Modest Style

Kisah berhijab 5 wanita

,

Lima wanita dari belahan dunia yang berbeda membagikan pengalaman pertama berhijab mereka ke Afia R Fitriati, beserta kiat dan saran yang berguna baik bagi hijabi baru maupun yang sudah berpengalaman.

WP-Report-Leap-of-faith-sm

Artikel ini pertama kali terbit di majalah Aquila Style edisi Luxe September 2012. Dapatkan edisi lengkapnya secara cuma-cuma di iPad atau iPhone dari Apple Newsstand, atau di perangkat Android dari Google Play.

Mengenakan hijab merupakan sebuah komitmen besar bagi seorang Muslimah. Tanggung jawab moral, tuntutan sosial, dan kontroversi yang seringkali dihubungkan dengan penggunaan penutup kepala Islami bisa menjadi alasan beberapa Muslimah memutuskan tidak berjilbab.

Aquila Style berbincang dengan lima wanita yang perjalanannya untuk mengenakan hijab diwarnai dengan suka duka. Meskipun demikian, ada satu hal yang sama-sama mereka miliki. Hal itu adalah kedamaian di hati yang mereka rasakan setelah memutuskan untuk berhijab selamanya.

Camila Gil, Amerika Serikat

Bagi Camila, mengenakan hijab bermakna lebih dari sekadar mengenakan lapisan kain tambahan. “Saat menjadi mualaf tiga tahun yang lalu, saya yakin untuk benar-benar memahami dan lebih serius beragama. Tidak cukup dengan hanya menjadi Muslim di dalam hati, saya juga harus bertindak seperti Muslim dan terlihat seperti Muslim,” ujar Camila, yang menambahkan bahwa menurutnya, untuk bertindak dan terlihat seperti Muslim berarti termasuk mengenakan hijab.

“Saya ingin menjadikan hijab sebagai elemen yang akan mengingatkan saya setiap hari bagaimana saya harus bertindak dan apa yang harus saya yakini setiap saat.”

Begitulah hingga akhirnya Camila memutuskan mengenakan hijab secara secara permanen, sebuah keputusan yang digambarkannya sebagai “petualangan baru”.

“Saya merasakan berbagai hal,” ujarnya. “Saya merasa gelisah pada awalnya karena harus membiasakan diri mengenakan hijab, namun seiring waktu, saya jadi terbiasa dan hanya merasa senang; tanpa ada lagi perasaan gugup.”

Tinggal di negara di mana umat Muslim adalah minoritas, Camila harus menghadapi berbagai reaksi atas keputusannya. “Saat memutuskan untuk mulai mengenakan [hijab] secara permanen, saya sedang berada di universitas dan ingin menunjukkan pada seorang teman bagaimana penampilan saya berbalut hijab. Menurutnya saya tampak cantik dan hal itu menyemangati saya.”

Namun tidak semua orang memberi dukungan yang sama.

“Keluarga awalnya membenci keputusan saya; teman-teman merasa penasaran dan bertanya-tanya,” kenangnya. “Saya merasa sekarang adalah tanggung jawab saya untuk mewakili agama dan hijab saya dengan baik.”

Ingatlah bahwa Anda melakukannya karena Anda memilih untuk menyenangkan Allah

01-Camila-Gil-USA-sm-266x400Bagi Anda yang sedang mempertimbangkan mengenakan hijab untuk seterusnya atau baru berhijab, Camila memberi sedikit saran. “Belajarlah untuk mencintai hijab dan jadilah kuat,” ujarnya. “Ingatlah bahwa Anda melakukannya karena Anda memilih untuk menyenangkan Allah. Belajarlah cara mengenakan yang paling nyaman untuk menguatkan Anda saat mengenakannya.”

Jika orang tersayang Anda baru mulai mengenakan hijab, Camila menekankan pentingnya bersikap mendukung. “Ingatlah selalu bahwa hal ini adalah keputusan pribadi yang membuat orang kesayangan Anda bahagia. Terlepas dari setuju tidaknya, suka tidaknya Anda atas keputusan ini, Anda harus ingat bahwa hijab membawa kebahagiaan bagi orang itu,” ujarnya.

“Lebih baik lagi jika Anda belajar untuk lebih memahami dan terbiasa dengan konsep berhijab. Belajar adalah langkah yang baik untuk meningkatkan toleransi dan pemahaman.”

NurMarjan Soriano, Filipina

02-NurMarjan-sm-200x400NurMarjan mulai mempertimbangkan mengenakan hijab setelah menjadi mualaf beberapa tahun lalu. Saat akhirnya membulatkan tekadnya, ia merasakan keraguan menyelimuti.

“Saya merasa gugup mengenakannya untuk pertama kali, dan bertanya-tanya apa yang akan orang pikirkan,” ujarnya. Namun NurMarjan, seorang perawat, merasa bahwa keputusannya tepat dan kepindahannya ke dalam Islam tidak akan lengkap tanpa busana Islami yang ideal.

“Saya katakan pada diri saya sendiri bahwa saya telah berkomitmen dan bahwa inilah bentuk nyata perwujudan komitmen tersebut. “Kini saya tahu di mana tempat saya.”

Perubahan penampilan luarmya mendapat penerimaan beragam. “Keluarga saya tidak masalah sama sekali,” ujar NurMarjan. Namun tidak dengan orang lain.

“Saya telah mengalami banyak masalah dengan orang-orang dari lingkaran pertemanan dan kolega. Ada orang-orang yang berhenti bicara pada saya.”

Untuk menghadapinya, NurMarjan memilih untuk berfokus pada sisi positifnya.

“Setidaknya saya tahu siapa teman sejati saya,” ujar wanita 34 tahun itu.

Bagi para saudari yang sedang dalam perjalanan menemukan keberanian berhijab, NurMarjan memberi saran. “Anda harus mengenakannya untuk alasan yang tepat. Kembangkan iman Anda, shalatlah dan bacalah Qur’an serta tafsirnya.”

“Maka saat Anda mengenakannya, Anda tidak akan pernah melepasnya untuk siapapun.”

Rosilawati Binte Haji Saad, Singapura

03-Rosilawati-Binte-Haji-Saad-Singapore-copy-sm

Persiapkan diri Anda secara spiritual dan rasakan perasaan ikhlas di dalam diri

Tidak ada kata terlambat untuk membuat perubahan positif dalam hidup. Pada usia 48 tahun, tidak pernah terlintas dalam pikiran Rosilawati untuk mengenakan hijab, hingga satu sore saat sedang makan malam di sebuah restoran bersama putranya.

“Putera menyuruh saya melihat sekeliling,” kenangnya. Ia menggambarkan apa yang ia lihat sebagai “teguran”. “Saya begitu terkejut dan malu. Saya bahkan tidak menyadari bahwa saya satu-satunya Muslimah di sana yang tidak berhijab!”

Rosilawati menganggap dirinya beruntung karena keluarga dan teman-temannya menyambut positif keputusannya untuk berhijab selamanya. Dukungan mereka membuatnya lebih percaya diri dengan pilihannya. Ia mengatakan bahwa kunci penting dalam membuat komitmen adalah dengan “mempersiapkan diri Anda secara spiritual dan merasakan perasaan ikhlas di dalam diri. Jangan kenakan hijab untuk pamer.”

Rosilawati juga membagikan sedikit kiat praktis yang memudahkan masa transisi untuk mengenakan hijab. “Selain mempersiapkan koleksi hijab, Anda mungkin juga ingin memotong pendek rambut Anda,” ujarnya, dan menambahkan bahwa kiat ini utamanya berguna bagi Anda yang tinggal di iklim panas. Tentang gaya dan penyimpanan, berikut saran dari Rosilawati, “Bagi Anda yang baru berhijab, Anda selalu bisa menemukan petunjuk sederhana dan praktis tentang cara mengenakan hijab untuk sehari-hari dan kesempatan istimewa. Jangan berlebihan mempersiapkan, mulailah dengan masing-masing satu warna dan sebelum Anda sadari, Anda sudah memiliki beragam warna.”

Yasmine Soraya Bashir, Australia

04-Yasmine-Soraya-Bashir-Australia-sm-266x400Yasmine juga menganggap dirinya beruntung karena meski tinggal di Australia, ia dikelilingi oleh keluarga dan teman yang berhijab. Jadi saat merasa siap, ia tidak memiliki keraguan untuk menutup aurat. “Tidak sulit untuk mengenakan hijab di sekolah karena lingkungannya yang sangat multibudaya dengan sekitar 40 persen siswa adalah Muslim. Jadi orang-orang sudah tahu mengapa saya mengenakan hijab dan mereka mendukung keputusan saya.”

Menemukan gaya yang tepat bisa jadi sebuah tantangan tersendiri bagi hijabi baru. Karenanya, Yasmine berbagi sedikit kiat. “Jangan merasa putus asa saat hijab terlihat ‘salah’ karena pada akhirnya Anda akan terbiasa.”

Jangan merasa putus asa saat hijab terlihat “salah” karena pada akhirnya Anda akan terbiasa

“Mulailah dengan gaya-gaya sederhana. Saya menyadari bahwa dengan memperhatikan orang-orang yang berhijab dan mengingat-ingat gaya serta pilihan bahan dam motif mereka, saya bisa memilih gaya hijab yang paling sesuai dengan saya.” Terakhir, Yasmin menyarankan untuk mengikat rambut dengan cara ekor kuda dan memilih hijab yang terbuat dari bahan ringan “agar Anda tidak merasa terlalu panas.”

Endar Rachmawaty, Indonesia

05-Endar-Rachmawaty-Indonesia-sm-266x400Anda tidak membutuhkan imam sempurna untuk mengenakan hijab. jika kesempurnaan adalah syarat untuk berhijab, lantas siapa menurut Anda yang bisa menngenakannya?

Bagi beberapa wanita yang memilih mengenakan hijab sebagai bagian gaya hidup mereka, komitmen tersebut bisa jadi membutuhkan pengorbanan besar. Endar adalah salah satunya.

“Saya berencana mengenakan hijab setelah mendapat pekerjaan empat tahun lalu,” ujarnya. “Sayangnya, jabatan saya tidak memungkinkan saya untuk mengenakan busana yang sesuai dengan aturan berbusana Islami. Pihak manajemen menyatakan bahwa mengenakan hijab saat bekerja tidak dapat diterima karena tidak sesuai dengan peraturan perusahaan.”

Merasaa terombang-ambing antara pekerjaan yang dicintainya dan keinginan untuk mematuhi syariah, Endar mengundurkan diri dari tempat kerjanya tahun lalu. Mungkin sebuah keputusan yang berisiko, namun pada akhirnya segalanya berjalan baik.

“Akhirnya, saya diwawancara oleh sebuah perusahaan yang tidak bermasalah dengan penggunaan hijab, dan saya mendapat pekerjaan yang saya sukai. Kini saya telah mengenakan hijab selama sembilan bulan,” ujarnya penuh rasa syukur.

Endar percaya keputusannya untuk mengenakan hijab dipengaruhi oleh restu dan doa orangtua serta keluarganya. “Orangtua saya sangat mendukung saya mengenakan hijab. Saat kami merayakan Idul Fitri di rumah nenek, sanak saudara mengatakan bahwa saya terlihat lebih dewasa dan cantik dalam balutan hijab.”

Untuk menyemangati orang-orang yang merasa keputusannya untuk mengenakan hijab dipersulit oleh tuntutan sosial, Endar berbagi sedikit saran. “Anda tidak membutuhkan imam sempurna untuk mengenakan hijab. jika kesempurnaan adalah syarat untuk berhijab, lantas siapa menurut Anda yang bisa mengenakannya? Saat Anda memutuskan untuk berhijab, tentukan harinya, dan lakukan saja!”

Endar mengingatkan hijabi “berpengalaman” untuk merangkul hijabi baru dengan rasa hormat dan kasih sayang. “Penting untuk memperlakukan mereka dengan baik agar mereka tidak menyesali keputusan untuk mengenakan hijab dan bisa merasakan kebaikan hijab.”

Apa itu syariah?
Syariah adalah sistem hukum luas yang didasari pada Qur’an, hadits (ucapan Nabi Muhammad SAW), sunnah (ajaran dan tauladan Nabi Muhammad SAW), juga berabad-abad perdebatan, kejadian, dan penafsiran oleh ulama dengan berpegang pada Qur’an dan sumber-sumber keagamaan terpercaya lain.

Leave a Reply
<Modest Style