Modest Style

Saya dan Miss America

,

Meski Isra Hashmi tidak meragukan keaslian kewarganegaraannya, banyak orang di sekitarnya masih sangsi apakah Miss America, Nina Davuluri, benar-benar warga negara Amerika Serikat.

Foto: Stockvault
Foto: Stockvault

Saya adalah orang Amerika. Cukup jelaskah pernyataan ini? Jika Anda melihat saya memakai kerudung, busana longgar dan tersenyum malu-malu, masihkah Anda menganggap saya orang Amerika? Dan pentingkah hal itu untuk dipersoalkan?

Ternyata, ya.

Untuk pertama kalinya, seorang wanita keturunan India, Nina Davuluri, dinobatkan sebagai Miss America 2014. Dia lahir dan dibesarkan di Amerika Serikat. Orangtuanya pun sudah tinggal di negara ini selama 30 tahun. Meski begitu, belum lagi mahkotanya berumur sehari, dia sudah harus menghadapi segudang caci maki.

Para penonton acara penobatannya menumpahkan unek-unek di Twitter dan menuntut jawaban atas sejumlah pertanyaan seperti ‘Kenapa bukan orang Amerika yang menang?’, ‘Mengapa mereka memilih Muslim sebagai pemenang?’ dan ‘Kenapa seorang teroris yang dipilih sebagai Miss America?’.

Ratu kecantikan yang baru dinobatkan itu warga negara Amerika, lahir dan dibesarkan di negara ini. Dia bukan Muslim, walaupun menganut agama apa pun tidak ada sangkut pautnya dengan status seseorang di paspor. Dan pengetahuannya tentang terorisme mungkin sama banyaknya dengan orang lain yang menonton siaran berita. Namun hal itu tidak menghentikan serangan rasis terhadap asal usulnya dan keluarganya, mengekspos sisi warga negara kelas dua yang terlalu sering dihadapi banyak orang, termasuk saya.

Saya lahir dan dibesarkan di Amerika. Dan ya, saya pun keturunan India. Tapi tidak ada negara lain di dunia ini yang memiliki ikatan dengan saya, yang telah menjadi tempat tinggal saya, dan yang saya anggap rumah, kecuali Amerika Serikat. Tetapi kulit saya kecokelatan, mata saya gelap dan saya menutupi rambut dengan kerudung.

Penampilan fisik saya telah mendefinisikan tingkat kesetiaan saya kepada satu-satunya negara yang saya anggap rumah. Untuk setiap ciri fisik yang tidak cocok dengan ciri umum orang Amerika, level kewarganegaraan saya kontan merosot.

Minggu lalu saya ke Starbucks untuk membeli minuman yang biasanya saya pesan setiap pagi, Pumpkin Spice Latte. Sambil memperhatikan barista menghangatkan susu kedelai dan menambahkan sedikit sentuhan whipped cream di atas minuman saya, suara keras dari sebelah kanan menghilangkan konsentrasi saya.

‘Dari mana asal Anda?’ ia bertanya dengan intonasi sangat lambat dan suara keras, seakan ingin memastikan saya dapat mendengar dan mengerti interupsinya.

Merasa tegang dan malu, saya menoleh dan melihat seorang wanita menatap saya, menunggu jawaban saya dan barangkali bertanya-tanya apakah saya memahami apa yang dikatakannya.

Saya bersuara pelan ‘Dari sini’, berharap jawaban itu akan mengakhiri percakapan. Setelah menatap rok panjang dan kerudung saya yang melambai, dia meneruskan pertanyaannya. ‘Asli dari sini?’

Lagi-lagi dia bicara perlahan dan keras untuk memastikan saya betul-betul memahami pertanyaannya kali ini, karena barangkali ada sedikit kemungkinan saya tidak mengerti apa yang dia katakan waktu pertama kali dia meneriakkannya.

Saya kembali mengeluarkan suara ‘ya’ yang lemah. Saya mengambil latte saya dan segera pergi dari sana, tidak sabar untuk mengembuskan napas lega. Peristiwa ini terlalu berlebihan untuk pagi hari di Starbucks.

Kapankah jawaban ‘Saya adalah orang Amerika’ dirasa cukup?

Berapa banyak lagi generasi yang harus tinggal di AS sebelum kami melebur ke dalam kolam kebhinekaan dan bukannya terpisah-pisah seperti krayon di dalam kotak?

Rupanya lahir dan dibesarkan sebagai warga negara yang taat hukum belumlah cukup untuk menjadi seorang Amerika. Jadi apa masalahnya? Orang-orang hanya ingin tahu latar belakang saya, kan? Iya kan?

Ternyata tidak.

Berbagi tentang asal-usul dan latar belakang seseorang seharusnya dilakukan di waktu yang tepat dan sesuai dengan kondisi orang yang bersangkutan. Kapan dan apakah Anda siap untuk menceritakan kepada orang lain dari mana asal orangtua Anda, kakek-nenek, dan leluhur Anda adalah terserah Anda, bukan mereka.

Ada begitu banyak anak-anak yang hanya tahu Amerika atau Kanada atau Inggris Raya sebagai negara kelahiran mereka dan rumah yang mereka cintai. Terimalah mereka apa adanya, bukan berdasarkan asumsi Anda.

Jadi, mari kita mulai lagi.

Saya adalah orang Amerika. Cukup begitu saja.

Isra Hashmi adalah ibu 3 anak yang tinggal di Boston dan bertekad membesarkan anak-anaknya untuk mencintai Allah, bukan selain-Nya. Sapa dia di situs webnya Simple Muslim Family.

Leave a Reply
<Modest Style