Modest Style

Kaleidoskop keindahan masjid kuno

,

Fotografer Iran Mohammad Reza Domiri mengabadikan keindahan masjid dan tempat-tempat ibadah dengan penuh ketelitian, membuat penikmatnya serasa hadir di tempat-tempat ini secara langsung. Ia berbincang dengan Najwa Abdullah.

[Not a valid template]

Setelah merasa terpukau oleh foto-foto interior piramida Mesir, fotografer Iran Mohammad Reza Domiri Ganji memutuskan untuk mengabadikan gambar situs-situs bersejarah. Meski ketertarikannya pada fotografi arsitektur sangatlah spesifik – ia lebih suka memotret masjid dan tempat ibadah lainnya – karya-karya Reza yang begitu memikat mengantarkan pesan universal pada seluruh umat beragama.

“Saya hanya bertanya-tanya, upaya apa yang dilakukan untuk membangun struktur dan simbol semacam itu. Saya ingin menambahkan sedikit kekuatan supranatural melalui bingkai digital, agar setiap orang merasakan apa yang saya rasakan saat memandang struktur-struktur akbar tersebut,” ujar Reza.

Reza menjelaskan bahwa pendekatannya atas fotografi arsitektur sangatlah intelektual dan emosional, dan menyatakan bahwa ia tidak memiliki tujuan komersil apapun.

“Saya tidak mendapat pemasukan apapun, setidaknya hingga kini, dari fotografi arsitektur, dan tidak ada pemerintahan maupun organisasi yang menyokong saya. Saya melakukan ini karena menurut saya hal ini penting dan berguna,” ujarnya.

Sejauh ini, ia telah bepergian ke Pasargrade dan Persepolis di Iran dan Istanbul di Turki. Ia baru saja kembali dari perjalanan ke Yazd di Iran pusat tempat ia mengabadikan pemandangan kubah, menara, dan lengkungan yang mengagumkan.

Tujuan utamanya adalah untuk mendobrak batas tentang apa yang bisa dilakukan dengan sebuah foto baik dari segi isi dan teknik. Untuk menonjolkan kelebihan dari sebuah struktur, Reza biasanya menggunakan lensa wide-angle, yang mengekspos kedalaman dan ukuran pada foto.

“Dalam foto panorama, saya biasanya memotret lebih dari satu gambar dan menyatukannya untuk mendapatkan pemandangan bersudut luas. Tujuannya untuk menempatkan seluruh bangunan dan struktur dalam satu foto, agar orang-orang yang melihatnya bisa membayangkan suasana tempat tersebut.”

Penyajian mosaik yang sangat detil, warna-warna rumit, simetri, dan penggunaan kolom spiral serta pecahan kaca berwarna-warni begitu ditonjolkan dalam hasil jepretannya.

“Arsitektur dengan banyak simetri serta interior gelap dengan sedikit pancaran cahaya terang adalan favorit saya karena hasilnya sangat bagus untuk fotografi bersudut luas.”

Reza tentu tidak kekurangan pengalaman dan ia percaya waktu memotret adalah segalanya. Saat merencanakan pemotretan, ia memilih waktu yang paling menonjolkan keindahan suatu tempat. Ia percaya jika seorang fotografer memilih waktu yang tepat untuk mengunjungi dan memotret sebuah tempat, perasaan yang didapat saat melihatnya langsung maupun dalam bentuk gambar tidak akan terlalu berbeda.

“Ini berdasarkan pengamatan saya sendiri. Contohnya, untuk Masjid Nasir Al-Mulk di Iran, Anda harus ke sana di saat yang tepat: awal musim dingin atau akhir musim gugur, dan juga di pagi hari untuk mendapat cahaya maksimum melalui kaca warnanya. Jika Anda pergi ke sana pada siang hari atau di musim panas, Anda tidak akan mendapat foto yang bagus.”

Dengan saran yang begitu detil, jelaslah bahwa bagi Reza, memotret gambar yang tajam sekaligus meditatif bukanlah hal sederhana. Bagi Anda yang ingin menyelami dunia fotografi arsitektur, terutama bangunan-bangunan kuno, ia menyampaikan, “Pilihlah waktu terbaik. Perhatikan komposisi dan tekstur, pola, dan hal-hal seperti cahaya dan bayangan atau kolom yang memberi kedalaman pada sebuah struktur.”

Untuk informasi lebih lanjut tentang Mohammad Reza Domiri dan karyanya, kunjungi laman Facebook-nya atau profilnya di 1x.com

Leave a Reply
<Modest Style