Modest Style

Tentang Meminta Maaf

,

Maaf. Kata yang terdiri dari empat huruf ini adakalanya begitu berat untuk kita ucapkan, tulis Meaghan Seymour.

Foto: SXC
Foto: SXC

Kau menulis tentang apa?’ seru suami dari belakang saya dengan nada suara geli dan sarkastik.

Dia benar. Saya memang kesulitan meminta maaf.  Saya mungkin cepat dalam menuntut permintaan maaf jika merasa berhak memperolehnya. Namun keempat huruf itu kerap menyangkut di tenggorokan, membebani lidah dan menolak meluncur dari mulut saya. Barangkali itulah kenapa saya harus menggunakan kesempatan penuh berkah pada Ramadhan ini untuk berjuang mengubah sifat yang satu ini.

Mungkin Anda pikir Anda telah mengatakan maaf berkali-kali sepanjang hari, dan Anda bisa jadi benar. Ada kalanya meminta maaf mudah dilakukan: ketika kita tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang di supermarket, atau saat menghubungi nomor telepon yang keliru dan malah mengganggu kedamaian malam seseorang di rumah. Tetapi kedua kasus itu hanya perjumpaan singkat dengan orang yang kemungkinan tidak kita kenal dan boleh jadi tidak akan pernah bertemu lagi.

Beberapa kejadian itu bukanlah contoh hubungan di mana kita paling perlu meminta maaf, bahkan jika kita pikir hubungan tersebut sudah sangat harmonis. Perasaan ini sering kita rasakan kepada saudara kandung, pasangan, atau sahabat. Kita sepertinya takut jenis maaf yang ini dapat membuat hubungan kembali tegang, tak peduli seberapa terlambatnya permintaan maaf tersebut. Saya sendiri menganggap maaf tidak memiliki tanggal kedaluwarsa.

Kita terbilang hebat dalam memikirkan alasan kreatif demi membenarkan segala tindakan. Kita pun selalu bisa menyimpulkan bahwa, berdasarkan alasan apa pun, keadaan sekitar menunjukkan bahwa itu sama sekali bukan akibat kesalahan apa pun yang kita lakukan atau kita ucapkan. Mungkin karena kita malu terhadap tindakan kita dan berharap dapat melupakannya serta melanjutkan hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Atau barangkali, egolah yang menghalangi kemampuan kita dalam menunjukkan kerendahan hati serta menerima bahwa kita hanya manusia dan oleh sebab itu dilahirkan untuk senantiasa berbuat salah.

Padahal, Allah meminta umatnya untuk bersikap rendah hati. Inilah sifat yang mesti kita wujudkan, tak hanya ketika menghadap Allah saat berdoa, tapi dalam semua aspek kehidupan sehari-hari. Perangai inilah yang tidak hanya mesti kita miliki saat berdialog dengan Yang Mahakuasa, tapi juga saat berinteraksi dengan semua makhluk-Nya.

Memperlihatkan sedikit kerendahan hati terhadap sesama artinya tidak memedulikan gengsi dan tidak segan mengakui sesungguhnya kita salah dalam tindakan maupun perbuatan.

Karena Yang Maha Pengampun (Al Ghafuur) adalah salah satu dari nama-nama indah Allah, mestinya ada keindahan dalam meminta pengampunan tidak hanya dari-Nya, tapi dari umat-Nya. Memelihara dendam, kebencian atau segala perasaan negatif lain di dalam hati bisa menyebabkan stres dan merusak tubuh.

Dengan mengucapkan maaf secara tulus kepada seseorang, kemungkinan besar Anda telah meringankan bebannya. Barangkali perasaan Anda bahkan jauh lebih ringan! Selain itu, Anda memberi mereka kesempatan mendapatkan pahala besar dengan memaafkan Anda. Jadi apa lagi yang kita tunggu?

Ramadhan ini, mungkin kita bisa menambahkan tindakan ‘meminta maaf’ dengan tulus ke daftar tujuan spiritual. Dengan niat mulia di hati, kita barangkali dapat mengatasi hambatan antara diri sendiri dan empat huruf yang sulit diucapkan itu, selamanya.

Leave a Reply
<Modest Style