Modest Style

Membantu mereka yang dekat, meringankan beban yang jauh

,

Apakah kita lebih banyak mendoakan orang-orang tertentu? Fatimah Jackson-Best mencari tahu mengapa beberapa isu mendapat perhatian lebih dari yang lain.

Gambar: iStock
Gambar: iStock

Pengetahuan saya tentang ketidakadilan dimulai dari sebuah sekolah Islam swasta di Kanada tempat saya bersekolah sejak usia delapan hingga 13 tahun. Di sana, saya berteman dengan orang-orang dari seluruh penjuru dunia – beberapa memiliki kisah imigrasi serupa dengan orangtua saya, yang berasal dari Karibia dan AS pada tahun 1970an.

Saya juga memiliki beberapa teman yang orangtuanya meninggalkan negara asal mereka karena alasan politik dan sosial yang lebih membahayakan. Salah satu teman Suriah saya memiliki angota keluarga yang tidak dapat kembali ke negaranya karena mendukung revolusi tahun 1980an. Ada lagi beberapa teman lain yang kabur dari Somalia, Afghanistan, dan Bosnia ke Kanada karena perang dan bentuk lain pergolakan sipil.

Sulit rasanya membayangkan hal-hal tersebut terjadi pada saya, namun saat doa harian di sekolah saya akan mendengar cerita tentang tempat-tempat lain di mana umat Muslim dianiaya oleh angkatan bersenjata negara, tetangga lama, dan terkadang oleh satu sama lain. Palestina, Lebanon, dan Jazirah Arab semasa Perang Teluk terus-menerus disebut oleh imam, yang mendorong kami mendoakan kemenangan bagi kebaikan dalam melawan kejahatan. Dengan melakukan hal tersebut, secara tidak langsung kami jadi terlibat dalam konflik yang terjadi di tempat-tempat nun jauh ini. Kami diajarkan bahwa orang-orang “di sana” adalah saudara saudari kita dalam Islam, dan karenanya penderitaan mereka adalah penderitaan kami juga.

Beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan revolusi baru di negara-negara di mana umat Muslim tinggal. Sekali lagi, para imam mengajak para jemaah untuk menundukkan kepala dan mengangkat tangan untuk mendoakan Tunisia, Libya, Mesir, Yaman, dan Bahrain. Kita mendoakan kebebasan mereka dari ketidakadilan sosial dan sekali lagi, bagi kebaikan dalam melawan kejahatan.

Saya yakin doa-doa ini penting dan merupakan hal termudah yang dapat kita lakukan. Berpaling pada Sang Pencipta untuk meminta petunjuk dan kekuatan merupakan bentuk tindakan berserah diri yang pria, wanita, nabi, dan rasul telah lakukan sejak dulu kala. Namun saat melakukannya, penting juga untuk mengingat berbagai bentuk ketidakadilan dan ketidaksetaraan yang ada di tempat tinggal kita sendiri.

Hidup di kota metropolitan memperlihatkan dengan jelas pada siapa pun yang membuka mata akan adanya kesenjangan lebar antara si kaya dan si miskin. Dalam perjalanan menuju shalat Jumat di pusat kota Toronto, tidak aneh lagi bagi saya untuk berjalan melewati sejumlah tunawisma di sebuah blok kota. Mudah saja mengabaikan hal-hal seperti ini dalam perjalanan ke masjid, namun kemiskinan bukan hanya ada “di luar sana” – kemiskinan juga merupakan masalah besar yang menimpa banyak Muslim di dalam masyarakat kita.

Di masjid-masjid, banyak Muslim bisa saja hidup di dalam atau di bawah garis kemiskinan – terutama mereka yang paling rentan seperti pendatang baru, orang-orang difabel, anak-anak, dan wanita. Umat Muslim yang shalat berjamaah di samping kita mungkin saja tinggal di lingkungan berbahaya yang tidak menawarkan banyak kesempatan bagi para pemuda pemudi Muslim. Para orangtua mungkin harus membuat pilihan sulit antara membayar tagihan atau membeli makanan setiap bulannya.

Hal di atas hanyalah beberapa hal yang pernah saya lihat atau dengar di kota-kota seperti Toronto. Kita tahu penurunan perekonomian global membuat banyak orang menjadi pengangguran, namun di masjid hal-hal ini hanya sekadar menjadi bisik-bisik antar jemaah dan jarang diikutsertakan dalam doa kita. Mungkin kita berhasil meyakinkan diri kita bahwa keadaan mereka tidak mempengaruhi kita, hingga dapat bersikap masa bodoh.

Meski begitu keberadaan mereka nyata adanya, dan cepat atau lambat, akan berdampak pada kita secara pribadi. Saya tidak tahu apakah kita perlu menemukan lebih banyak keluarga Muslim tunawisma di jalan-jalan untuk menyadarkan bahwa hal tersebut mungkin saja terjadi pada kita sendiri – semoga saja tidak.

Salah satu cara kita membuat perubahan adalah dengan bertindak melalui zakat kita. Dengan semakin dekatnya bulan Ramadhan, kini merupakan saat yang tepat untuk mulai beramal. Kita dapat beramal secara rutin ke masjid-masjid yang melakukan pekerjaan sosial dan memang menyalurkan uang mereka ke anggota masyarakat yang membutuhkan. Ini merupakan salah satu fungsi yang harus dijalankan oleh pusat-pusat ibadah sepanjang tahun.

Namun, jika hal ini tidak memungkinkan, kita dapat melihat ke dalam lingkup sosial dan keluarga kita sendiri dan memberikan bantuan secara langsung kepada siapa pun yang membutuhkan. Memberi pada keluarga pertama kali merupakan sunnah Rasul, selain juga meningkatkan kasih sayang dengan cara memperlihatkan kepedulian dan menawarkan bantuan. Kita dapat melakukan jauh lebih banyak dari yang kita kira, namun kita harus ingat bahwa doa hanyalah sebagai permulaan – dan bukan tindakan pemungkas yang kita lakukan.

Kita tidak dapat mengatasi penderitaan seseorang maupun menghilangkan kesengsaraan yang terjadi di sekeliling dunia – segala bentuk penindasan merupakan ancaman, baik dekat maupun jauh. Namun di saat yang sama, kita harus prihatin dan tidak ragu melakukan segala yang kita bisa bagi siapa pun yang mengalami ketidakadilan. Kita harus selalu ingat bahwa ada Muslim dan non-Muslim yang membutuhkan bantuan di mana-mana, dan bahwa penderitaan mereka tidak diukur berdasarkan jarak mereka dari kita.

Leave a Reply
<Modest Style