Modest Style

Surat Terbuka untuk Hijabi Non-Muslim Amerika

,

Meaghan Seymour menanggapi komentar-komentar seputar wanita berhijab.

Image: Photl
Image: Photl

Dear Amanda,

Saya baru-baru ini menemukan artikel Anda yang menuturkan perjalanan Anda dalam menjadi seorang perempuan non-muslim berhijab. Saya senang membaca cerita unik yang Anda bagi dengan pembaca. Cerita itu mewakili wanita modern yang tidak enggan melakukan hal yang sungguh-sungguh dia yakini, walaupun itu bertentangan dengan harapan umum dan norma-norma sosial yang diharapkan darinya. Itu hal yang benar-benar terpuji!

Tapi setelah mengikuti cerita Anda, yang diambil dan disebarkan ke berbagai halaman komunitas muslim, saya merasa perlu meminta maaf sebagai seorang muslim atas beberapa reaksi umat Islam terhadap Anda dan tulisan Anda. Cara cerita Anda diinterpretasikan, disebarkan, dan dikomentari seringkali tampaknya tak menghormati Anda sebagai sosok wanita yang Anda harapkan, serta alasan semula ketika Anda ingin berbagi cerita dengan kami.

Pertama-tama, saya meminta maaf atas nama sekian banyak orang yang mengeksploitasi perjalanan pribadi Anda sebagai sarana untuk menghujat dan mencerca perempuan muslim yang, karena berbagai alasan valid, memilih untuk tidak menutupi rambut mereka. Ambil yang satu ini misalnya:

Aneh bagaimana seorang kafir melakukan ini sementara sebagian wanita yang mengaku muslim menyangkal keras kewajiban berhijab ini.

Saya pikir komentar macam ini benar-benar meluputkan inti cerita Anda: perjalanan seorang perempuan memilih berpakaian dengan cara tertentu, tidak untuk memuaskan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Saya tidak mendapatkan kesan dari perkataan Anda bahwa Anda pernah berniat berkolaborasi dalam menghujat non-hijabi. Anda juga tak ingin menjadi contoh dalam pernyataan yang menyiratkan bahwa jutaan wanita muslim taat tanpa hijab hanya… ‘mengaku’ sebagai seorang muslim.

Saya juga menduga bahwa ketika Anda melarikan diri dari tekanan standar budaya dan sosial tertentu yang mengatur bagaimana seorang wanita harus berpakaian atau terlihat, Anda tidak ingin foto-foto Anda diambil dan dipamerkan oleh pengguna Internet yang sinis dan pemaksa. Atau lebih buruk lagi, bahwa Anda ingin cerita Anda digunakan sebagai alat pembenaran dari ‘kewajiban’ kaum pria yang sok membatasi hak intelektual pemberian Tuhan untuk kaum wanita dalam memutuskan sendiri cara mereka berpakaian. (Dengan kata lain, alasan yang sama yang Anda gunakan saat memutuskan untuk berhijab.)

Dan, omong-omong, saya sangat menyesal atas sebutan ‘kafir’ yang sungguh tidak pantas pada komentar di atas.

Saya minta maaf atas nama semua orang yang mengambil kesempatan ini untuk memberitahu Anda bahwa sekarang Anda harus mematuhi peraturan orang lain dalam hal berperilaku di muka umum, atau dalam hal kegiatan yang sekarang boleh atau tidak boleh Anda lakukan, berdasarkan pada cara Anda berpakaian. Ini mencampuradukkan hijab dengan purdah: hijab adalah cara berpakaian yang memungkinkan Anda merasa nyaman saat menjalani kehidupan di muka umum, sementara purdah adalah menggunakan tabir dan membatasi kehidupan di muka umum. Bagaimanapun, Anda mengenakan kerudung untuk meraih kebebasan dan kendali atas hidup dan tubuh Anda, bukan untuk mengundang kritik.

Akhirnya, saya minta maaf atas nama kaum pria muslim, yang dengan cepat mengonfirmasi bahwa membalut tubuh wanita dengan kain adalah satu-satunya solusi bagi mata keranjang mereka. Mereka benar-benar mencoreng nama saudara-saudara, ayah, suami, dan teman-teman muslim kami yang sopan santun ketika para oknum ini tampaknya menyangkal bahwa mereka bertanggung jawab atas perilaku yang tidak pantas, atau bahwa mereka memiliki kemauan dan kesopanan untuk mengekangnya. (Atau bahwa mereka bahkan harus memiliki tanggung jawab seperti itu!)

Selain itu, mereka membuat komunitas muslim terdengar seperti segerombolan orang yang tak segan menjadikan wanita sebagai objek dan memelototi wanita yang tidak menutupi rambut mereka, atau apa pun cara berpakaian yang menjadi norma di komunitasnya, dengan dalih ‘perempuan itu sendiri kok yang minta digoda’. Faktanya justru sebaliknya. Nabi menganggap hal-hal seperti itu sebagai zina mata [i] dan mengimbau pria maupun wanita untuk menahan pandangan mereka, bahkan jika seorang wanita itu luar biasa cantik dan ya, ‘tak tertutup’. [ii]

Entah itu hujatan, tekanan sosial, atau tindakan menyalahkan, sikap-sikap itulah yang mempromosikan stereotip dan mitos hijab sebagai penindasan, yang menurut Anda mitos yang tak terbukti setelah interaksi positif Anda dengan para wanita berhijab yang kuat dan berpikiran bebas. Saya berharap mereka tidak memengaruhi pengalaman pribadi yang memuaskan berupa kebebasan dan kemerdekaan yang Anda peroleh karena memakai hijab.

[i] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Muslim, bisa dibaca di sini.

[ii] Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dalam Sunan an-Nasai, bisa dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style