Modest Style

Sepanjang Usia Cinta

,

Sheena Baharudin menggali makna cinta di sepanjang zaman, tempat dan spesies.

INA WP-sheena-love-sm

Apa cinta itu? Apakah cinta adalah perasaan antara pria dan wanita, orangtua dan anak, manusia dan hewan, Tuhan dan umat manusia? Apakah cinta mencakup semua perasaan tersebut? Mampukah cinta mencakup semuanya? Apakah cinta yang kita kenal selama ini selalu ada, ataukah cinta berkembang dari waktu ke waktu? Apakah cinta romantis dalam budaya modern penting buat hidup kita ataukah hanya penting untuk layar lebar?? Cinta adalah konsep yang kabur, kata yang diucapkan begitu saja dengan gegabah, yang terkadang malah membuatnya kehilangan makna, atau maknanya sama sekali berbeda antarorang. Meski begitu, cinta memang ada dan kita masih menggunakannya, merasakannya, dan sesekali hancur karenanya. Bahkan mungkin poin terakhir itulah yang paling relevan: bila wujudnya tidak nyata, kenapa cinta bisa begitu menyakiti kita?

Kelihatannya cinta tidak hanya dirasakan manusia. Psikolog Amerika yang terkenal dengan eksperimennya yang kontroversial, Harry Harlow, membuktikan monyet rhesus pun mengalami perasaan yang mirip. Dia melakukan banyak sekali percobaan dengan monyet jenis ini, di mana dia menyediakan dua macam boneka ibu buat mereka: satu yang bisa menyusui—dengan menggunakan susu botol—sedangkan satunya lagi menawarkan kenyamanan, dengan menggunakan bantalan empuk. Ternyata monyet-monyet itu selalu memilih ‘ibu’ berbantalan empuk, terutama saat mereka ketakutan. Oleh sebab itu, Harlow menyimpulkan monyet lebih tertarik pada kenyamanan daripada makanan.

Ada banyak contoh yang mengesankan cinta terjadi di antara jenis makhluk hidup lain. Bukti dari alam liar menunjukkan gajah merasakan sesuatu yang mirip dengan cinta. Ikatan antara induk gajah dan anak perempuannya, misalnya, dapat bertahan lebih dari 50 tahun. Kelihatannya gajah juga berkabung atas kematian sesamanya, di mana anggota kawanan yang masih hidup berulang kali menyentuh mayat gajah yang terkapar, mengusap gigi dan gadingnya, menutupi bangkainya dengan lumut dan menjaganya selama berminggu-minggu, sekalipun di sekitarnya hanya ada sedikit sumber air atau makanan. Tampaknya ingatan mereka sangat kuat dengan ikatan yang begitu abadi sehingga mereka akan selalu kembali ke ‘kuburan’ gajah-gajah yang sudah mati bertahun-tahun yang lalu, tanpa henti.

<Pull out> Tugasmu bukan mencari cinta, tapi hanya mencari dan menemukan tembok yang kau bangun di dalam dirimu yang menghalangimu darinya’

Anjing pun menunjukkan kesetiaan dan apa yang sejauh ini bahkan disebut cinta oleh sebagian orang. Hachiko, anjing jenis Akita dari Jepang, adalah contoh dari ikatan yang istimewa ini. Selama hampir 10 tahun setelah pemiliknya meninggal mendadak di kantor, Hachiko selalu kembali ke stasiun Shibuya di Tokyo, karena sewaktu pria itu masih hidup, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk bertemu di sana setelah tuannya usai bekerja. Hachiko sendiri meninggal pada tahun 1935 tapi sebelum itu dia telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional dan simbol kesetiaan.

Pada tahun 2006, terjadi lagi fenomena yang sama dengan seekor anjing gembala Jerman bernama Capitan, yang menolak meninggalkan kuburan majikannya. Saat kematian tuannya, anjing itu kabur dari rumah dan muncul lagi hanya ketika pihak keluarga berziarah ke makam yang tidak pernah ditinggalkan Capitan selama enam tahun. Demikian menurut pemberitaan surat kabar yang terbit pada 2012.

Jadi, sepertinya hewan pun mempunyai cinta—terutama mereka yang hidup berkelompok atau bergerombol—tapi bagaimana dengan manusia? Apakah konsep yang kita punya sudah berlaku universal atau samakah cinta zaman dulu dengan cinta saat ini? Jawaban singkatnya, tidak. Sebagai contoh, pada Abad Pertengahan di Eropa, ada istilah courtly love (cinta ningrat), tapi ini—seperti namanya—hanya dimiliki kaum bangsawan. Cinta seperti ini merupakan jalinan yang menjangkau sisi-sisi spritual, keagamaan dan cinta, lebih dari itu, dianggap sebagai hubungan rahasia dan setengah terlarang, serta tidak terjadi di antara suami-istri.

Sementara itu, bangsa Yunani kuno memiliki empat istilah yang berlainan untuk cinta, yang mereka anggap berbeda secara konseptual. Mereka mempunyai Agape, yaitu cinta sejati atau cinta tanpa syarat yang dirasakan terhadap anak maupun pasangan; Eros, hasrat sensual atau asmara (alias nafsu); Filia, cinta kasih atau kesetiaan terhadap teman, keluarga dan masyarakat; terakhir, Storge, yang juga disebut kasih sayang atau penerimaan, misalnya terhadap anggota keluarga atau cinta yang sifatnya kewajiban.

Kemudian ada cinta religius, atau cinta antara Tuhan dengan manusia, yang telah mengisi berbagai buku serta keseluruhan hidup kita. Sulit untuk melupakan kata-kata mutiara dari penyair Sufi abad ke-13, Rumi, yang menulis, ‘Tugasmu bukan mencari cinta, tapi hanya mencari dan menemukan tembok yang kau bangun di dalam dirimu yang menghalangimu darinya’. Kitab Zabur 42 berbunyi, ‘Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan-Mu, ya Allah’.

<Pull out>  Cinta, sepertinya, terbentuk oleh persepsi dan keyakinan kita terhadapnya, yang artinya cinta berubah mengikuti perubahan masyarakat

Terakhir adalah pemahaman dunia barat masa kini tentang cinta, yang menghampiri kita dalam bentuk buku dan film layar lebar. Cinta ini tampaknya berbeda dari ragam cinta di atas karena beberapa alasan, terutama karena cinta jenis ini sama sekali tidak nyata. Penelitian yang dilakukan Bjarne Holmes dari Heriot Watt University membuktikan bahwa mereka yang terbiasa menonton film-film romantis atau komedi romantis merasa kurang bahagia dalam hubungan mereka dibandingkan dengan yang tidak melakukannya; penyebabnya adalah harapan yang tidak realistis. Kesimpulannya, apa yang ditampilkan di layar sesungguhnya tidak mungkin terwujud dalam kehidupan nyata.

Jadi, apa itu cinta? Cinta kelihatannya memang ada, baik pada manusia maupun hewan. Akan tetapi, barangkali cinta zaman sekarang tidak lagi sama dengan cinta tempo dulu, dan agaknya akan berbeda juga dengan cinta di masa depan. Cinta, sepertinya, terbentuk oleh persepsi dan keyakinan kita terhadapnya, yang artinya cinta berubah mengikuti perubahan masyarakat. Hal ini menjadikan setiap usaha untuk menjelaskan cinta bagaikan memukul benda yang bergerak terus. Oleh sebab itu, mungkin gagasan terbaik adalah berhenti untuk mencoba mengartikan konsep sekabur itu ke dalam satu definisi. Sebaliknya, simpan pemikiran tentang gagasan serumit itu bagi diri sendiri. Atau barangkali kita bisa mencoba satu langkah yang lebih sederhana. Daripada mencoba memahami cinta, lebih baik kita berusaha untuk mengalaminya—untuk merasakannya lengkap dengan kebahagiaan serta, ya, penderitaan yang ditimbulkannya. Karena apalah artinya cinta tanpa sesekali menderita?

Leave a Reply
<Modest Style