Modest Style

Saudi Tinjau Ulang Larangan Perempuan Mengemudi

,
Foto File: Aktivis Saudi, Manal Al Sharif, yang kini menetap di Dubai, memberi tanda “Victory” saat mengendarai mobilnya di kota Emirat Teluk ini pada tanggal 22 Oktober 2013. Foto AFP / Marwan Naamani
Foto File: Aktivis Saudi, Manal Al Sharif, yang kini menetap di Dubai, memberi tanda “Victory” saat mengendarai mobilnya di kota Emirat Teluk ini pada tanggal 22 Oktober 2013. Foto AFP / Marwan Naamani

RIYADH, 27 November 2013 (AFP) – Otoritas Saudi meninjau ulang larangan kontroversial atas hak perempuan untuk mengemudi, demikian disampaikan para aktivis pada hari Rabu, mengutip pernyataan menteri dalam negeri.

“Yakinlah bahwa isu [ini] sedang didiskusikan, dan mari mengharapkan hasil yang baik,” Pangeran Mohammer bin Nayef menyampaikan, menurut Aziza al-Yusef yang berjumpa dengannya bersama dengan rekan sesama aktivis, Hala al-Dosari.

Yusef mengatakan bahwa pertemuan tersebut diselenggarakan di kantor kementerian, namun dilakukan melalui konferensi video, sesuai dengan aturan ketat pemisahan antara laki-laki dan perempuan.

Namun kepala keamanan tertinggi itu menekankan bahwa larangan mengemudi bagi kaum perempuan, sebuah larangan yang unik di dunia, merupakan “permasalahan yang akan diputuskan oleh otoritas legislatif,” Yusef menyampaikan kepada AFP.

Arab Saudi memiliki sebuah badan permusyawaratan dengan penunjukan langsung yakni Dewan Syuro, tanpa adanya parlemen terpilih. Dewan ini membuat rekomendasi kepada pemerintah, namun raja tetap berlaku sebagai legislator dengan kekuasaan absolut.

“Kami mengharapkan keputusan kerajaan yang akan memberikan hak ini kepada kami,” ujar Yusef.

Tiga dari 30 anggota dewan perempuan yang ditunjuk baru-baru ini mengajukan rekomendasi bulan lalu agar perempuan diberikan hak untuk mengemudi.

Namun 150 anggota majelis yang didominasi pria menolak rekomendasi tersebut tanpa menyerahkannya kepada pemerintah.

Pangeran Mohammed menyampaikan kepada para aktivis bahwa kerajaan “diperintah oleh syariah”, demikian Dosari menulis di Twitter, sambil menambahkan bahwa aktivis menekankan bahwa “hak-hak perempuan tidak melanggar hukum syariah, dan tidak seharusnya diukur lewat opini para ekstremis”.

Sedikitnya 16 perempuan dihentikan oleh polisi sepanjang hari pemrotesan larangan mengemudi bulan lalu. Mereka didenda, serta dipaksa berikrar, dengan didampingi wali laki-laki mereka, untuk mematuhi hukum kerajaan.

Sebagai tambahan dari larangan mengemudi, kaum perempuan Arab Saudi dikenai beragam aturan pembatasan, termasuk kebutuhan akan izin wali laki-laki hampir di setiap aspek kehidupan mereka, dan kewajiban menutupi sekujur tubuh, dari kepala hingga kaki, saat berada di ruang publik.

Leave a Reply
<Modest Style