Modest Style

Restoran di Roma Menawarkan Sikap Baru Terhadap Sindroma Down

,
Viviana Polselli, perempuan muda dengan Sindroma Down, bekerja di restoran  “Locanda dei Sunflowers” pada 28 Januari 2014 di Roma. Restoran ini lahir dengan tujuan umum mempromosikan pekerjaan bagi orang-orang dengan Sindroma Down, memuliakan dan memberikan martabat kepada orang melalui jalur individu, pelatihan dan penempatan kerja. AFP Photo/Gabriel Bouys.
Viviana Polselli, perempuan muda dengan sindroma Down, bekerja di restoran “Locanda dei Sunflowers” pada 28 Januari 2014 di Roma. Restoran ini lahir dengan tujuan umum mempromosikan pekerjaan bagi orang-orang dengan sindroma Down, memuliakan dan memberikan martabat kepada orang melalui jalur individu, pelatihan dan penempatan kerja. AFP Photo/Gabriel Bouys.

Oleh Marc Henri Maisonhaute

Roma, 17 Februari 2014- Ini adalah hari sibuk yang lain bagi staf dengan sindroma Down di restoran Girasoli di Roma, yang menyediakan pizza tradisional dan hidangan pasta sejalan dengan cara baru dalam melihat kaum difabel di tempat kerja.

Restoran bertanda neon itu didirikan di pinggiran kota bagian tenggara dari ibu kota Italia oleh orang tua yang memiliki anak difabel, dan berfungsi seperti restoran lainnya. Satu-satunya pengecualian adalah 13 dari 18 karyawannya adalah penyandang cacat.

Pada dasarnya restoran itu adalah restoran seperti pada umumnya — kecuali pelayannya menyenangkan

“Saya suka ruangan ini, memantaunya, membuat diri saya terbuka, berhubungan dengan orang,” ujar Simone, 24 tahun, yang setelah menjalani magang yang dibayar selama 600 jam kini memiliki kontrak permanen dengan Girasoli (kata dalam bahasa Italia yang bermakna bunga matahari)

“Dan di atas semuanya saya suka berada di sini,” katanya.

Ketika sekelompok perempuan masuk, Simone dengan cekatan mengantar mereka ke meja dengan memegang beberapa menu di tangannya.

“Kami mendengar hal-hal baik tentangnya jadi kami ingin datang,” kata seorang perempuan, dan temannya menambahkan: ”Pada dasarnya ini restoran seperti pada umumnya — kecuali pelayannya menyenangkan,”

Ketika dia menikmati hidangan pasta amatriciana, guru berusia 64 tahun Giuseppe berkata: “Ketika Anda datang ke sini untuk pertama kali, Anda memiliki pengharapan tertentu tetapi Anda dengan cepat menyadari bahwa Anda tidak perlu memilikinya.”

Restoran itu didirikan pada tahun 2000 dan bertujuan untuk menawarkan pekerjaan bagi orang dengan sindroma Down — sebuah kelainan genetik yang biasanya dikaitkan dengan terhambatnya pertumbuhan fisik dan ketidakmampuan intelektual.

“Pelayan saya mengerjakan pekerjaannya dengan baik,” kata kepala pelayan Ugo Menghini, yang tidak cacat, memuji efisiensi dan kecepatan dari staffnya.

“Jika saya akan memulai bisnis saya sendiri, saya tidak akan ragu, saya akan mempekerjakan orang dengan sindroma Down,”

‘Sebuah kemenangan besar’

Seperti banyak usaha di Italia, restoran ini terpukul oleh resesi dan terpaksa tutup selama beberapa bulan pada tahun lalu untuk restrukturisasi dan renovasi.

Restoran itu sekarang dijalankan oleh Consorzio Sintesi, sebuah asosiasi kerjasama sosial yang mengkhususkan diri dalam memberikan pekerjaan kepada kaum difabel dan juga mengelola tiga call-centre untuk operator telepon seluler Italia Wind.

“Negara mendorong kami untuk mendapatkan bantuan tetapi kami memilih pelatihan professional. Semuanya di sini dibiayai sendiri tanpa subsidi dari negara,” Enzo Rimicci, ketua asosiasi, berkata kepada AFP.

“Setiap karyawan di sini berhasil menemukan tempat mereka berdasarkan kemampuan mereka,” kata Rimicci, menjelaskan dengan contoh bagaimana seorang staf, Marco, terlalu malu untuk berhadapan dengan pelanggan tetapi terbukti menjadi “mesin yang sesungguhnya” di dapur.

“Dilihat dari dekat, tidak ada orang yang normal,” katanya, mengulangi pepatah lama Roma yang dia sukai.

Pelatihan restoran ini sangat ketat dan dari 13 karyawan dengan sindroma Down syndrome, di antaranya magang.

Ketika Girasoli tutup di pagi hari, tim lain datang untuk membuat kue kering dan kue untuk pelanggan malam hari.

Anna, pelayan berusia 22 tahun, datang bahkan pada malam liburnya untuk makan malam bersama orangtuanya.

“Bagi kami, untuk dia ini adalah kemenangan besar,” ujar ayah Anna, Carlo, berurai air mata saat dia menjelaskan transformasi anak perempuannya sejak dia mulai bekerja.

“Anak perempuan kami telah mandiri. Saat dia pulang bekerja, dia senang, bangga dengan apa yang telah dia kerjakan,” katanya, menambahkan bahwa Anna juga telah membuat kemajuan “dalam bagaimana dia berhubungan dengan orang lain, dalam bahasanya sendiri”.

Sebuah tanda lebih lanjut dari kesuksesan restoran ini adalah bahwa restoran lain sedang dikerjakan.

Sebuah restoran baru diharapkan segera dibuka di Palermo, Sisilia dan Rimicci berkata bahkan ada rencana untuk mengubah ide ini menjadi waralaba dan membuat lebih banyak lagi cabang.

Leave a Reply
<Modest Style