Modest Style

Tekanan sosial memaksa perempuan Tunisia memalsukan keperawanan

,
Semakin banyak perempuan Tunisia memilih operasi untuk meyakinkan calon suami atas keperawanan mereka. AFP Photo / Fethi Belaid
Semakin banyak perempuan Tunisia memilih operasi untuk meyakinkan calon suami atas keperawanan mereka. AFP Photo / Fethi Belaid

Oleh Kaouther Larbi

TUNISIA, 8 April 2014 (AFP) – Hal ini terjadi setiap April sebelum musim pernikahan musim panas, ujar ginekolog Tunisia Faouzi Hajri – calon pengantin perempuan yang putus asa memohon prosedur operasi yang membuat mereka kembali menjadi “perawan” untuk malam pengantin.

Ketakutan atas penolakan sebagai perempuan “bekas” di negara Muslim konservatif di mana hubungan seksual sebelum menikah sebenarnya umum terjadi, membuat semakin banyak perempuan Tunisia memilih jenis operasi yang ditawarkan dokter Hajri tersebut. Namun hal tersebut tidak menghentikan kekecewaan mereka atas perlunya menyakinkan calon suami atas kesucian mereka.

“Kehormatan seorang perempuan tidak seharusnya ditentukan oleh beberapa tetes darah,” ujar Salima, perempuan berusia 32 tahun yang mengakui pernah melakukan operasi tersebut agar “kehormatannya” tidak dipertanyakan di malam pengantinnya.

Mudah bagi perempuan merekonstruksi selaput dara mereka melalui operasi di Tunisia. Operasi rumah sakit rutin ini memerlukan sekira 30 menit dan menghabiskan biaya hingga 700 euro (Rp 11,2 juta). Versi yang lebih tidak permanen harus dilakukan sepekan menuju pernikahan, saat jahitannya masih bertahan.

“Jumlah perempuan yang melakukan hymenoplasty atau hymenorrhaphy (sebagaimana operasi ini disebut) meningkat pesat di tahun-tahun belakangan,” ujar Moncef Kamel, seorang dokter di selatan pulau Djerba.

Para perempuan yang ia operasi – sekira 100 setiap tahun, berusia antara 18 dan 45 tahun – datang dengan wajah tertutup selendang dan kacamata, “memiliki kehidupan seksual yang normal dan aktif”, dan umumnya berasal dari latar belakang kelas pekerja.

“Hal ini merupakan bahasan yang tabu, yang menjelaskan minimnya statistik resmi,” ujar dokter Hajri, sekaligus menambahkan bahwa ia mengoperasi sekira 100 perempuan setiap tahunnya, termasuk yang datang dari negara tetangga Libya dan Aljazair.

Progresif

Sejak 1950an, Tunisia telah dianggap sebagai negara paling progresif di dunia Arab terkait hak azasi perempuan, dan para politisi telah mencantumkan kesetaraan jender dalam konstitusi baru yang diberlakukan sejak Januari. Perubahan demografi telah menciptakan kebebasan pribadi, dengan semakin maraknya hubungan seksual di luar pernikahan dan semakin banyak orang menunda menikah. Namun sikap konservatif tetap bertahan, dan bagi banyak lelaki Tunisia menikahi seorang perawan tetaplah yang terpenting, yang menyebabkan meningkatnya permintaan atas perbaikan selaput dara.

Bagi Tarek Belhadj Mohamed, seorang sosiolog, sikap lelaki seperti itu mencerminkan “kemunafikan” masyarakat Tunisia, yang dikatakannya menolak menerima perubahan tingkah laku sebagian besar penduduk.

Penelitian oleh psikoanalis Nedra Samil menunjukkan bahwa hanya 5 persen perempuan muda Tunisia yang tidak mengkhawatirkan hilangkan keperawanan sebelum pernikahan, sedangkan lebih dari 75 persennya yang tampak perawan di malam pengantinnya telah melakukan operasi.

“Gaya hidup Tunisia tampak modern dan terbuka, namun kenyataannya berbeda: Masyarakat kita dan bahkan pejabat kita secara teori bersikap toleran terhadap keperawanan, namun saat hal tersebut berkaitan dengan mereka secara pribadi, keperawanan menjadi syarat utama dalam pernikahan,” ujar Belhadj Mohamed.

“Keperawanan menjamin keabsahan seorang perempuan dalam masyarakat kita di mana fungsi utama mereka hanyalah yang berkaitan dengan kebutuhan seksual dan reproduksi, sementara lelaki harus “berlatih” agar menjadi dewasa secara seksual saat menikah.”

Ia menyebut operasi selaput dara sebagai salah satu bentuk “diskriminasi terhadap perempuan”.

Salima mengamini, karena meski memutuskan untuk menjalani operasi sendiri, ia terpaksa melakukannya karena “kemunafikan para lelaki dan negaranya”. Suatu hari, ia memutuskan akan bersikap jujur terhadap kekasihnya, yang belum ia tiduri, dan mengakui bahwa ia bukan perawan.

“Namun segera setelah ia tahu, ia menolak menikah dan melakukan segala yang ia bisa untuk meniduri saya. Itulah cara pikir lelaki Tunisia. Seorang perempuan yang telah melakukan hubungan seksual di luar penikahan hanya seorang pelacur dan tidak dapat menjadi ibu yang baik!”

Perempuan muda lainnya, Sabra, meyakini bahwa perempuan yang tidak terikat dalam pernikahan seharusnya memiliki hak memiliki kehidupan seksual seperti halnya lelaki, dan bahwa keperawanan bukanlah jaminan kesetiaan. Namun perempuan berusia 27 tahun tersebut juga memilih berbohong dan menyerah pada tekanan sosial, daripada beresiko melajang.

“Jika saya mengatakan pada suami bahwa pada waktu itu saya bukanlah seorang perawan, ia tidak akan pernah mau menikahi saya. Dan begitu juga dengan banyak perempuan di Tunisia.”

Leave a Reply
<Modest Style