, rumah bagi situs suci Baha’i, tempat Hari Krishna secara terbuka menyanyikan lagu-lagu pemujaan di jalan-jalan, dan dengan sejarah Yahudi yang membuat toko-toko roti bagelnya terkenal di dunia, ada banyak keinginan dan keterbukaan untuk berbicara tentang iman.

Hal ini terutama relevan di tengah-tengah diskusi pemerintah mengenai RUU kontroversial yang bertujuan melarang menampilkan agama di publik, [i] yang membuat semua orang – religius maupun tidak – meradang.

‘Teruslah melakukan apa yang Anda lakukan’

Rae menemukan bahwa pekerjaan pertamanya dalam arsitektur Islam menimbulkan tanggapan positif dan keterbukaan untuk dialog yang ia harapkan. Dengan mempersembahkan seninya ke masyarakat luas, dia merasa kini dia mampu untuk mengemukakan apa yang ia ingin katakan selama ini.

‘Yang saya harapkan adalah karya seni saya bisa menjadi pengingat dari kesederhanaan Islam, karena itulah alasannya saya menjadi muslim.’

Untuk saat ini, selain bekerja atas dasar pesanan, Rae sibuk mengajar kursus seni dan lokakarya di pusat-pusat masyarakat dan universitas setempat. Proyek-proyek mendatang termasuk kesempatan untuk merancang interior beberapa ruang shalat warga Kanada, yang ia pandang sebagai kesempatan berharga untuk berbicara tentang representasi yang adil bagi perempuan dan ruang perempuan dalam masjid.

Karena mengetahui bahwa terlalu sedikit umat Islam dalam bidang seni, dia memberikan nasihat ini bagi umat Islam yang ingin mengejar cita-cita kreatif mereka:

‘Teruslah melakukan apa yang Anda lakukan’

—————-

[i] ‘Marois yakin Quebec akan mendukung piagam sekuler yang kontroversial’, The Globe dan Mail, bisa dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style