Modest Style

Serangga: sumber makanan masa depan?

,
000_Par7693216-e1400091694576
Serangga giling mulai digunakan sebagai pakan ternak dan, di sebagian restoran yang inovatif, serangga digoreng atau di-fricassee sebagai hidangan untuk manusia. Foto: AFP

PARIS, 14 Mei 2014 (AFP) –Akankah belalang memberi makan dunia?

Serangga terbang tamak, yang dapat menggerombol dalam jumlah jutaan dan menggunduli ladang, telah lama dikaitkan dengan rasa lapar. Akan tetapi jika konferensi besar yang dihadiri oleh ahli makanan dan entomologis benar, belalang hasil tangkapan dan banyak serangga kaya protein lainnya akan menjadi makanan yang umum ditemukan beberapa tahun dari sekarang.

“Ada 2000 jenis serangga yang dapat dimakan. Serangga menyediakan kesempatan besar pasar yang luas,” kata Arnold can Huis, seorang dosen di Wageningen University di Belanda, tempat “Insects to Feed the World Conference” yang akan diadakan selama empat hari digelar kemarin.

Lebih dari 450 peneliti dan perwakilan dari organisasi international, termasuk Uni Eropa (UE), US Department of Agriculture (USDA) dan Food and Agriculture Organisation (FAO) PBB ikut serta.

Konferensi juga akan dihadiri oleh banyak pengusaha swasta – para pionir yang percaya bahwa memelihara dan memproses serangga akan menjadi tren di masa depan.

FAO pada Mei tahun lalu mendukung secara resmi pemanfaatan serangga sebagai makanan, menyatakan bahwa serangga sebagai makanan bukan hanya merupakan sumber vitamin dan asam amino sepanjang masa, tetapi juga bermanfaat bagi lingkungan. Menurut FAO, jangkrik, mealworm kuning, semut, ulat mopane, dan banyak spesies lainnya menyediakan cara yang aman dan rendah biaya untuk jutaan orang yang kelaparan di planet yang menghadapi krisis lingkungan dan ledakan penduduk.

Lembaga tersebut memperkirakan bahwa dunia perlu meningkatkan produksi pangan sebesar 70 persen pada 2050 agar dapat memenuhi kebutuhan 9 miliar populasi global. Produksi pangan hewan semakin bersaing untuk mendapatkan sumber daya – lahan, air, dan pupuk – dengan produksi pangan manusia dan produksi bahan bakar, kota dan konservasi lingkungan.

Saat ini, 70 persen tanah pertanian dunia telah diperuntukkan secara langsung dan tidak langsung bagi produksi daging.

Ketertarikan

Serangga giling mulai digunakan sebagai pakan ternak – nelayan harus mengeluarkan $ 1.000,00 dolar untuk satu ton tepung lalat hitam dibandingkan dengan $ 13.000,00 untuk pakan ikan – dan, di sebagian restoran yang inovatif, serangga digoreng atau di-fricassee sebagai hidangan untuk manusia.

Tapi ini baru awal, kata van Huis. Ketertarikan yang ada, ujarnya dalam wawancara di hari Selasa, “meningkat secara eksponensial”.

“Untuk pakan hewan, hal ini dapat menjadi populer dalam waktu dekat,” ujarnya dalam wawancara. “Untuk konsumsi manusia, ini mungkin dapat memerlukan waktu hingga 10 tahun.”

Paul Vantomme, yang menangani program serangga yang dapat dimakan di FAO, berkata bahwa permintaan daging yang meningkat mendesak kita untuk mencari sumber makanan yang berbeda selain dari kedelai, yang 90 persennya hanya dipasok oleh tiga negara: Argentina, Brazil, dan Amerika Serikat.

Setiap tahun, 12 juta ton ikan ditangkap dari laut sebelum diolah menjadi makanan, angka yang jelas terlalu besar untuk dipenuhi.

Manfaat lingkungan lainnya dari serangga adalah sisa emisi karbon dan penggunaan air yang sangat sedikit dibandingkan sumber makanan konvensional.

Serangga memiliki efisiensi konversi yang tinggi karena berdarah dingin, dan – terlepas dari citra yang menakutkan – memiliki sedikit kemungkinan untuk menularkan penyakit ke manusia dibandingkan hewan ternak, menurut ilmuwan.

“Serangga rata-rata dapat mengubah 2 kg makanan menjadi 1 kg massa serangga, sedangkan ternak memerlukan 8 kg makanan untuk menghasilkan 1 kg berat badan,” kata FAO.

Seorang juara Entomophagy — sebutan untuk tindakan memakan serangga — yang tak tahu malu, van Huis, berharap bahwa konferensi ini menandai langkah pertama kampanye pemberangusan undang-undang yang tak perlu.

“Undang-undang yang ada kini menghambat dan ini harus diselesaikan,” ujarnya. “Anda tidak diperkenankan untuk membunuh ternak di tempat pengembangbiakannya – dan serangga adalah hewan, yang berarti Anda perlu rumah jagal untuk serangga, yang tentu saja adalah ide yang gila.”

Leave a Reply
<Modest Style