Modest Style

Fajar, penderita cerebral palsy yang hafal Al-Qur’an

,

Mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an ternyata membuat fungsi otak Fajar membaik, kisah Khairina Nasution.

WP Fajar 02

Suaranya kurang jelas, tetapi ayat Al-Qur’an apa pun yang ditanyakan kepadanya mampu dijawabnya dengan mantap. Kendati belum bisa membaca tulisan Arab, ia lancar membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang tertulis dalam huruf Arab.

Pria kecil luar biasa itu adalah Fajar Abdurokhim Wahyudiono (10). Dia istimewa karena hafal Qur’an kendati tergolong anak berkebutuhan khusus. Cita-citanya pun mulia, menjadi imam di Masjidil Haram, Mekkah.

Fajar adalah penderita cerebral palsy (CP) spastik, yakni kondisi terganggunya fungsi otak dan jaringan saraf yang mengendalikan gerakan, laju belajar, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir.

“Fajar suka sekali kalau diberi tantangan melanjutkan ayat Al-Qur’an atau diminta mencari ayat. Dia kurang suka diminta tilawah,” kata Heny Sulistiowati (35), ibunda Fajar, di kediamannya di Karanganyar, Jawa Tengah.

Kemampuan Fajar menghafal Qur’an dengan keterbatasan yang dimilikinya tak lepas dari keyakinan Heny dan suaminya, Joko Wahyudiono, bahwa Al Qur’an adalah penyembuh segala penyakit. Maka, saat putra mereka lahir pada 2 Oktober 2003 secara prematur, Heny dan Joko rutin memperdengarkan murattal Al Qur’an kepadanya.

Karena berat lahirnya rendah, hanya 1,6 kilogram, Fajar terpaksa menginap di ruang NICU rumah sakit. Saat mengantar ASI untuk si kecil Fajar, Heny dan Joko menitipkan kaset murattal kepada perawat.

“Saya bilang kepada perawat, sesekali tolong setelkan kaset ini agar didengar anak saya. Waktu itu, di ruang NICU yang sering disetel adalah musik,” kisah Heny.

Kegiatan menyetelkan kaset murattal itu terus berlanjut hingga Fajar pulang ke rumah. Heny dan Joko menjaga betul suara-suara apa saja yang bisa didengar oleh anak mereka. Oleh karena itu, Heny dan suaminya memutuskan untuk tidak memiliki televisi dan tidak memperdengarkan musik di rumah.

“Anak harus diperdengarkan yang baik-baik. Apa yang keluar dari Quran kan kebaikan. Itulah yang terbaik,” kata Heny lagi.

Hingga usia dua bulan, Fajar seperti bayi lain pada umumnya. Namun, menginjak bulan ketiga, Heny baru sadar, ada yang berbeda dari Fajar. Perkembangan anak semata wayangnya itu lambat. Saat berkonsultasi dengan dokter anak, baru ketahuan kalau Fajar menderita CP. Penyebabnya, kata dokter, mungkin karena lahir secara prematur sehingga bagian otak belum berkembang dengan sempurna.

Sambil melakukan terapi, Heny terus menyetel kaset murattal Al-Quran. Pada usia tiga tahun, saat Fajar menunjukkan ketertarikan pada gambar, Heny membelikannya compact disc (CD) interaktif Al-Qur’an yang bisa disetel di laptop. Dari situ rupanya Fajar belajar mengenal huruf-hurufAl-Qur’an.

Di usia sekitar tiga tahun, saat pertama kali berbicara, yang keluar dari mulut Fajar adalah bacaan Al-Qur’an, sekalipun terputus-putus. Awalnya, yang terdengar hanya bagian akhir surat, kemudian bagian awal dan akhir, lalu lama-kelamaan bagian awal, tengah dan akhir, hingga akhirnya Fajar bisa membaca satu ayat Al-Qur’an secara utuh.

Usia tiga tahun lebih, Fajar sudah hafal juz 30. Lama-lama, ia menuntut Heny untuk mencarikan ayat di Al Qur’an. Heny yang tidak hafal Al Qur’an pun kewalahan. Ia pun mencarikan guru mengaji seorang hafidzah. “Setelah enam bulan mengaji, ustadzah berkata, Fajar hafal 80-90 persen isi Al Qur’an. Tetapi, belum bisa runut,” kata Heny.

Fajar berganti guru mengaji hingga dua kali. Pada Desember 2012, di usianya yang kesembilan, Fajar benar-benar hafal Al-Qur’an dengan runut.

Luar biasanya, karena rutin mendengarkan Al-Qur’an, Heny mengakui kondisi Fajar semakin membaik. Saat berusia tiga tahun, tes otak menunjukkan Fajar memiliki gelombang kejang. Beberapa tahun kemudian, saat dites kembali, gelombang kejang pada otak Fajar telah menghilang.

Tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) menunjukkan bahwa pada otak Fajar terdapat rongga. Biasanya, orang dengan kondisi seperti Fajar menderita hydrocephalus (kondisi di mana otak membengkak akibat tumpukan cairan, yang berakibat pada besarnya kepala penderita). Namun Fajar tidak mengalami kondisi ini. Kini, Fajar bahkan bersekolah di sekolah umum. Kemampuannya, baik motorik maupun kognitif, semakin meningkat.

“Inilah keajaiban Al Qur’an. Ia mampu membangkitkan sel-sel otak yang tidur. Alhamdulillah, Fajar mendapat berkah Al Qur’an,” tutur Heny.

Leave a Reply
<Modest Style