Modest Style

Solidaritas Muslimah: Bagaimana Saya Bisa Membantu?

,

Eren Cervantes-Altamirano merenungkan tentang konsep solidaritas sambil mengingat mereka yang menderita di wilayah-wilayah konflik.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Berikut adalah doa pendek yang saya panjatkan selepas shalat harian saya: ‘Ya Allah (SWT), mohon limpahkan aku kesabaran dan pengetahuan untuk mencari kebenaran dan menemukan jalan untuk membantu masyarakat juga sesama saudara-saudariku. Mohon bimbing aku menjalani alur peradilan sosial, sehingga aku bisa melawan ketidakadilan atau penindasan.’

Selama beberapa bulan belakangan, kita terus-menerus mendengar berita yang menyentak dari negara-negara seperti Mesir, Burma, Libia, Chechnya, Aljazair, Irak, Afghanistan, Tunisia, Palestina dan Suriah, dan beberapa lainnya. Kelompok-kelompok politik memperdebatkan soal pemberontakan, revolusi, intervensi, pendudukan militer dan opsi-opsi nyata lainnya. Namun apa makna ini semua bagi kita umat muslim terkait usaha menunjukkan solidaritas bagi saudara-saudari sesama umat muslim dan non-muslim di area-area konflik ini?

Namun apa makna ini semua bagi kita umat muslim terkait usaha menunjukkan solidaritas bagi saudara-saudari sesama umat muslim dan non-muslim di area-area konflik ini?

Solidaritas sebagai suatu konsep telah diperdebatkan secara luas. Di banyak kasus seperti Suriah, diskusi yang melibatkan aksi dari jalur-jalur internasional telah banyak dipolitisasi. Bagaimanapun, menggalang solidaritas tidak selalu bermakna membuat sebuah pilihan politik untuk memihak atau menentang kelompok-kelompok tertentu. Sebaliknya, solidaritas adalah sebuah komitmen untuk sebuah keadilan sosial, pendidikan, empati dan dukungan.

Sebagai muslim, prinsip-prinsip ini seharusnya menjadi landasan keyakinan kita, dan harus memungkinkan kita untuk menemukan persamaan mendasar. Rasulullah dikabarkan berkata: ‘Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi, bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan kesakitan karena tidak bisa tidur dan demam.’[i]

Dalam beberapa kasus, pertanyaan tentang solidaritas membingungkan kita. Menetap di Kanada, saya secara personal melihat bahwa banyak umat muslim berjuang menemukan cara untuk mendukung saudara-saudari seiman tanpa pilih kasih atau memihak kelompok tertentu. Kadangkala, ini ternyata proses yang menantang saat kita harus mempertanyakan itikad pribadi kita untuk keadilan sosial, kebebasan dan kebahagiaan. Bagaimanapun, menemukan titik keseimbangan adalah yang utama.

Oleh karena itu, setelah beberapa minggu berjuang menggali untuk mencari bentuk tindakan solidaritas apa yang sesuai bagi saya, izinkan saya menawarkan beberapa tips jawaban saat kita bertanya, ‘Apa yang bisa saya bantu?’

1. Pendidikan dan kesadaran

Terlepas dari fakta bahwa kita semua terpapar oleh media, kita harus mencari opini dan berita alternatif agar memiliki wawasan yang luas. Tanggung jawab kita adalah untuk mendapatkan informasi sebaik mungkin dan bersedia untuk membaginya.

2. Mendengarkan dan memberi mereka suara

Sebagai orang luar, kita hadir untuk mendengarkan dan mendorong orang-orang yang menghadapi konflik untuk membagi kisah mereka. Kita tidak menguasai aspirasi mereka dan kita tidak hadir untuk mewakili suara mereka.

3. Kita bukan berjuang ‘untuk…’

Solidaritas memerlukan sebuah komitmen terhadap keadilan sosial, dan artinya membantu orang lain untuk menolong diri mereka sendiri. Terutama di negara-negara di mana konflik yang terjadi sangat kompleks dan melibatkan berbagai macam kelompok, peran kita adalah untuk memfasilitasi tujuan bersama dan memahami alih-alih mengambil keputusan.

4. Mengakui keterbatasan situasi kita

Banyak dari kita berusaha memahami konflik sambil duduk-duduk di sofa empuk di rumah. Kita tak pernah berada di dalam zona konflik dan tak memiliki wawasan seperti apa rasanya. Agar memperoleh pemahaman yang baik terhadap kompleksitas konflik politik, etnik, atau internasional,  kita perlu mengakui bahwa kita adalah orang luar dengan kekhususan tertentu (misalnya ras, gender, status ekonomi, dan lain-lain). Kita tak akan pernah memahami situasi orang lain secara utuh karena kita tidak pernah berada dalam posisi mereka. Mengedukasi diri kita sendiri sebanyak mungkin adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan gambaran yang tepat akan situasi yang terjadi.

5. Mendukung organisasi-organisasi bantuan yang bereputasi

Dalam banyak kasus, bantuan terbaik adalah dengan memahami, mendengarkan dan menyediakan apa pun sarana yang kita bisa. Jika memungkinkan, sangat penting untuk menyokong organisasi-organisasi anak-anak, kamp pengungsian, bank makanan lokal dan internasional serta organisasi bantuan medis. Area-area konflik seringkali kekurangan layanan dan bahan-bahan dasar seperti air bersih, pakaian, obat-obatan dan naungan aman untuk anak-anak dan pengungsi. Kontribusi kecil bisa membuat perubahan besar.

Pada masa-masa sulit, kita sebagai umat muslim harus mengingat bahwa dukungan kita adalah sangat penting. Kemauan kita untuk berpartisipasi, mengedukasi dan berempati adalah apa yang disebut sebagai solidaritas. Solidaritas merefleksikan ide bahwa kita bisa membuat sebuah perubahan, dan bahwa kita menghargai dan menghormati saudara-saudari kita di mana pun mereka berada.

 


[i] Diriwayatkan oleh Nu’man bin Bashir, dalam Sahih Muslim, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style