Modest Style

Saat saya ke gereja

,

Menghadiri pernikahan seseorang yang berbeda agama merupakan cara menunjukkan penerimaan dan penghormatan. Oleh Lina Lewis.

why i go to church

Saya berusia 21 tahun saat pertama kali menerima undangan pernikahan di gereja. Kolega dan teman saya akan menikahi pujaan hati masa kecilnya, yang ternyata adalah keponakan mantan guru IPA saya. Saya sangat gembira dan mengatakan pada Andre bahwa saya tidak akan melewatkan pernikahannya dengan alasan apapun.

Saat saya mencari tahu siapa lagi yang juga akan menghadiri pernikahan tersebut, saya dibuat bingung karena para kolega Muslim dengan datar mengatakan “tidak”. Mereka menyatakan bahwa kami tidak boleh memasuki gereja – beberapa orang mengaku tidak nyaman sementara lainnya mengkhawatirkan kemurtadan.

“Namun kita hanya akan menyaksikan pernikahan teman saya, itu saja,” bantah saya.

Setelah berhari-hari mendorong agar lebih banyak kolega Muslim untuk menghadiri pernikahan, saya akhirnya menjadi satu-satunya Muslim di gereja tersebut pada Sabtu pagi itu.

Saya memasuki gereja, menyaksikan penyatuan menyentuh dua orang yang saling mencintai, meninggalkan gereja dengan keyakinan Islam yang masih terjaga. Tidak ada petir yang menyambar saya, tidak pula saya merasakan dorongan untuk berpindah agama menjadi Kristiani. Singkatnya, kekhawatiran orang-orang yang menghindari penikahan gereja tersebut tidak terbukti.

Dua tante saya, yang merupakan guru di sekolah Islam, menyatakan tidak ada salahnya menghadiri pernikahan tersebut. Sebaliknya, mereka cukup mendukung.

“Jangan jadi katak dalam tempurung,” ujar salah satu dari mereka.

“Apa yang harus saya lakukan saat para tamu berdiri untuk bernyanyi dan berdoa?” tanya saya.

“Kau boleh saja tetap duduk jika mau. Atau berdiri saja bersama dengan tamu lain untuk menunjukkan penghormatan. Saat orang dari agama lain mengunjungi masjid, kita tentunya ingin mereka menghormati aturan berbusana dan bersikap, bukan?”

Penjelasan yang diberikan terasa masuk akal bagi saya dan saya senang saya tidak mengikuti teman-teman lain. Saya bahagia karena tidak melewatkan pernikahan Andre dan banyak pernikahan lain setelahnya.

Sayangnya, tetap saja ada yang tidak dapat menoleransi agama lain dan bahkan memilih untuk merusak acara membahagiakan milik orang lain.

Hari Minggu lalu, Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) menghentikan pernikahan di dalam sebuah kuil Hindu di Petaling Jaya, Malaysia, dan menahan mempelai wanita.

The Malay Mail melaporkan bahwa Zarena Abdul Majid didaftarkan sebagai Muslim saat lahir oleh sang ayah, namun tidak pernah mempraktekkan Islam karena dibesarkan oleh ibu yang seorang Hindu.

Kepala menteri Selangor Tan Sri Khalid Ibrahim menyebut penyerangan tersebut “memalukan” dan memerintahkan JAIS membantu Zarena untuk mengubah status keagamaannya secara resmi dari Muslim menjadi Hindu.

“Menurut JAIS, kejadian ini bukan sebuah penyerangan. Menurut pers, ini sebuah penyerangan. Menurut kami, ini sebuah kejadian memalukan. Pernikahan seharusnya menjadi sebuah acara yang membahagiakan. Mereka tidak seharusnya mengganggu pernikahan tersebut,” ujar Khalid.

Mantan perdana menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad menegur JAIS atas penyerangan tersebut dan menyatakan bahwa departemen tersebut seharusnya mempelajari Qur’an.

The Malaysian Insider mengutip Mahathir mengatakan: “Insiden semacam ini terjadi karena tidak berpegang pada ajaran Qur’an. Qur’an memberi kita semua panduan untuk menjalani hidup. Itulah mengapa Islam disebut sebagai jalan hidup.”

Saya berharap saudara saudari Muslim tidak akan menolak menghadiri pernikahan orang yang berbeda agama “atas nama Islam” karena diadakan di dalam rumah peribadahan mereka. Agama kita tidak melarang kita menghadiri acara semacam itu.

Dalam menanggapi pertanyaan serupa,[i] seorang mufti Nigeria Syekh Ibrahim Salih Al-Husaini mengutip ayat Qur’an di bawah yang menetapkan bahwa dasar dalam berhubungan dengan non-Muslim adalah toleransi dan penghormatan.

“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (60:8)

Bulan ini, saya mendapat dua undangan pernikahan di gereja dan satu di kuil Hindu. Ya, saya akan menghadiri ketiganya. Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu sejak undangan pernikahan di gereja yang pertama dan ya, keyakinan Islam saya masih terjaga.
________________________________________

[i] ‘Attending church wedding ceremony’, Islamic Science University of Malaysia, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style