Modest Style

Saudari Kembarku: Serupa Tapi Jauh Bedanya

,

Tak semua anak kembar bagai pinang dibelah dua. Dina Toki-O menuturkan bagaimana ia dan saudarinya terkadang sungguh jauh berbeda.

[Not a valid template]

Pasangan kembar yang sempurna memiliki sepatu yang identik, pakaian yang sama, senyum yang mirip, dan kepribadian yang serupa. Mereka bisa membaca pikiran satu sama lain, merasakan kesakitan saudaranya, bagai pinang dibelah dua. Mereka adalah sahabat baik.

Itulah deskripsi stereotip anak kembar. Untuk beberapa alasan, kita tampaknya yakin bahwa anak kembar — identik atau tidak — kurang lebih adalah orang yang sama. Yah, biasanya memang begitu bukan?

Setiap anak kembar yang pernah saya kenal selalu berduaan, tidak pernah meninggalkan pasangannya. Mereka saling berbagi rahasia dan selalu saling menjaga, terutama ketika bermasalah dengan orangtua mereka.

Tapi tidak semua anak kembar sesempurna generalisasi saya di atas. Sebagai anak kembar, saya akan bercerita bagaimana generalisasi itu benar-benar keliru! (Yah, setidaknya keliru bagi kami).

Dalam kasus kami, mitos ‘kembaran jahat’ itu benar adanya — si jahat itu saudari saya, tentu saja. Saya si kembaran yang polos dan baik hati, tapi saya yakin kembaran saya punya pendapat sendiri tentang hal ini, mengingat dia jahat dan yah, begitulah….

Saya hanya bercanda, teman-teman! Kami berdua, sesekali, bisa menjadi ‘jahat’, namun biasanya kami cukup ‘normal’ kok.

Walaupun ibu kami pernah sedikit berusaha mendandani kami sebagai anak kembar ketika kami masih kecil, pada akhirnya kami tetap memiliki selera yang jauh berbeda

Adik saya dan saya adalah kembar non-identik, dan jujur saja, hampir semua karakteristik kami berseberangan mutlak satu sama lain. Dia belajar dan bekerja di bidang hukum, saya lebih condong di bidang kreatif. Saya biasanya lebih berisik daripada dia dan kami memiliki sudut pandang yang amat kontras. Saudari saya lebih menyukai kehidupan sosial yang ‘nyata’, terbalik dengan saya yang hidup di jejaring sosial ‘virtual’. Sebagai contoh, saya cukup senang di rumah saja pada Jumat malam yang nyaman daripada pergi keluar dengan teman-teman seperti yang dia lakukan.

Kami tidak sedekat yang diduga orang. Kami tidak pernah berpelukan atau mengatakan tiga kata mengerikan, ‘aku sayang kamu’, bahkan jika kami tidak bertemu selama beberapa minggu. Kami tidak berbagi dan mempercayakan rahasia, dan kami hanya nongkrong bareng karena kami memiliki kelompok teman yang sama. Seandainya kami tidak bersaudara, mungkin kami tidak akan berteman!

Kami selalu bertengkar (bahkan sering di muka umum), dan pastinya kami tidak berbagi lemari; melainkan ‘mencuri ‘baju satu sama lain dengan harapan yang lain tidak mengetahui. Walaupun ibu kami pernah sedikitnya berusaha mendandani kami sebagai anak kembar ketika kami masih kecil, pada akhirnya kami tetap memiliki selera yang jauh berbeda. Gaya kami sungguh bertentangan, dan ia sering menolak berkomentar tentang pakaian yang saya kenakan, yang biasanya berarti: “Itu terlalu jelek untuk dikomentari.”

Sebaliknya, saya amat menyukai gaya saudari saya, tapi tidak pernah berpikir saya akan sebagus dia saat memakainya. Kadang-kadang, saya bahkan heran mengapa dia tidak melakukan pekerjaan saya (yaitu, fashion) — tapi jangan bilang-bilang dia ya!

Aneh juga kami tidak sedekat atau se-‘paralel’ satu sama lain dalam hal-hal di atas, tapi saya tahu ada beberapa hal di mana kami sangat mirip. Sebagai contoh, kami jarang mengangkat telepon, dan semua teman tahu sedikitnya kami perlu tiga hari untuk menjawab SMS. Kami cenderung menunda membalas pesan orang-orang terdekat dalam kehidupan kami. Kenapa? Saya tidak tahu, mungkin kami takut pada ponsel.

Kami memiliki selera humor yang sama — sarkasme kami, tak pelak lagi, sarkasme kami sungguh keterlaluan. Kami berdua bisa sangat menggurui kadang-kadang. Kerap kali kami mengatakan hal yang sama dan mengalami pikiran ‘kembar’, tapi hal ini sangat jarang sebenarnya.

Hubungan kami tampaknya membutuhkan serangkaian konseling, tetapi saya tidak akan menukar saudari saya dengan apa pun dan saya tahu saya tidak bisa hidup tanpa dirinya.

Oke, jadi itulah satu-satunya kesamaan yang bisa saya temukan, selain kami berdua tak suka meminjamkan pakaian atau barang apa pun kepada orang lain.

Kadang-kadang saya berharap kami lebih akrab, saling menceritakan apa saja, bersahabat baik, dan berbagi pakaian secara rukun tanpa ujung-ujungnya saling menyerang. Misalnya, berteriak seperti, “Kau memakai sepatu baruku dan aku bahkan belum pernah memakainya… sialan kamu!” adalah biasa bagi kami. Pertengkaran seperti ini biasanya berubah menjadi tindakan fisik yang sangat kasar dan menyakitkan, lengkap dengan menjambak rambut, berteriak, berlari menaiki tangga dan membanting pintu, bersembunyi dan mengunci diri di toilet, berbaring di tempat tidur, dan menendang-nendang udara dengan harapan kena wajahnya.

Kalian tahulah, hal-hal biasa.

Ya, bahkan pada usia 23, ini masih terjadi. Bahkan, sekali, saya pernah memukul kepala adik saya dengan sikat rambut sampai patah. Habis, dia menusuk saya dengan bolpen, jadi adil ‘kan?

Kesimpulannya, hubungan kami tampaknya membutuhkan serangkaian konseling, tetapi saya tidak akan menukar adik saya dengan apa pun dan saya tahu saya tidak bisa hidup tanpa dirinya. Saya selalu mengagumi dia — entah mengapa, pokoknya begitu. Saya selalu mencari perhatiannya dan meminta persetujuannya, dengan memamerkan atau menceritakan padanya apa yang sedang saya kerjakan. Saya rasa saya ingin dia bangga pada saya, dengan melihat bahwa sayalah yang paling tidak akademis dari kami berdua dan saya lebih tua — meskipun hanya tiga detik.

Kami mungkin bukan contoh anak kembar yang sempurna, tapi saya yakin saya menyayanginya. Dan selain itu, kalau kami sedang akur, wah… kami benar-benar banyak tertawa!

Leave a Reply
<Modest Style