Modest Style

Ruh, Kebahagiaan dan Keabadian

,

Kebahagiaan yang abadi hanya dapat kita raih dari dalam, tulis Ashfi Qamara.

Melayangkan harapan untuk saya dan dunia.

Suatu waktu di penghujung sebuah acara, saya diminta menuliskan harapan pribadi di atas selembar kertas yang akan diterbangkan bersama sebuah balon udara.

Saya menulis: hati yang bersih.

Suatu permintaan yang sederhana. Karena bila manusia hidup dengan hati yang bersih, ia akan merasakan ketentraman di dunia untuk dirinya dan sekitarnya. Namun, sesuatu yang sungguh sulit untuk diraih.

Manusia sejatinya pasti mendambakan kesenangan, ketentraman, kesehatan, kekayaan, dan kekuatan. Namun, kita semua tahu dunia juga menawarkan sebaliknya: kesedihan, penyakit, kemiskinan dan peperangan. Itulah dunia yang kita tahu sekarang.

Memahami segala aspek yang manusia dambakan sesungguhnya mengingatkan kita bahwa asal usul manusia bukanlah di dunia ini; bahwa kita berasal dari alam yang begitu dekat dengan Allah dan suatu saat akan kembali kepada-Nya. Tak heran kita lalu mendambakan hal-hal yang menjadi sifat-sifat Allah dalam Asmaul Husna.

Manusia sebelumnya berada di alam ruh, lalu di usia kehamilan empat bulan seorang ibu, ruh tersebut ditiupkan ke dalam janin yang akan terlahir menjadi seorang manusia utuh. Ruh, suatu zat yang halus, seakan-akan tidak tampak namun sesungguhnya sangat menampakkan keberadaannya yang kita bisa rasakan sehari-hari dalam diri. Ruh dan badan sering kali kita sebut sebagai jiwa dan raga atau metafisik dan fisik, sehingga ruh (sesuatu yang ghaib) itu jelas keberadaannya.

Dalam mempelajari apa itu ruh manusia, Ustadz Zen Muhammad Al-Hadi adalah salah satu alim ulama yang ahli dalam menjelaskan konsep ini:

Yang menghidupkan jasad itu nafsu. Yang menghidupkan ruh itu zikir. Yang abadi ruh, berarti zikir itu kebutuhan. Ruh berbahagia saat berzikir atau bersama dengan Allah. Inilah hakikat hidup. Karena ruh anugerah abadi dari yang Maha Abadi, maka ruh adalah makhluk yang abadi, makhluk yang baik. Berhidup bersama ruh mendapat kebaikan dari yang Maha Baik. Ruh menerima anugerah hidup yang baik. Manusia yang hidup bersama ruh jarang sekali membahasakan diri “aku”. Dengan ruh dia selalu merasa menjadi abdi Allah. Bahasa “aku” itu bahasa hayat (ego).

Jiwa yang tenang adalah ruh yang tenang dan hati yang bersih dari penyakit-penyakit seperti tidak ikhlas, iri, dendam, sombong, tamak, dan sebagainya. Hati yang mudah marah atau tersinggung akan memberikan dampak buruk pada badan.

Kita semua tahu bahwa stress adalah salah satu sumber penyakit utama. Lalu untuk menghindari semua itu, manusia menawarkan hipnoterapi, senam yoga, dsb. Itu semua adalah penerapan untuk merasakan kehadiran ruh dalam diri. Bila kita mengoptimalkan manfaat shalat dan zikir sebagai kebutuhan ruh untuk berjumpa dengan yang menciptakannya, maka ritual-ritual ini akan lebih terasa manfaatnya. Merasakan cahaya-cahaya Ilahi melalui peredaran darah dalam keheningan saat shalat dan zikir dengan pernafasan yang teratur mengumpulkan energi yg ada di sekeliling kita, sehingga perjumpaan dengan Allah menjadi lebih nikmat bagai ekstasi yang nyata. Di situlah kita memberikan ruh hak-nya untuk berdekatan dengan Allah – di saat kita menghargai diri sendiri dengan rasa syukur dan harapan akan kembali berdekatan dengan Gusti Allah.

Segala yang haram tidak dapat menyenangkan hati, karena fitrah hanya merindukan kebersihan dan kebenaran.[i]

Kembali pada pencarian akan keabadian, kita semua berada dalam persimpangan jalan antara hak dan batil. Dunia sudah berusia lanjut, kebenaran dibaluti hal-hal yang tidak menyenangkan, keburukan dibaluti hal-hal yang menarik, yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Menanggapi semua, maka pensucian diri dan membersihkan hati adalah langkah riil menuju keselamatan.

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”

(QS. As-Syu’ara 26: 88-89)

 

 

 


[i] “Agar Hati Selalu Tenang”, Zen Muhammad Al-Hadi

Leave a Reply
<Modest Style