Modest Style

Berqurban Dengan Semangat Halal

,

Selagi menganalisis tentang esensi Halal, Jo Arrem mempertanyakan apakah rumah-rumah jagal masa kini masih memegang nilai-nilai Islam tentang belas kasih terhadap hewan.

AFP PHOTO / Mayela LOPEZ
AFP PHOTO / Mayela LOPEZ

Terminologi “halal” dalam kosa kata Arab bermakna “sah” atau “diperbolehkan”, dulu lazim diasosiasikan dengan produk olahan daging dan alkohol. Konsep ini kemudian melahirkan industri halal, yang saat ini meliputi berbagai macam produk mulai dari finansial, kosmetik dan alas kaki sampai kuas dan bahkan barang pecah belah yang dibuat tanpa tulang. Bisa dibilang rentang variasi produk-produk halal ternyata cukup mencengangkan. Industri halal global diperkirakan bernilai lebih dari 2 triliun dolar AS.

Bagaimanapun, fokus terbesar industri halal masih industri daging—baik halal jenis dagingnya maupun cara penyembelihan hewannya. Daging halal saat ini tersedia luas di hampir seluruh bagian dunia, bahkan di mana komunitas muslim menjadi minoritas kecil. Kebanyakan negara memiliki badan pengatur regulasi halal, yang menyertifikasi para penjagal dan restoran yang menyajikan menu daging dari hewan yang disembelih sesuai cara-cara yang ditentukan. Menariknya, metode yang digunakan berbeda di masing-masing negara, sebagian besar karena interpretasi yang berbeda-beda tentang apa asas penyembelihan halal. Secara umum, bagaimanapun, metode halal suatu penyembelihan terdiri dari menyejajarkan kepala hewan yang akan disembelih sesuai arah kiblat, mengucapkan “Bismillah“, dan memutus pembuluh vena jugular (pembuluh vena dari kepala menuju jantung) dan arteri karotid (pembuluh arteri menuju kepala) pada leher hewan sembelihan.

Kita harus mempertanyakan apa yang seharusnya bisa lebih diupayakan untuk memastikan bahwa hewan-hewan sembelihan seminimal mungkin mengalami kesakitan dan penderitaan

Tak diragukan, salah satu tujuan dari penyembelihan halal terletak pada upaya mempertimbangkan perlakuan manusiawi terhadap hewan-hewan tersebut. Gagasan penyembelihan seperti ini menjadi penting di masa awal Islam, mengingat saat itu belum ada metode modern seperti menyetrum hewan hingga pingsan sebelum disembelih. Sebuah ayat dalam Al Qur’an yang menjabarkan batasan perihal makanan, memberikan pemahaman atas pendapat di balik batasan dari metode halal penyembelihan:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, (hewan-hewan) yang tercekik, terpukul ,terjatuh, tertanduk dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih….”

Al Maidah (5:3)

Secara gamblang ayat ini menjelaskan sebuah keinginan untuk menghindari proses kematian yang kejam dan menyakitkan bagi hewan yang dibunuh untuk dijadikan makanan. Dalam semangat mengedepankan niat ketimbang sekadar ritual dalam praktek halal, kita harus mempertanyakan apa yang seharusnya bisa lebih diupayakan untuk memastikan bahwa hewan-hewan sembelihan mengalami seminimal mungkin rasa sakit dan penderitaan.

Teknologi modern telah memberikan tidak hanya keuntungan namun juga penderitaan bagi kehidupan hewan-hewan ini.  Di satu sisi, pertumbuhan pabrikasi pertanian dan semakin berkembangnya metode mekanik dalam pemeliharaan hewan, pemerahan susu dan penyembelihan telah membuat industri ‘berdarah’ ini semakin brutal. Di sisi sebaliknya, mereka yang memanfaatkan teknologi, seperti penyetruman hewan sebelum penyembelihan, banyak dipertimbangkan untuk meminimalkan rasa sakit dan penderitaan.  Ketika rumah-rumah jagal konvensional mendapat pengawasan ketat karena meningkatnya kesadaran masyarakat dan tuntutan hukum yang mengharuskan mereka mengadopsi metode-metode yang lebih manusiawi, banyak rumah jagal yang sudah mendapat sertifikat halal justru tidak mengindahkan pertimbangan agama.

Di negara-negara Eropa seperti Belgia, Perancis, Italia dan Swiss telah melarang hewan disembelih tanpa penyetruman terlebih dahulu. Meski begitu, peraturan ini biasanya tidak diterapkan untuk praktik penyembelihan dalam ritual agama.  Polarisasi yang terus berkembang antara dua metode ini menjadi sumber perselisihan yang semakin merebak. Di Perancis, misalnya, topik tentang daging halal menjadi isu selama pemilihan presiden di awal tahun ini ketika diketahui bahwa surplus daging halal telah dijual kepada distributor-distributor non-halal.  Sebagian anggota masyarakat merasa ditipu ketika mereka telah tanpa sadar mengonsumsi daging halal, dan merasa prihatin bahwa mereka telah ikut andil dalam apa yang mereka anggap sebagai bentuk kekejaman terhadap hewan.

Beberapa bukti-bukti ilmiah terbaru menyarankan tentang menyetrum hewan sebelum disembelih sebagai pilihan cara yang meminimalkan rasa sakit dan trauma. Tapi tidak semua menyetujui. Dewan Muslim Inggris Raya bersikukuh bahwa proses penyetrumanlah, bukan penyembelihan halal, yang menyebabkan rasa sakit pada hewan sembelihan. Para pendukung kubu penyembelihan halal mengatakan bahwa dengan semakin cepat kehilangan darah secara mendadak akan memutus aliran darah ke otak, sehingga tidak sedikit pun hewan akan merasakan kesakitan.

Tuntutan informasi terhadap industri daging halal mestinya juga dilihat dalam kerangka yang sama—yaitu meningkatkan pengetahuan dan memberdayakan masyarakat kita untuk membuat keputusan-keputusan yang sejalan dengan nilai-nilai yang mereka anut

Perdebatan antara cara penyetruman dan penyembelihan halal telah terjadi selama beberapa dekade. Apa pun pendapat kita, debat itu harus dilakukan dalam semangat penuh kesadaran dan saling menghormati. Pertanyaan-pertanyaan seputar makanan yang kita konsumsi ternyata tidak sebatas industri halal. Sejak beberapa dekade lalu terjadi peningkatan kesadaran konsumen terhadap asal makanan dan bagaimana makanan itu diproses. Industri makanan organik, contohnya, telah sangat berkembang disebabkan oleh meningkatnya dorongan publik atas kebutuhan makanan yang lebih aman dan sehat. Tuntutan informasi terhadap industri daging halal mestinya juga dilihat dalam kerangka yang sama—yaitu meningkatkan pengetahuan dan memberdayakan masyarakat dalam memilih sesuatu yang sesuai dengan nilai yang dianut.

Mungkin ada yang cenderung menafsirkan tuntutan informasi ini sebagai bentuk provokasi atau pandangan sempit pemisahan komunitas muslim dan nonmuslim. Jika kita berpandangan seperti itu, maka kita akan kehilangan kesempatan emas menjadi pemimpin dan agen perubahan di bidang yang sangat penting bagi kita semua.

Makanan, identitas dan budaya adalah hal yang kait-mengkait. Daging yang dikonsumsi oleh komunitas muslim membentuk bagian utama dari identitas dan sifat keutamaan muslim yang penting dalam ritual-ritual suci dan kehidupan kita sehari-hari. Mulai dari kekayaan warisan makanan dalam komunitas muslim hingga ke ritual kurban, kebutuhan akan daging adalah bagian vital dari kehidupan umat muslim. Data menunjukkan – misalnya, umat muslim yang hanya 3 persen dari keseluruhan populasi di Inggris, ternyata mengonsumsi 20 persen dari keseluruhan produksi daging domba di sana. Daging, yang dulu dianggap sebagai bentuk kemewahan khusus bagi mereka yang berpunya, sekarang tersedia pada tingkatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Meski sedemikian perut sering menjadi pertimbangan utama dalam urusan makanan, inilah kesempatan untuk bersama-sama merenungkan sejenak bagaimana daging halal diproduksi dan apakah ini semua sejalan dengan semangat kemanusiaan dan etika yang menjadi esensi dari ide tentang makanan halal.

Sebuah kisah dari Rasulullah SAW dalam melaksanakan kurban, dikisahkan oleh Sahih Bukhari dan Muslim:

“Rasulullah SAW melaksanakan kurban dengan cara menyembelih dua kambing putih bertanduk. Rasulullah SAW menyembelih sendiri kambing-kambing itu dan melakukan ini sambil menyertakan Nama Allah (Bismillah), mengucapkan takbir dan meletakkan kakinya di atas leher hewan tersebut.”

Sekarang bandingkan adegan tadi dengan apa yang terjadi di rumah-rumah jagal masa kini. Sebuah gantungan berjalan menggerakkan jajaran hewan-hewan untuk kemudian secara bergilir leher-leher mereka dipotong, diiringi suara doa yang sudah direkam sebelumnya terdengar meraung keras berulang-ulang dari pengeras suara. Tak heran jika kemudian kita kehilangan elemen kemanusiaan dan spiritualitas dalam proses penyembelihan ini.

Kitab suci Al Qur’an dan hadits dipenuhi kisah-kisah indah dan paparan kecintaan yang ditunjukkan Rasulullah SAW terhadap hewan. Perintahnya sudah jelas. Hewan seharusnya diperlakukan dengan penuh rasa hormat, kelembutan dan kasih sayang. Karena kita mendapat keuntungan dari mereka – dengan memakan mereka untuk kelangsungan hidup, menggunakan kulitnya untuk menjaga kita dari kedinginan, dan keuntungan lainnya – selayaknya kita menghargai hidup mereka dan pengorbanan mereka dengan cara terbaik yang kita mampu. Itulah, dalam pandangan saya, sebuah makna sejati dari halal.

Leave a Reply
<Modest Style