Modest Style

Fesyen hijab, keadilan dan keterjangkauan

,

Ketika fesyen hijab memberi jalan bagi perempuan Muslim muda untuk menggabungkan iman dengan gaya, faktor ekonomi dan keadilan sosial juga harus dipertimbangkan. Shireen Ahmed berbicara dengan tiga ‘aktivis mode’.

Ini adalah versi suntingan artikel yang diterbitkan pertama kali di  Muslimah Media Watch

0602-WP-Fashion-by-Shireen-iStock
Gambar: iStock

Sebagai Muslimah yang aktif di media sosial, kita seringkali disuguhi foto cantik atau video mengenai mode terbaru. Rok berbahan jatuh atau gaun pendek berwarna cerah yang anggun dipasangkan dengan celana ketat; alas kaki yang keren dan tutup kepala menawan atau rambut yang ditata. Semua itu dilengkapi dengan aksesori vintage  cantik, kalung unik dan kacamata hitam modis.

Seringkali saya terpesona oleh kreativitas dan kerja keras orang-orang di bidang fesyen hijab.

Komitmen kecil saya terhadap mode hanya sebatas mengenakan jilbab berwarna (Saya tidak suka jilbab bermotif), dan saya biasanya memadukan warna cerah untuk busana sehari-hari. Saya biasa mengenakan merk sandal Birkenstocks sejak umur dua belas dan tidak berniat untuk mengubahnya. Sebelum saya berjilbab saat kuliah, biasanya saya bersanggul acak dan mengikat rambut ke belakang. Selera mode saya cukup sederhana. Saya biasanya menghabiskan waktu empat menit jika berdandan.

Saya punya sahabat, Nabila (saat ini tinggal di London), yang merupakan guru mode saya. Ia adalah kandidat PhD yang menyambi sebagai blogger mode, dan tempat saya bertanya dan meminta pendapat (lewat Whatsapp).

Ketertarikan dan minat saya pada adibusana hijab tidak berasal dari rasa cemburu. Benar, saya tidak cemburu. Saya sudah nyaman dengan diri saya apa adanya dan berkat saran Nabila, saya akhirnya bisa memilih warna cat kuku sendiri.

Saya tidak mengkritik teori teologi terhadap keseluruhan konsep mode hijab meski ada perdebatan yang tak ada habisnya mengenai isu ini, sebagaimana yang dibahas di video terbaru Zujaja Creations.

Namun perlu diakui bahwa dunia mode santun adalah industri jutaan dolar dan bahkan telah mendapat sorotan luas di media arus utama dan di kalangan akademik. Dan seperti halnya dengan industri lain, industri ini punya tantangan sendiri.

Ada diskusi di Muslimah Media Watch mengenai dinamika kuasa laki-laki dalam mode, kendali kreatif dan objektifikasi Muslimah. Ada juga kritik dari blogger mode dan tuntutan untuk mengikuti “tutorial selebriti hijab”, yang berpendapat bahwa video dan posting oleh blogger mode hijab seringkali memberikan efek negatif yang sama dengan mode non-Muslim, membuat orang terobsesi dengan selebritis dan penampilan mereka. Tapi pilihan berhijab seharusnya tidak memberi tekanan kepada perempuan, dan bukan juga merupakan puncak spiritualitas kita.

Di semua ranah mode, kita terus menerus ditunjukkan tampilan model yang cantik dan kurus, yang memicu persepsi yang buruk mengenai tubuh gemuk dan bahkan diskriminasi warna kulit — dan mode santun tampak memiliki masalah yang serupa. Konsep mode dalam Islam sebenarnya dapat memberi perempuan kesempatan untuk mengikuti tren mode dan kesetaraan bagi perempuan yang memilih untuk berhijab. Namun, hal ini tidak semudah itu.

Industri mode hijab juga punya banyak masalah. Baru-baru ini, pembatalan mendadak sebuah pagelaran mode mengubah salah satu acara mode Muslimah yang paling ditunggu menjadi skandal. Para endor kehilangan banyak uang dan banyak yang kecewa dengan perhelatan ini. Penyelenggara kabur dan tidak dapat dihubungi dan kemudian diperiksa atas tuduhan penipuan. Peserta terperangkap di Hershey, Pennsylvania, kamar hotel mereka dibatalkan dan barang mereka tidak terjual. Menariknya, hal ini memunculkan rasa solidaritas yang membantu para peserta untuk keluar dari permasalahan ini.

Apakah mode santun yang dipromosikan blog ini benar-benar terjangkau?

Terlepas dari tersedianya pakaian-pakaian santun nan cantik, ada aspek lain dari mode santun yang mengganggu saya. Pada 23 April 2013, lebih dari 100 buruh pabrik di Bangladesh tewas akibat runtuhnya bangunan pabrik saat mereka menjahit pakaian untuk merek seperti GAP, H&M, George (WalMart) dan JOE Fresh (Loblaws Inc).

Apakah etika dipertimbangkan, atau turut andil dalam fesyen hijab? Apakah perempuan yang menulis dan berbagi gagasan atau bantuan tentang fesyen membuat masalah-masalah yang lebih besar tentang kemanusiaan tersorot? Sebagai Muslim, bukankah kita wajib untuk mendukung keadilan di industri mode santun?

Saya mewawancarai beberapa blogger mode dan mereka menanggapi dengan jujur. Saira Hayat Khan dan blognya dan Ikhlas dari The Muslim Girl mengaku tidak secara eksklusif menggunakan barang yang berasal dari perdagangan yang adil dan toko-toko yang berkelanjutan. Bagi keduanya, harga adalah bahan pertimbangan terpenting, agar dapat memastikan bahwa banyak perempuan yang mengikuti penampilan tertentu.

Ikhlas berkata, “Saat berbelanja untuk diri sendiri, harga menjadi bahan pertimbangan penting sehingga ketika menganjurkan busana dan pakaian ke pembaca, saya mengutamakan barang yang terjangkau.”Jadi ekonomi pembeli memang penting, khususnya karena demografi utama perempuan yang mengikuti blogger ini adalah remaja dan usia 20-an.

Menarik bahwa kedua perempuan ini menganggap diri mereka sebagai aktivis — alih-alih wiraswasta — di dunia mode. Saira menjelaskan, “Hal ini berawal dari hobi yang berubah menjadi bisnis berubah menjadi aktivisme. Meskipun terdapat laba, sejujurnya tidak ada penghargaan yang lebih besar atau perasaan lebih baik daripada pembaca yang memberi tahu saya bahwa posting saya, atau apa yang saya katakan, menginspirasi dia.”

Tapi apakah mode santun yang dipromosikan blog ini benar-benar terjangkau? Apakah barang-barang tersebut masuk akal bagi kebanyakan perempuan? Saya mengunjungi banyak blog mode dan melihat tas tangan perancang. Saya penasaran tentang harganya dan mencari tas Chanel klasik di Google yang harga jualnya berkisar $2000 lebih. Saya terkejut dan tak habis pikir bagaimana orang bisa menganggap harga tersebut wajar.

Saya membicarakan hal tersebut dengan Nabila, yang mengambil sudut pandang yang berbeda.

“Jangan beli pakaian yang akan dibuang. Kita terbiasa membeli barang yang hanya dipakai beberapa kali. Jadi meskipun Anda tidak membeli pakaian yang dibuat dengan etika  — demi alasan apa pun — setidaknya jangan membeli barang yang Anda akan buang, yang akan menambah limbah. Anda harus lebih cerdas dan paham apa mode itu daripada menjadi budak tren mode.”

Tidak aneh bagi mode Muslim untuk berpaling ke barang mewah. Bahkan, jilbab yang paling dicari di dunia berasal dari rumah mode Turki Armine. Jilbab mereka berkisar dari harga $80. Pendirinya ingin nama Armine menyaingi Armani kelak. Memang lebih murah dari syal Hermès, kan? Dan kita masih mendukung Muslim…kan?

Sejujurnya, Saya tidak bisa mengaku tidak bersalah. Birkenstocks saya yang seringkali dianggap jelek tapi sangat nyaman berharga mahal. Bahkan, barang paling murah dari toko ini berharga $120. Saya membenarkan ini dengan memberi tahu diri sendiri bahwa sandal ini dibutuhkan untuk kaki datar saya, khususnya untuk olahraga. Dan saya punya toh resep dari dokter kaki.

Tetap saja, masalah mengenai mode etis — baik perihal kondisi saat pakaian dan aksesori dibuat maupun apakah mode yang dipromosikan di suatu blog benar-benar dapat dijangkau pembaca — masih terngiang di kepala. Apakah ada perwakilan keadilan dalam mode di masyarakat kita?

Sebagai Muslim, bukankah kita wajib untuk mendukung kewajaran dan keadilan di industri mode santun?

Saya tidak perlu mencari jauh untuk menemukan aktivis masyarakat yang keseluruhan bisnisnya dibangun di atas perdagangan adil dan mode yang etis. Teman saya Fizza Mir membangun Azadi Project  dengan temannya Farah Ali.

Sudut pandang Fizza tentang mode berbeda dengan kebanyakan orang. Ia memproduksi garmen yang cantik dan juga memberi kesempatan berarti bagi perempuan Bangladesh untuk tidak pindah ke wilayah kumuh kota — yang merupakan bukti adanya ekspoitasi di industri mode. Fizza dan Farah ingin mengetahui tempat rancangan mereka dibuat dan mereka bersikukuh tidak ingin tawar-menawar dengan produsen dan bahwa mereka menggaji sesuai dengan harga barang. Azadi Project hanya bekerja sama dengan pihak yang menghargai buruh, dan menyediakan gaji pantas dan lingkungan kerja yang aman. Tapi Fizza juga menolak merek-merek tertentu.

“Saya tidak menganggap diri saya ‘fashionista’, bahkan, bagi saya istilah tersebut memunculkan konotasi negatif tentang konsumsi berlebihan, limbah dan eksploitasi. Tapi saya menyenangi rancangan, kerajinan tangan, dan kain. Dalam pakaian semua hal tersebut ada dan tentunya hal tersebut dikategorikan sebagai ‘mode’ meski saya juga paham bahwa dari sudut pandang etika dan lingkungan, mode adalah industri yang kotor.”

Azadi Project memungkinkan kita untuk menggabungkan kreativitas dan kecintaan terhadap mode dan barang-barang cantik dengan aktivisme dan dukungan terhadap praktek etis.

Satu hal yang mirip dari kebanyakan perempuan yang saya wawancarai adalah apresiasi terhadap pakaian vintage dan bekas. Seperti yang dikatakan Saira, sering berbelanja di toko vintage sangat mahal, tapi kita cenderung dapat menemukan barang langka daripada barang yang diproduksi masal. Keaslian dan visi adalah bagian besar dari mode.

Fizza setuju, menambahkan bahwa selain menghindari membuang pakaian atau mengirimnya untuk dibuang di luar negeri, Anda dapat menemukan pakaian bekas unik yang dapat diperbarui dengan kancing dan penyesuaian kecil.

Perempuan-perempuan yang berbincang dengan saya memiliki bakat yang sama dalam membuat pakaian yang indah. Mereka memiliki sudut pandang yang berbeda tapi dedikasi mereka terhadap pekerjaan mereka tidak diragukan.

Ikhlas bangga terhadap “kecintaannya untuk mode”. Saat ia tumbuh dewasa, ia kesusahan mencari pakaian yang santun, dan lebih sulit lagi ketika berjilbab. Blognya seringkali berisi saran ntuk menemukan barang yang dapat dikenakan Muslimah.

Semua blog tersebut dilengkapi dengan gambar pakaian lengkap dan ide mengenai gaya yang dapat disesuaikan dengan preferensi gaya seseorang. Mode tidak hanya mengenai motif paisley dan mutiara.

Saira berkata bahwa ada tekanan untuk tidak ketinggalan zaman dan mengikuti tren. Tapi ia menentukan gaya mode sendiri dan tulisannya — kompetisi bisa keras. Ikhlas berkata bahwa ia sering dikritik sebagai terlalu konservatif atau terlalu liberal — yang membuat saya percaya bahwa ia mungkin melakukan pekerjaannya dengan benar.

Tantangan Fizza adalah membuat masyarakat memahami mode etis sebagai bagian dari kewajiban kita sebagai Muslim dan kesantunan. Ia juga percaya bahwa ia berpikir melewati representasi luar dari makna Muslim, dalam kaitannya dengan menjaga kewajaran dan keadilan di semua transaksi kita.

Perempuan Muslim memberi warna ke dunia mode dan mungkin saya tidak sepenuhnya paham dunia ini. Tapi saya menghargai semangat dan sudut pandang mereka yang berbeda. Saya ingin melihat industri ini maju — sebagai penonton.

*sambil berganti ke celana olahraga*

Leave a Reply
<Modest Style