Modest Style

Spiritualitas dalam Perbuatan Sederhana

,

Sahar Deshmukh mengajak kita untuk  menyelami hal-hal yang mendasar dalam agama Islam demi meningkatkan spiritualitas kita.

Foto: SXC
Foto: SXC

Menjelang Ramadan, pikiran yang melintas di benak saya adalah, ‘Bagaimana cara menjadikan bulan yang suci ini lebih bermakna dari tahun lalu?’. Jawabannya mungkin sudah jelas. Lebih banyak membaca Al-Quran, berdoa dengan khusyuk meski perut keroncongan, dan lebih sering beribadah untuk menghapus dosa serta menuai pahala di bulan yang penuh berkah ini.

Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya dalam hati mengenai kewajiban kita sebagai muslim di balik sejumlah ritual tersebut?

Membangun akhlak terpuji

Bagian paling sederhana tapi sangat penting dari agama kita adalah membangun dan mempertahankan akhlak terpuji. Bagaimana orang memandang kita ditentukan oleh cara kita berbicara terhadap sesama, cara kita memperlakukan mereka dan tingkah laku kita. Sikap murah hati, sopan santun, kejujuran dan ketulusan hati merupakan sifat yang meninggikan status kita di masyarakat maupun di mata Allah.

Nabi kita tercinta Muhammad SAW pernah berkata, ‘Tidak ada yang lebih berat pada timbangan di Hari Pembalasan dari akhlak yang mulia.’ [i]

Nabi Muhammad SAW lembut tutur katanya, tidak pernah meninggikan suara dan memperlakukan setiap orang dengan baik.  Jarang kita sadari betapa pentingnya memperlakukan anggota keluarga — berapa pun usia mereka — dengan hati-hati dan penuh perhatian dan bukannya sekedar berpikir, ‘Ah, mereka kan hanya keluarga’.

Al-Quran telah memberikan status tertinggi kepada kedua orangtua, bahkan melarang kita untuk menjawab ‘ah’ kepada mereka (17:23-24). Tapi toh kita masih bersalah karena di satu titik kehidupan kita pernah membantah orangtua — apakah karena mereka menyarankan sesuatu atau membatasi kita demi kebaikan. Meski demikian, bersikap baik kepada orangtua mesti menjadi prioritas kita.

Selain keluarga, kita pun harus ingat untuk menyayangi semua orang di sekitar kita. Berapa banyak dari kita yang bersedia membantu orang lanjut usia menyeberang jalan? Pernahkah kita menjenguk para tetangga untuk memastikan apakah mereka baik-baik saja? Sudah menjadi kewajiban kita sebagai muslim untuk peduli terhadap sesama, baik yang kita kenal maupun orang asing.

Peduli terhadap makhluk hidup

Bersikap lembut dan baik hatilah terhadap semua makhluk hidup, karena kita harus mengasihi semua ciptaan Allah. Apakah itu binatang, tumbuhan maupun planet yang kita huni, kita tidak boleh menzalimi mereka.

Sebagai contoh, saat memutuskan untuk memelihara hewan peliharaan di rumah, pertama-tama kita mesti mempertimbangkan apakah kita punya waktu untuk merawatnya. Saya pernah membeli seekor ikan tapi akuarium yang saya sediakan untuknya terlalu kecil. Saya menyesal mengatakan hal ini, tapi walaupun saya sudah  bermaksud membeli akuarium yang lebih besar, saya terlalu sibuk dengan urusan studi sehingga ikan itu mati di minggu yang sama. Sampai hari ini, saya menyesal karena tidak memedulikan kebutuhannya dan tidak pernah memelihara binatang lagi sejak saat itu.

Saya mungkin masih menyimpan keraguan untuk mempunyai binatang peliharaan lagi, tapi ternyata hal itu ada untungnya juga. Syekh Hamza Yusuf mengatakan adanya hubungan antara kebaikan hati terhadap hewan dan manusia. Menurutnya, ‘di masyarakat kita, anak-anak yang kejam terhadap binatang dan suka menyiksa binatang sewaktu kecil seringnya menjadi orang dewasa yang sadis.’ [ii] Lebih jauh dijelaskannya bahwa semua nabi adalah seorang gembala dan begitulah cara mereka belajar menunjukkan kasih sayang kepada binatang, yang kemudian diterapkan kepada manusia.

Aktivitas sehari-hari

Kita kini hidup di tengah masyarakat konsumtif yang jauh berbeda dari zaman nabi kita Muhammad SAW. Beliau sederhana, begitu juga kebutuhannya, yang tercermin dalam gaya hidupnya. Hari ini, kita sering menyerah pada keinginan untuk memiliki benda materi. Padahal, sepatutnya kita lebih peduli pada cara kita menghadap Allah kelak di hari kiamat.

Saat ini saya cukup puas dengan berkurangnya anggaran yang saya habiskan untuk membeli baju, tapi bila berhubungan dengan kebiasaan makan, saya merasa gagal. Saya masih suka membeli terlalu banyak makanan dan mengudap di antara waktu makan tanpa  benar-benar merasa lapar. Tetapi, Nabi Muhammad SAW tidak hidup untuk makan, melainkan makan untuk hidup. Hidup kita dihabiskan demi makanan dalam jumlah berlebihan, yang pada akhirnya akan meningkatkan daftar panjang pada masalah kesehatan. Di dalam Quran sudah tertulis, ‘Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah tapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.’ (7:31)

Perbuatan-perbuatan sederhana tadi merupakan sumber pahala yang besar bagi Allah. Perangai ini pada gilirannya akan menjadikan kita manusia dan muslim yang lebih baik. Mari kita memikirkan kembali bagaimana menjalani hidup di dalam rumah kita, sebab setiap perbaikan sekecil apa pun akan membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT.

____________________________________________________________________________________________

[i] Diceritakan Abu Ad-Darda dalam Hadis Tirmidzi, bisa dilihat di sini

[ii] Dalam kuliah berjudul ‘Benefits of Tribulations’ (‘Manfaat Penderitaan’), bisa dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style