Modest Style

‘Saya harus menginjak tubuh teman-teman saya agar selamat’

,
Sekitar 485 penambang berhasil keluar hidup-hidup. AFP Photo
Sekitar 485 penambang berhasil keluar hidup-hidup. AFP Photo

SOMA, 17 Mei 2014 (AFP) – Murat Yokus mungkin telah berhasil menyelamatkan diri dari ledakan tambang Turki yang paling mematikan, namun ia tidak dapat menghapus ingatan tentang teman-temannya yang berjatuhan satu persatu, tercekik asap tebal yang memenuhi terowongan tempat mereka terjebak.

“Saya harus menginjak tubuh teman-teman untuk menyelamatkan diri, saya harus tersandung di atas mereka,” ia mengingat-ingat dengan air mata menggenang, lima hari setelah tragedi yang memakan 301 korban jiwa.

Pria berusia 29 tahun ini merupakan satu di antara 486 penambang yang berhasil keluar hidup-hidup dari ledakan dan kebakaran di kota barat Soma pada hari Selasa. Dan bukan hanya itu.

“Kejadiannya tidak dapat digambarkan,” kenang Murat. “Saya sedang akan keluar dari tambang untuk pulang ketika kami melihat munculnya asap. Awalnya, bos saya menyuruh kami menunggu, namun kami mulai merasa tidak sabaran.”

Sekira 100 di antara mereka berdesakan di sebuah area seluas 300 meter persegi. Dan saat ia mengetahui bahwa rekan pekerja yang ditempatkan di bagian tambang lain telah mati tercekik, ia memutuskan untuk melanggar perintah bosnya.

“Saya mengatakan pada diri saya, ‘Saya tidak akan mati di sini, tidak sekarang’,” ujar Murat. “Saya mengambil masker oksigen yang belum pernah saya gunakan hingga saat itu dan mulai berjalan. Saat menoleh ke belakang, saya melihat banyak teman terkapar di tanah.”

Mereka sedang “tercekik, berusaha bertahan seperti hewan kurban, mereka berjuang melawan kematian”.

Merasa yakin akan mati saat itu, Murat mengatakan ia berpikir tentang “dua anak kecilnya, istrinya, keluarganya”.

“Saya membaca doa terakhir saya sebelum tidak sadarkan diri,” ujarnya. Untungnya, ia segera dievakuasi.

Saat sedang diangkut oleh pekerja penyelamatan, Murat mulai sadarkan diri dan memilih untuk berjalan sendiri.

“Anda tidak dapat membayangkan kepanikan saat itu, teman-teman saya berjalan mondar-mandir, gelisah, takutan,” ujarnya.

Meski para penambang menyadari bahwa pekerjaan mereka berbahaya, Yokus berkata tidak ada yang benar-benar siap menghadapi kecelakaan semacam ini.

Laporan awal ahli tentang kecelakaan ini, seperti yang dimuat oleh koran Milliyet, menunjukkan adanya beberapa pelanggaran keamanaan di tambang, termasuk kekurangan pendeteksi karbon monoksida dan langit-langit yang terbuat dari kayu dan bukannya besi.

Namun Yokus, yang membahayakan hidupnya untuk 800 euro (Rp 12,6 juta) sebulan, tidak akan menjelekkan perusahaannya maupun mempertanyakan apakah standar keamanan telah dipenuhi di tambang. Meski dengan adanya kejadian ini, ia berencana kembali menambang untuk sepuluh tahun lagi agar dapat memenuhi persyaratan pensiun dini.

“Kami tidak dapat melakukan apa-apa. Di sini tidak ada peternakan, tidak ada perusahaan lain, tidak ada pekerjaan lain,” ujar Yokus, yang ayahnya juga bekerja sebagai penambang. “Namun saya akan pindah ke tambang lain. Di tambang yang satu ini, saya telah kehilangan terlalu banyak teman untuk dapat kembali memasukinya.”

Leave a Reply
<Modest Style