Modest Style

‘Omyangan’ Tentang Indonesia

,

Kesuksesan acara Sisterhood masih segar dalam ingatannya, Dina Toki-O berbagi pengamatannya tentang mode, peran gender, dan budaya di Indonesia.

Colours-Galore-600px
Pada acara Sisterhood dengan beberapa saudari tercantik di Jakarta

Beberapa minggu silam saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi Ibukota Indonesia, Jakarta, sebagai salah satu dari pengisi acara Sisterhood yang diadakan oleh Dian Pelangi. Ini pertama kalinya saya mengunjungi Asia Tenggara, jadi saya sedikit gugup.

Awalnya, saya menduga Jakarta mirip dengan Kairo: dijejali orang dari berbagai lapisan, macet, panas, jalan-jalan yang kotor, pengemis, dan orang-orang yang bising! Saya gembira ketika menemukan kesamaan yang dimiliki antara Jakarta dan Kairo ‘hanyalah’ kemacetan lalu lintas serta jumlah pengemis jalanan. Harus saya sebutkan pula, ada perbedaan besar dalam teknik mengemis mereka. Di Kairo kita lebih mungkin untuk diserang. Di Jakarta kita akan mendengarkan sebuah lagu sebagai ganti untuk sedikit uang atau makanan!

Jalanan Jakarta dipenuhi dengan spanduk dan baliho. Saya melihat model berhijab di mana-mana — hijab ini-hijab itu — dengan gaya berkerudung yang sempurna. Mereka menyukai gaya itu di sana! Di Kairo, semua orang berusaha  keras untuk bergaya Barat; papan-papan iklan dihiasi poster gadis pirang khas Amerika. Semakin makmur orang Mesir, semakin ia cenderung untuk tidak menyukai hijab. Hijab bahkan dilarang di beberapa instansi di Kairo. Di tempat-tempat lain kita mungkin diperbolehkan masuk hanya jika mengenakan yang mereka sebut kerudung bergaya Spanyol, yang modelnya agak lebih terbuka dan lebih ‘seksi’ dari gaya kita sehari-hari.

Orang Indonesia tampaknya secara umum jauh lebih tenang, bagaimanapun situasi atau latar belakang mereka. Saya bahkan tidak menyaksikan satu pun adegan adu mulut di antara mereka, di mana pun! Saya juga tidak ingat mendengar orang berteriak. Bahkan, satu-satunya suara agak nyaring yang saya dengar hanyalah pekikan penonton yang bersemangat dan ceria pada acara yang berlangsung selama dua hari tersebut!

[Not a valid template]

Pada tiga hari pertama kunjungan saya, saya bertemu banyak wanita dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, dan beberapa dari Australia! Hotel kami penuh dengan lautan wanita paling elegan dan cantik yang pernah saya temui, mayoritas dari mereka mengenakan hijab penuh. Maksud saya  dengan ‘hijab penuh’ adalah mereka menutup kepala sampai ujung kaki, dengan tidak satu inci pun leher, lengan, atau sehelai rambut menyembul keluar. Tidak ada. Para wanita ini sangat berhati-hati dalam menjaga setiap bagian tertutup dan tersemat untuk memastikan tidak ada yang melenceng dari posisinya. Namun mereka melakukannya dalam pola dan gaya yang paling rumit dan mencolok yang pernah saya lihat. Bagi saya, ini sangat mengagumkan. Tampaknya di Indonesia wanita dan anak perempuan tidak membiarkan hijab menghentikan aktivitas mereka — selain batas-batas yang jelas, tentu saja, yang saya yakin kita ketahui sendiri!

Para suami memotret ‘ gaya mutakhir’  sang istri  untuk diunggah di blog, kemudian mengurus anak-anak sementara istri mereka menikmati acara Sisterhood. Beginilah seharusnya pria: mendukung para istri

Saya dikelilingi aktris, penyanyi, model, presenter TV, pembawa acara, pemilik butik yang tak terhitung jumlahnya, dan sesama desainer, semua berhijab. Saya tidak pernah mengalami begitu banyak dukungan dalam berhijab seperti ini selain di Indonesia mana pun. Dapat dibayangkan, pikiran saya berdengung dengan ide-ide dan penuh dengan inspirasi selama saya di sana! Terlebih lagi, tampaknya sebagian besar wanita yang datang sudah menikah, dan mereka mengajak suami mereka untuk menemani mereka ke acara tersebut. Ingat, acara ini khusus untuk perempuan saja. Para suami datang dari jauh untuk mendukung minat istri mereka dalam fashion dan gaya hijab, beberapa di antaranya datang dari tempat yang sangat jauh. Saya merasa ini menakjubkan. Koridor dipenuhi dengan pasangan suami istri. Para suami memotret ‘gaya mutakhir’ istri mereka untuk diunggah di blog,  kemudian mengurus anak-anak, sementara sang istri menikmati acara Sisterhood.

Seharusnya saya tidak perlu heran. Beginilah seharusnya pria: mendukung sang istri (dan sebaliknya). Tapi sebagai seorang perempuan berhijab dari Inggris, saya tidak bisa mengatakan ada laki-laki muslim di Inggris akan mendukung istri mereka yang berhijab bekerja di bidang fashion, menyanyi, akting, atau membawakan acara. Mereka mungkin akan mendukung istri mereka jika mereka menjadi dokter, guru, atau apoteker — ya, banyak pria senang jika istri mereka memiliki profesi semacam itu. Tapi membawakan acara atau merancang mode? Tidak begitu banyak. Budaya yang sama sekali berbeda saya temukan di Indonesia. Dari apa yang saya alami di negara-negara lain baik di Arab atau Asia, sangat sulit menemukan suami yang senang bila istrinya tampil di panggung, penampilannya ditayangkan di televisi nasional, atau istrinya menjadi model atau pembawa acara.

Yang saya temukan, di Indonesia tidak ada saling menghakimi. Mereka tidak memiliki ganjalan tentang Islam, mereka menikmati setiap aspeknya. Para wanitanya tidak nyinyir satu sama lain, dan setiap orang menyapa Anda dengan senyum, walaupun mereka tidak mengenal Anda. Jika ada nasihat Islami yang diberikan satu orang ke orang lain, ini dilakukan dengan hati yang paling tulus dan dengan cara yang ramah –sama sekali tidak menggurui seperti yang saya alami di Kairo atau Inggris. Di sini, di London, jika kita kebetulan terlihat cantik hari itu, tidak diragukan lagi kita akan berpapasan dengan sesama  wanita berhijab yang akan melihat kita dari atas ke bawah dan mencibir karena cemburu atau jijik karena hijab gaya kita ‘haram’. Seolah-olah hanya ada hijab cara mereka atau tidak sama sekali. Tentu saja ada wanita berhijab yang baik juga di Inggris, saya hanya menggambarkan sikap umum. Di Indonesia, masyarakatnya terbuka untuk ide-ide dan menerimanya, dan ini tampak dalam keragaman gaya di sana.

Saya sendiri menerima begitu banyak kebencian dan komentar jahat atas apa yang saya lakukan, karena tindakan saya dianggap ‘haram’ dan ‘merusak generasi muda’. Salah satu video saya bisa menghasilkan debat besar antara ‘ulama’ YouTube dan Facebook. Dalam seminggu perjalanan saya ke Indonesia, tidak ada satu pun komentar negatif saya terima, Alhamdulillah. Kesimpulan: rasanya saya selama ini telah berdiam di sisi dunia yang salah!

Leave a Reply
<Modest Style