Modest Style

Seniman-seniman Muslim Kelas Dunia

,

Dengan membahas tema-tema yang melampaui batasan-batasan geografis, politis dan sosio-kultural dengan kepekaan dan kecanggihan, seniman-seniman muslim terus mengembangkan diri di antara para praktisi seni dunia. Sheena Baharudin terpesona saat menelusuri beragam karya desain yang menakjubkan, yang mampu menstimulasi dan memprovokasi pemikiran.

2402-WP-Muslim-Artists-of-the-World

Ketika Pablo Picasso dengan ringkas mendeskripsikan seni sebagai suatu hal yang ‘membasuh jiwa dari debu kehidupan sehari-hari,’ ia mengungkapkan misi dari para seniman yang menawarkan cara alternatif untuk mengamati dan mengapresiasi hidup di sekeliling kita. Dalam dunia Islam, berbagai bentuk karya seni, mulai dari puisi yang fasih hingga prestasi arsitektur yang gemilang, dicipta untuk mensyukuri budaya yang beragam, seperti sebuah pemersatu keyakinan yang dilakukan oleh dinasti Ottoman, Bani Umayyah, Mogul, Bani Abbasiyah dan lainnya. Memasuki abad 21; tradisi yang kaya ini berlanjut.

Aquila Style mempersembahkan sederet pilihan seniman muslim terpandan yang telah membuat penanda abadi dalam dunia seni masa kini.

Farhad Moshiri

[Not a valid template]

Telah menyelenggarakan 20 pameran tunggal di seluruh dunia dari Teheran sampai Paris, artis multi-disiplin bernama Farhad Moshiri ini belakangan menjadi artis Iran pertama yang meraih bayaran sebesar lebih dari US$1 juta untuk karyanya Eshgh – Love, yang ia ciptakan dari kristal dan gliter di atas kanvas dengan akrilik.

Lulusan Institut Seni California ini juga paling dikenang atas karya monumentalnya berupa stoples dan mangkuk yang dilukis di atas kanvas dengan kaligrafi yang diletakkan di atasnya. Salah satu contoh karyanya adalah Drunken Lover, di mana kata-katanya adalah ringkasan dari sebuah puisi yang digubah oleh penyair Sufi, Umar Khayyam. Sebagai artis yang peka terhadap perkembangan budaya pop, ia menjadi artis kolaborator seni-murni yang bekerja sama dengan Louis Vuitton dalam pengerjaan etalase-pajang dari gerai-gerai di Dubai dan Abu Dhabi.

Shirin Neshat

[Not a valid template]

Paling dikenal dengan karya-karyanya di bidang fotografi, video dan film, Shirin Neshat memadukan seni dengan gambar-gambar untuk mengamati kontras dan kompleksitas Islam. Karya utamanya yang pertama menandai kembalinya ke negara asalnya Iran di tahun 1990 dari Amerika Serikat. Perubahan sosial dan budaya yang cepat menjadi perhatiannya semenjak kunjungan pertamanya saat revolusi tahun 1979 mendorong lahirnya karya serial Women of Allah. Diciptakan antara tahun 1993 hingga 1997, karya ini mengeksplorasi peran perempuan yang hidup dalam masyarakat ideologis.

Serial Women of Allah menampilkan suguhan hitam putih yang mencekam dari potret seorang perempuan yang dipadukan dengan kaligrafi Persia, yang kebanyakan dikutip dari karya penyair Forugh Farrukhzad. Sebagai artis yang diakui secara luas, ia telah dianugerahi penghargaan prestisius Dorothy and Lillian Gish Prize di tahun 2006 dan dinobatkan sebagai Artist of the Decade oleh kritikus Huffington Post, G Roger Denson. Karyanya terus dipamerkan di negara-negara di berbagai belahan dunia – Jepang, Belanda, Portugal, Inggris, Austria dan banyak lainnya.

Hadieh Shafie

[Not a valid template]

Kualitas kedalaman kontemplasi selalu hadir dalam karya Hadieh Shafie, kemungkinan berpangkal dari keputusannya untuk fokus pada ‘repetisi, proses dan waktu’. Beberapa pengagumnya bahkan membandingkan karya-karyanya dengan karya milik ikon seni Jasper Johns, seorang artis yang memberi pengaruh pada artis-artis yang lebih muda sebelum dan selama kebangkitan seni pop dan minimalis.

Ia dikenal lewat ciri khas karyanya berupa serial kertas-gulung,  yang terdiri dari ribuan gulungan kertas kecil, dengan kata ‘eshghe’ tertulis di dalamnya, yang dengan teliti dan cermat dijalin sebelum kemudian dirangkai menjadi ‘lukisan’ yang menampilkan seni lingkaran. Terinspirasi dari seni dan budaya Islam, Hadieh mengungkapkan bahwa ‘bahan dan teks dalam format yang terkonsentrasi itu terinspirasi langsung dari tarian Sama dari para darwis yang menarikan tarian berputar’. Dianggap sebagai artis muda paling menjanjikan di masa kini, bakatnya dikenali saat ia dinominasikan pada penghargaan 2011 Jameel Prize dari sebuah daftar perdana yang terdiri dari hampir 200 orang artis dan desainer yang dinominasikan.

Haji Noor Deen

[Not a valid template]

Seorang ahli yang ternama di bidang kaligrafi Arab serta ahli dalam kaligrafi Cina-Islami yang dikenal sebagai Sini, Haji Noor Deen menggabungkan dua tradisi kaligrafi untuk menciptakan karya-karya seni yang tiada duanya.

Karya-karya Haji Noor Deen telah tampil dalam aneka pameran di British Museum, Harvard Art Museum dan banyak lainya. Keahliannya dalam kaligrafi Arab secara resmi telah diakui pada tahun 1997, saat ia dianugerahi penghargaan Sertifikat Kaligrafi Arab, membuatnya menjadi orang berkebangsaan Cina pertama yang pernah menerimanya. Selain mengadakan penelitian tentang Kebudayaan Islam di Henan Academy of Sciences, saat ini ia mengajar di Zhengzhou Islamic College di Cina dan Zaytuna College di California.

eL Seed

[Not a valid template]

Sebagai seorang warga Perancis keturunan Tunisia yang besar di Paris, karya-karya el Seed dapat dikatakan sebagai sebuah petualangan pencarian jati diri. Meski ia juga berkarya di atas kanvas, kejeniusan el Seed terbukti pada keahliannya dalam memadukan seni kaligrafi dengan grafiti jalanan.

Bahkan ia menciptakan nama untuk seni itu – ‘kaligrafiti’. Ia menjelaskan, ‘Saya merasa saya membawa tradisi budaya ke dalam realitas kehidupan modern sambil tetap mempertahankan warisan budaya saya.’ Lebih jauh el Seed mengungkapkan bahwa ia mengikuti tradisi awal dari puisi Arab, semenjak awal karya-karya ini dituliskan, yang seringkali ditulis tanpa nama. Hal ini menunjukkan bahwa yang penting adalah pesan yang akan disampaikan, bukan sumbernya. Dalam upayanya mempromosikan sebuah seni yang mudah dikenali oleh orang-orang dengan latar belakang apa pun, ia bisa ditemui sedang menghadiri perbincangan untuk mendiskusikan perihal kaligrafi-jalanan Arab dan berpartisipasi dalam program-program kebudayaan yang penting seperti Sharjah Islamic Arts Festival.

Rachid Koraïchi

[Not a valid template]

Keturunan dari sebuah keluarga sufi Aljazair kuno, karya-karya Rachid Koraïchi menunjukkan hubungan mendalam dengan mistisisme Islam. Ia menganggapnya setara dan terhubung erat dengan naskah dan puisi Arab, sebuah semangat yang kemungkinan punya andil atas kolaborasinya dengan para penyair seperti Mahmoud Darwish dan Michel Butor.

Selama beberapa tahun, artis ini telah memproduksi karya-karya yang memanfaatkan berbagai ragam media mencakup keramik, logam, sutra, kertas dan kanvas. Sebuah mahakarya yang banyak diperbincangkan orang yaitu instalasi berjudul The Path of Roses, yang terdiri dari patung-patung baja dan lipatan benang yang disulam di atas sutra. Karyanya itu termasuk di dalam koleksi unggulan pribadi dan publik di seluruh dunia termasuk di British Museum, National Museum of African Art dan Museum of Islamic Art di Doha. Pada tahun 2011 Ia dianugerahi penghargaan Jameel Prize, yang memberi pengakuan kepada artis-artis terkemuka yang mengawinkan desain kontemporer dengan tradisi Islami.

Mona Hatoum

[Not a valid template]

Seorang artis instalasi tersohor yang karyanya pernah disebut ‘mengerikan’, Mona Hatoum menciptakan karya-karya instalasi, patung, video dan karya di atas kertas yang ditujukan untuk mendorong dan menstimulasi perbincangan. Sebuah contoh karyanya yaitu Homebound, yang mana barang sehari-hari seperti perkakas, kursi dan sebuah meja dialiri dengan listrik, sehingga membuat benda-benda itu menjadi berbahaya.

Meski terlahir di Lebanon, Mona Hatoum tetap setia kepada  warisan leluhur Palestina yang diabadikan lewat karya-karyanya, terutama di awal tahun 1980-an. Karya-karyanya sering terlihat berkenaan dengan identitasnya sebagai sebuah bentuk pelarian dalam  ‘berjuang untuk bertahan dalam sebuah kondisi peperangan yang tidak berkesudahan…’. Penerima penghargaan bergengsi Joan Miró Prize di tahun 2011, pameran tunggal Mona yang diadakan baru-baru ini, Projection, berlangsung di Barcelona sampai tanggal 24 September.

Artikel ini versi aslinya diterbitkan dalam edisi Mei 2012 majalah Aquila Style 

Leave a Reply
<Modest Style