Modest Style

Seberapa pentingkah membaca Qur’an dalam bahasa Arab?

,

Beberapa orang meyakini kita tidak bisa belajar dengan benar dari Qur’an yang tidak berbahasa Arab. Meaghan Brittini merenungkan usahanya.

1501-WP-Kids-by-Isra-iStock-sm
(Gambar: iStock)

Mayoritas umat Muslim hidup di luar dunia berbahasa Arab. Umat Muslim tersebar di negara-negara mayoritas Muslim di Asia Selatan dan Asia Tenggara, hingga timur jauh seperti Tiongkok dan Rusia, dan mencapai Turki dan Afrika.

Belum lagi para mualaf dari seluruh kebangsaan yang tersebar di seluruh dunia, juga diaspora Muslim generasi kedua dan ketiga yang menyebut Eropa dan Amerika Selatan serta Utara sebagai rumah. Sebanyak itu pulalah jumlah umat Muslim yang tidak menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pertama, bahkan bahasa keduanya – saya termasuk di dalamnya.

Suatu ketika, saya sedang duduk di sebuah masjid, jauh dari rumah pada suatu Ramadhan, menanti tarawih dimulai. Saat sedang memanfaatkan waktu yang ada untuk melanjutkan bacaan Qur’an, bahu saya ditepuk ringan oleh seorang saudari yang duduk di sebelah saya. Ia berbisik, “Kalau Anda tidak membaca Qur’an dalam bahasa Arab, tidak ada artinya.”

Saya tahu mudah baginya mengatakan hal tersebut, karena bahasa Arab adalah bahasa ibunya. Namun saya jadi memikirkan apa yang ia katakan. Saya bisa memahami logikanya, namun saya tidak setuju dengannya mengenai ada tidaknya “nilai” amalan saya. Lagipula, saya, dan banyak orang lainnya, memeluk Islam karena membaca terjemahan teks yang ada. Tentunya, perpindahan agama kami tidak lantas menjadi tidak sah karena didasari oleh terjemahan bahasa Inggris atau bahasa lain dari teks aslinya bukan? Saya juga berpikir Muslim manapun yang tulus membaca Qur’an akan mendapat pahala atas ibadah dan perenungan yang dilakukan.

Stockvault-sm
Gambar: Stockvault

Namun seberapa pentingkah bagi kita untuk membaca Qur’an dalam bahasa aslinya?

Bahasa Arab Qur’an, menurut mereka yang paham, tidak ada tandingannya. “Keajaiban” Qur’an terletak pada ayat-ayatnya, dan klaim keabsahan ilahiahnya diuji dengan menantang masyarakat Arab pecinta sajak untuk menghasilkan sesuatu yang sama dengannya (2:2310:38).

Kesemuanya sudah cukup sebagai pendorong membaca Qur’an dalan bahasa Arab. Di dalam dunia yang ideal, semua orang akan mempelajari bahasa ini. Saya meragukan adanya Muslim yang tidak berbahasa ibu bahasa Arab yang akan menolak membaca dan memahami Qur’an dalam bahasa aslinya.

Namun itu bukan hal yang mudah dan tidak selalu bisa dilakukan, mengingat jam-jam yang dibutuhkan untuk menguasai sebuah bahasa hingga ke tingkat membaca dan memahami – terutama dalam bentuk klasiknya. Bahasa Qur’an itu sulit bahkan bagi pengguna bahasa Arab, katanya.

Saya telah mencoba mengambil kelas bahasa Arab. Saya tidak belajar cukup banyak karena tidak memiliki keluangan waktu maupun sumber daya untuk melakukannya, meski berharap suatu saat bisa kembali mempelajarinya.

Qur’an telah diterjemahkan ke dalam bahasa lokal umat Muslim sejak abad ke-8. Awalnya ia diterjemahkan sebagai kebutuhan, mengingat wilayah Muslim yang semakin tumbuh dan meluas. Kemudian, dengan perselisihan yang makin membesar antara dunia Kristiani dan Muslim, Qur’an diterjemahkan oleh beberapa pihak yang berharap bisa menyebarluaskan apa yang mereka rasa adalah ‘kejahatan Muhammadanisme’. ‘Muhammadanisme’ merupakan sebutan populer kaum Orientalis untuk Islam.

Meski begitu, abad ke-20 dan terutama ke-21 memperkenalkan keragaman baru ke dalam terjemahan yang tersedia. Telah ada terjemahan oleh mualaf dari berbagai kalangan, dan terjemahan berbasis akademis baik oleh cendekiawan Muslim dan non-Muslim. Telah ada terjemahan yang menyusun ulang bab-bab di dalamnya secara kronologis, terjemahan reformis, terjemahan baik ke dalam bahasa Inggris berlirik artistik dan bahasa Inggris yang mudah dipahami, terjemahan oleh kaum wanita yang memberikan sudut pandang netral secara jender, dan bahkan oleh tim suami istri – dan itu hanya sebagian saja di antaranya.

algae
Gambar: PhotoXpress

Namun, berurusan dengan banyaknya terjemahan ini juga bisa jadi menyulitkan. Contoh yang sangat populer dan banyak dikritisi adalah satu terjemahan yang didukung oleh Saudi Arabia di mana komentar penerjemahnya diselipkan menggunakan tanda kurung pada teks. Saat dibaca, komentar penerjemmahnya seakan menjadi bagian dari kalimat Tuhan. Versi yang ini mungkin adalah yang paling banyak tersedia versi bahasa Inggrisnya di Amerika Utara saat ini dan dibagikan secara gratis di masjid-masjid. Saya bahkan diberi satu saat mengucap syahadat di Kanada.

Ada banyak hal yang membuat beberapa terjemahan bermasalah. Ada terjemahan yang membawa kerangka aliran masing-masing ke dalam teksnya, bahkan meski hasilnya tidak terlalu kentara. Beberapa terjemahan mungkin telah dilakukan oleh para penulis dengan latar belakang yang mendalam dalam bahasa Arab, sementara beberapa lainnya mungkin tidak, sehingga sangat berpatokan pada penggunaan kamus atau terjemahan sebelumnya dan bukannya teks aslinya, yang memungkinkan adanya ruang lebih besar untuk menyalahartikan isi Qur’an.

Arthur John Arberry, seorang cendekiawan non-Muslim yang mendalami Islam, yang terjemahannya mendapat pujian baik oleh cendekiawan Muslim dan non-Muslim, menegaskan dalam kata pengantar terjemahannya bahwa Qur’an tidak bisa diterjemahkan – hanya diinterpretasi.

Membaca terjemahannnya tetap bisa, dan bagi saya selalu, jadi kegiatan yang memuaskan, dengan syarat kita selalu ingat bahwa terjemahan (atau interpretasi) bukan mutlak kalimat Tuhan, namun lebih sebagai petunjuk ke arah sana.

Terjemahan berbahasa Inggris dan komentar yang ada di dalamnya memberi saya kesempatan untuk membandingkan ayat-ayat yang ada dan untuk mendapat pemahaman yang lebih luas dari semua tema Qur’an, bahkan jika saya kehilangan kerumitan kata-kata yang menakjubkan yang digunakan di versi asli bahasa Arabnya. Ragam terjemahan juga memperlihatkan bahwa tidak ada satupun klaim monolitis atas agama ini, karena selalu ada ruang untuk logika, perenungan, dam perbedaan pendapat – salah satu keindahan dalam agama Islam.

Tidak peduli terjemahan apa yang kita gunakan, bahasa Arab masih istimewa bagi Muslim karena ia adalah bahasa yang mempersatukan kita di seluruh dunia. Tidak peduli di mana kita tinggal maupun apa bahasa yang kita gunakan, kita semua berdoa dengan cara yang sama. Mungkin jika kita semua berbahasa Arab klasik juga, ikatan antara kita tersebut bisa jadi lebih kuat.

Namun untuk saat ini, saya bisa merasakan tumbuh kembang saya berlangsung saat memusatkan perhatian untuk membaca dengan niat untuk memahami melalui terjemahan, terlebih saat memusatkan perhatian secara total untuk menghafal dan membaca Qur’an dalam bahasa Arab.

Saya meyakini, tentunya upaya ini “bernilai” sesuatu ‘kan?

 

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi Luxe September 2013. Anda bisa membaca keseluruhan edisi secara cuma-cuma di iPad atau iPhone dari Apple Newsstand, ata di tablet Andorid Google Play

Leave a Reply
<Modest Style