Modest Style

Solidaritas untuk Srebrenica

,

Kekuatan semangat kemanusiaan terpancar dalam sebuah perjalanan tapak tilas, di mana kenangan itu sendiri begitu menyakitkan sekaligus melipur lara. Menandai peringatan ke-18 genosida, Aquila Style menampilkan liputan tahun 2011 yang memaparkan pengalaman seorang jurnalis-foto Musa Chowdury saat menghadiri peringatan di Srebrenica.

[Not a valid template]

SEBUAH ZIARAH yang suram. Orang-orang datang dari seluruh penjuru dunia dengan cara apa pun yang diperlukan. Mereka yang berjalan kaki telah berpawai menapaki jalan berdebu dan medan yang sulit dari berbagai sudut negara Bosnia & Herzegovina. Diperkirakan mencapai 40.000 orang berkumpul di Srebrenica, kota tua pertambangan perak yang terletak di lembah area perbukitan yang landai. Hari itu tanggal 11 Juli 2011 dan mereka datang untuk menandai peringatan ke-16 peristiwa pembantaian warga sipil yang terburuk di Eropa sejak era Nazi. Sisa jenazah dari 613 korban yang baru-baru ini digali dan diidentifikasi dengan analisa DNA, kini akan dikuburkan kembali sebagai bagian dari sebuah peringatan.

Pada bulan Juli 1995 komunitas sipil muslim, yang didera teror pembersihan etnis oleh Serbia-Bosnia, hengkang dari rumah mereka dan mencari perlindungan di dekat basis PBB di Potocari. Di hari yang nahas itu, pasukan Serbia menerobos masuk kamp pengungsian di Srebrenica, kemudian secara sistematis memisahkan pengungsi laki-laki dari para perempuan dan anak-anak. Kaum lelakinya dibagi menjadi beberapa kelompok, dipaksa untuk menggali kuburan massal, dan kemudian mereka dibantai. Beribu-ribu lainnya juga dibunuh saat mencoba lari menyelamatkan diri menembus hutan. Lebih dari 8.000 jiwa laki-laki muslim Bosnia tewas terbunuh. Jumlah aktualnya masih belum diketahui, setiap tahun kembali ditemukan ratusan jasad korban yang kemudian dikuburkan kembali, sementara ribuan lainnya masih hilang tak berjejak.

Peringatan tahun ini menjadi cukup mengharukan karena bulan lalu terjadi penangkapan Ratko Mladić, Komandan Pasukan Serbia-Bosnia yang didakwa memerintahkan pembantaian. Mladić saat ini sedang menjalani pengadilan dengan dakwaan genosida, kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di The Hague (Den Haag) di Pengadilan Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (ICTY)

Tiba di Srebrenica

Saya tiba sehari sebelum peringatan, dalam sebuah kendaraan yang membawa anggota keluarga dari mereka yang terbunuh dalam peristiwa itu. Matahari bersinar cerah, tinggi di atas perbukitan yang melingkupi. Gumam lirih tiba-tiba berhenti berganti keheningan yang memenuhi seisi mobil. Semua orang memandang ke luar jendela ke arah kanan di mana banyak kuburan berwarna putih-bersih berjajar di lereng bukit memantulkan cahaya matahari yang terang benderang. Dibatasi pagar dengan bentuk yang indah – mengingatkan pada Pemakaman Perang Dunia I, sebuah pemandangan yang teramat menggetarkan dan membangkitkan emosi. Saya bertanya kepada Alan, orang di sebelah saya, seorang Amerika-Bosnia yang orangtuanya melarikan diri ke Amerika Serikat selama perang, apakah ia baik-baik saja dan bagaimana perasaannya. Ia berjuang keras menyembunyikan emosinya. Kemudian, tiba-tiba dengan suara lirih ia mengatakan bahwa ia merasa gugup dan berencana untuk menginap di area pemakaman untuk memberi penghormatan. Untuk sebagian besar orang, ini adalah bentuk siksaan batin yang sangat lama harus menunggu selama 16 tahun untuk mengetahui kejelasan kabar orang-orang yang mereka kasihi. Momen ziarah ini mengumpulkan kembali kaum muslim Bosnia & Herzegovina yang terserak menyebar ke seluruh penjuru dunia. Banyak yang merencanakan liburan di waktu seputar acara peringatan, memastikan mereka akan mengunjungi tempat di mana semua bermula bertahun-tahun lalu.

Pawai Perdamaian

Enam belas tahun lalu para korban Srebrenica diserang dan harus menghadapi berondongan artileri berat, termasuk proyektil yang dilengkapi gas halusinogen. Ribuan orang tewas saat itu. Sebagian melarikan diri dari serangan gencar di Srebrenica dengan berusaha mencapai teritorial aman pemerintahan Bosnia, lebih dari 100 kilometer jauhnya. Pelarian ini, dari Srebrenica ke Tuzla, yang kemudian dikenal sebagai ‘Put Smrti’ (Arakan Kematian). Kini, ribuan orang berpawai dan berbaris menempuh rute pelarian tersebut sebagai bentuk ungkapan solidaritas yang disebut ‘Mars Mira’ (Pawai Perdamaian). Berjalan selama berhari-hari, mereka berdoa di kuburan massal yang terletak di sepanjang jalan yang dilalui hingga mereka tiba untuk menghadiri pemakaman massal yang diselenggarakan di Srebrenica tanggal 11 Juli.

Pawai Perdamaian (Mars Mira) tersebut adalah ide dari Dr Ilijaz Pilav, yang juga salah seorang pelarian yang ikut dalam Arakan Kematian (Put Smrti). Ia mengoperasikan rumah sakit berjalan dan ingin mengenang teman-teman dan kerabatnya yang terbunuh sepanjang lintasan itu.

Para peziarah termasuk mereka yang selamat, para remaja yang terlalu muda untuk mengingat tentang perang, dan anak-anak, laki-laki dan perempuan yang lahir setelah peristiwa itu. Banyak kaum lelaki, bahkan yang sudah renta, berpatisipasi dalam tiga hari lawatan yang melelahkan menuju Srebrenica, menanggung panas 38 derajat, sama seperti yang dirasakan mereka yang lari menyelamatkan diri 16 tahun yang lampau. Kita bisa mulai membayangkan kenangan yang bangkit dalam benak mereka saat melakukan tapak tilas melintasi hutan. Mereka memberikan kesaksian orang pertama atas pengalaman melakukan lawatan saat di pemberhentian di mana mereka beristirahat dan melakukan shalat. Mendengarkan kisah pengalaman mereka sungguh menggetarkan hati.

Perpecahan Etnis

Para pengamat mengemukakan bahwa etnis Serbia dalam jumlah yang signifikan telah secara terang-terangan mengingkari apa yang terjadi di Srebrenica pada Juli 1995. Perpecahan etnis tetap terjadi di negara tersebut, yang telah memisahkan entitas Serbia dan federasi Muslim-Kroasia setelah pecahnya perang.

Ketegangan pun berlanjut hingga hari ini. Seperti yang terjadi tahun 2005, dua hari menjelang upacara peringatan ke-10 peristiwa pembantaian, polisi Bosnia menjinakkan dua buah bom ukuran besar yang telah ditanam di lokasi peringatan.

Sepanjang upacara peringatan tahun ini, pihak berwenang mendesak bangsa Serbia, baik yang berada di Bosnia & Herzegovina dan di wilayah tetangga Serbia untuk mengakui kebenaran atas apa yang terjadi di masa lalu.

Betapa mencengangkan melihat ketegaran orang-orang Bosnia. Setiap orang Bosnia yang saya temui sepanjang perjalanan terlihat tenang dan reflektif terlepas dari banyaknya kabar provokasi Serbia di Srebrenica. Shifa adalah aktivis perdamaian berusia 47 tahun dari kelompok Mothers of Srebrenica (Para Ibu dari Srebrenica), kelompok yang sangat gigih memperjuangan keadilan bagi para korban pembantaian. Ia menceritakan kepada saya bagaimana ia lari menyelamatkan diri ke Jerman setelah kehilangan suaminya dalam perang. Ia menekankan kepada anak-anaknya untuk tidak memelihara kebencian dan mengungkapkan harapannya akan terjadinya perdamaian yang abadi. Seperti banyak orang Bosnia lainnya, ia ingin menumbuhkan kesadaran atas peringatan ini dan berharap peringatan ini akan bergaung di dunia internasional seperti yang diselenggarakan di New York setiap 11 September dan peringatan tahunan dari peristiwa Holocaust Yahudi.

Upacara Peringatan

Hari saat upacara peringatan digelar, para korban selamat dan relawan bersama-sama memanggul masing-masing dari 613 peti mati yang dibungkus dalam kafan hijau dari bekas basis PBB – Belanda ke tempat peristirahatan terakhir mereka. Upacara ini berlangsung sangat emosional saat peti mati itu mengular menembus kerumunan melewati pasukan pengawal kehormatan Bosnia. Peti-peti itu diusung menuju tanah lapang yang sudah digali menjadi kuburan-kuburan untuk prosesi pemakaman massal tahunan. Nisan putih tersebar di seluruh Pemakaman Peringatan Srebrenica yang luas.

Penggali kubur telah bekerja keras siang dan malam untuk menyiapkan liang lahad untuk mengubur 613 jasad korban. Tubuh dari mereka yang tewas setelah jatuhnya Srebrenica telah diidentifikasi dengan program DNA nasional Bosnia. Sungguh ini proses yang membutuhkan ketelitian di mana para ahli dengan cermat dan berhati-hati mengumpulkan kelengkapan tulang belulang dan memeriksa kesesuaian setiap ruas tulang yang ditemukan dengan para kerabat yang selamat. Korban termuda yang dikuburkan tahun ini berusia 11 tahun dan yang tertua berusia 82 tahun.

Sepanjang upacara berlangsung, shalat jenazah diadakan bagi masing-masing dari 613 korban di pusat peringatan. Peti-peti itu dinomori dan dikuburkan dalam kuburan yang ditandai dengan nomor yang berurutan sesuai nomor di batu nisan. Setiap angka mewakili satu orang korban, seseorang yang kehilangan identitasnya dalam pembantaian tersebut kini hanya terwakili oleh angka. Air mata mengurai dalam isak tangis para pelayat, ketakberdayaan dan kesedihan mendalam tergurat dalam wajah-wajah mereka, saat orang-orang yang mereka kasihi terbaring di peristirahatan terakhirnya. Satu per satu, tiap nama dari 613 korban diucapkan oleh sang imam. Kerabat terkasih meninggalkan kuburan di penghujung hari, namun nama-nama mereka yang terbunuh terus menggema di seluruh penjuru bukit hijau yang melingkupi Srebrenica.

CATATAN DARI PENULIS

Saya ingin mengajak siapa pun yang tertarik untuk bergabung menghadiri peringatan genosida di Srebrenica yang diadakan setiap tanggal 11 Juli, dan berpartisipasi dalam Mars Mira (Pawai Perdamaian) jika memungkinkan. Ini adalah pengalaman yang sangat bermakna dan sebuah pengakuan serta partisipasi dari siapa pun dari seluruh negara akan sangat berarti bagi masyarakat Bosnia yang sedang berduka.

Anda dapat membaca lebih banyak lagi tentang Barisan Perdamaian (Peace March) di www.marsmira.org

Untuk melihat kisah-bergambar dari seremoni ini, silahkan kunjungi www.musachowdhury.comKlik pada bagian Features, kemudian ‘Srebrenica Genocide sixteen years on…’

Artikel ini telah ditampilkan pada edisi November/Desember 2011 majalah Aquila Style

Leave a Reply
<Modest Style