Modest Style

Sepupu transjender saya, anggota keluarga saya

,

Sebuah sekolah Islam untuk perempuan transjender dibuka kembali di Indonesia, memaksa Lina Lewis untuk merefleksikan penerimaan kita terhadap mereka di dalam masyarakat luas dan sebagai Muslim.

Maryani, almarhumah pendiri Pesantren Waria Al Fatah, sebuah sekolah untuk perempuan transgender, berdoa di rumahnya di Yogyakarta pada 2008. AFP Photo / Adek Berry
Maryani, almarhumah pendiri Pesantren Waria Al Fatah, sebuah sekolah untuk perempuan transgender, berdoa di rumahnya di Yogyakarta pada 2008. AFP Photo / Adek Berry

Pada tahun 2008, seorang perempuan transjender Indonesia bernama Maryani (dikenal luas dengan hanya satu nama) mencatat sejarah saat membuka Pesantren Waria Al Fatah, sebuah sekolah Islam berasrama untuk perempuan transjender. Sekolah tersebut, terletak di kota Yogyakarta, Jawa Tengah, merupakan yang pertama di dunia.

Dengan meninggalnya Maryani bulan lalu, sekolah tersebut dipindahkan ke rumah aktivis LGBT Shinta Ratri, lapor Jakarta Post.

Dengan dukungan Universitas Nahdlatul Ulama Jepara di Jawa Tengah, sekolah tersebut menawarkan 35 siswanya pelajaran tentang Islam, membaca Qur’an, dan shalat.

Di acara pembukaan kembali sekolah tersebut, sebuah pidato disampaikan oleh Abdul Muhaimin, seorang angota kelompok advokasi setempat. “Setiap orang memiliki hak untuk memaknai agama mereka dengan cara mereka. Menurut Qur’an, kita tidak boleh membedakan orang berdasarkan nilai ekonomi, sosial, politik, jender, atau agamanya.”

Saya berharap seluruh dunia mau memahami pesan mendalam tersebut dengan hati.

Salah satu sepupu saya adalah seorang transjender. Saat kami kecil, ia sering bermain rumah-rumahan dengan para saudari dan sepupu perempuan saya sementara saudara dan anak lelaki lainnya akan menyuruh saya mengambil posisinya dalam permainan sepak bola atau kasti.

Sepupu saya menyukai tari tradisional Melayu, dan bersekolah di sekolah sekuler sekaligus madrasah seperti kami semua. Tidak satupun dari kami pernah merasa ia aneh sebagai seorang anak lelaki yang lebih suka melakukan hal-hal yang dilakukan anak perempuan.

Saat remaja, gerak-gerik femininnya makin terlihat. Akhirnya, saat memasuki dunia kerja dan mulai menghasilkan uang sendiri, ia memutuskan menjadi seseorang yang selalu ia inginkan – seorang perempuan.

Bagi kami para sepupu, keputusannya tidak mengejutkan. Justru kami menjadi sangat penasaran. Kami memberi berbagai pertanyaan mulai dari operasinya hingga suntik hormon. Ia masih menjadi bagian dari kami dan kami tidak melihatnya sebagai seseorang yang berbeda.

Namun, orangtuanya tidak menerima perubahan tersebut dengan baik. Mereka menolaknya dan akan berdiam diri jika ada yang menanyakannya. Butuh bertahun-tahun sebelum akhirnya mereka menerima kenyataan dan menerima sepupu saya apa adanya.

Sayangnya, bagi sepupu saya dan transgender lain, stigma sosial masih menghantui mereka. Sepupu saya ditertawakan dan dijadikan tontonan aneh. Saya mengagumi kekuatan dan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai hal agar tidak mempengaruhinya.

Hingga kini, salah satu paman kami, seorang lelaki taat agama yang menganggap dirinya penasihat keluarga, masih memperlakukan sepupu saya seakan ia tidak kasat mata. Di acara-acara keluarga, ia akan berpaling jika sepupu saya kebetulan berada di depannya.

Saya masih ingat apa yang paman tersebut katakan kepada saya dan para sepupu: “Jangan sekalipun berbicara dengannya. Kalau tidak, saat ia masuk neraka, ia akan membawa kalian semua bersamanya.”

“Peringatannya” mengejutkan saya. Bagi saya, tidak seorang pun berhak mengutuk sesama Muslim, karena saya sangat meyakini bahwa setiap orang memiliki hak untuk memeluk Islam dan mempraktekkannya, apapun warna kulit, status sosial, maupun orientasi seksual mereka.

Ucapan paman tersebut mengganggu saya, jadi saya menceritakan hal ini pada ayah saya. Dengan gaya santainya, ayah saya mengatakan hal ini pada saya dan para saudari saya:

“Pernahkah sepupu kalian berbuat salah pada kalian? Pernahkah ia entah bagaimana menyinggung kalian? Perlakukan ia seperti manusia lain – jika ia baik pada kalian, maka kalian harus baik padanya. Tidak ada alasan untuk bersikap tidak ramah padanya hanya karena ia berbeda.”

Saya merasa lega mendengarnya. Tentunya ayah saya menganggap transgender berbeda dari kebanyakan kita – ia tidak terlalu progresif – namun ia merasa hal tersebut bukan alasan untuk memperlakukan mereka dengan berbeda.

Saya berharap setiap orang berpikir seperti itu. Saya tidak mengharapkan masyarakat menjadi sangat bersahabat dengan para transjender, namun setidaknya berhenti menyebar kebencian terhadap mereka merupakan awal yang baik. Dan setelah mendengar tentang perjuangan sepupu saya mendapat pekerjaan, saya berharap para pemberi kerja juga memberi orang-orang transjender kesempatan yang sama.

Leave a Reply
<Modest Style