Mengajarkan makna berkurban pada anak

,

Banyak hikmah seputar ibadah kurban yang dapat diajarkan pada anak sejak dini. Oleh Khairina Nasution.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Apa sih makna ibadah kurban bagi seorang anak? Bagi putri saya yang berusia enam tahun, ibadah kurban dimaknai dengan sangat sederhana. Idul Qurban atau Idul Adha adalah hari di mana banyak kambing dipotong, dagingnya dibagikan ke orang-orang, dan ia dan teman-temannya dapat menikmati hidangan serba daging seharian penuh.

Namun sesungguhnya, filosofi berkurban sebagai bukti kepasrahan dan keikhlasan menjalankan perintah Allah sebaiknya mulai dia diajarkan kepada anak sejak dini, tentu saja sesuai usianya.

Mengajarkan hakikat kurban kepada anak bisa dimulai dengan menceritakan kisah Nabi Ibrahim yang susah payah mendapatkan keturunan, namun kemudian diminta mengorbankan putranya, Ismail. Ismail pun dengan ikhlas menerima perintah Allah tersebut. Kepasrahan Ibrahim dan keikhlasan Ismail akhirnya diganjar Allah dengan ganti domba besar untuk dikurbankan. Kisah ini dapat diceritakan kepada anak sejak dia berusia balita dengan bahasa yang sederhana.

Filosofi berkurban juga dapat diajarkan dalam kehidupan sehari-hari. Saat membeli hewan kurban, misalnya, jelaskan pada anak bahwa untuk membeli hewan itu, orang tua harus bekerja keras dan mengumpulkan uang.

Ajak pula anak memilih hewan kurban. Ajarkan secara sederhana hewan seperti apa yang baik untuk dikurbankan, misalnya yang cukup usia, tidak cacat, besarnya cukup, gagah, dan lain sebagainya. Lewat proses memilih hewan kurban, anak akan paham bahwa dalam berkurban atau memberikan sesuatu kita harus memilih yang terbaik.

Setelah membeli hewan, anak juga bisa diajak menitipkan hewan itu di mesjid atau merawatnya di rumah. Perlihatkan bagaimana hewan itu dirawat dan diberi makan. Jadikan kesempatan ini untuk mengajarkan pada anak bahwa hewan adalah ciptaan Allah yang harus dihormati dan disayangi.

Saat tiba waktunya kurban, ajak anak untuk melihat hewan kurbannya. Jika hewan itu sebelumnya dititipkan di rumah, ajak ia membawanya ke mesjid atau ke tempat penyembelihan. Jika usia anak masih terlalu kecil dan dianggap belum mampu menyaksikan adegan pemotongan hewan, anak kemudian bisa diajak menjauh. Namun, penting untuk menjelaskan bahwa hewan kurban disembelih sebagai bukti cinta kepada Allah SWT dan agar dagingnya dapat dinikmati orang-orang yang tidak setiap hari bisa makan daging.

Seperti tercantum dalam Surat Al-Hajj,” Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (22:37)

Saat kecil, ayah saya biasa mengajak anak-anaknya menggiring sendiri hewan kurban yang kami pilih sehari sebelumnya ke mesjid. Saat hewan kurban itu disembelih, kami tak kuasa menahan tangis. Namun, saat prosesi pembagian hewan kurban itu berjalan, kami merasa bangga karena telah berbagi dengan orang lain.

Melalui tradisi kurban, anak dapat belajar untuk semakin bertakwa kepada Allah SWT dan lebih peka terhadap kondisi sosialnya.

Leave a Reply
Aquila Klasik