Modest Style

Refleksi Ramadhan Setahun Setelah Saya Bersyahadat

,

Stephanie Roy mengenang masa mudanya dan menyadari sejumlah pertanda yang menuntunnya ke arah ke Islam.

Malam saat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, 28 Juli 2012
Malam saat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, 28 Juli 2012

Pernahkah Anda merenungi hidup dan bertanya-tanya ‘Bagaimana saya bisa di sini?’ Itulah yang saya tanyakan kepada diri sendiri hampir empat tahun lalu, saat membaca The Alchemist karya Paolo Coelho untuk kedua kali. Buku ini menceritakan seorang tokoh yang kerap menghadapi berbagai rintangan namun senantiasa berjuang untuk meraih tujuannya dalam situasi apa pun. Hal ini mengajarkan saya untuk tabah menghadapi segala cobaan.

Sepuluh tahun lalu, hidup saya sungguh berbeda dari sekarang. Saya tidak paham sepatah pun kata berbahasa Inggris di tempat saya dan ibu tinggal, yaitu kota kecil di timur Kanada. Saya bercita-cita menjadi penyanyi atau bintang film. Tapi entah bagaimana, kini saya adalah lulusan universitas di bidang penerjemahan, tinggal di ibukota Kanada serta menjalani kehidupan yang cukup sukses… sebagai mualaf. Saat membaca The Alchemist itulah saya mempelajari Islam.

Sejujurnya, saya sudah pernah mendengar tentang Islam. Waktu itu saya pikir Islam adalah agama sinting yang berasal dari gurun pasir asing di mana umatnya membunuhi orang demi Yallah, atau Wallah atau apalah itu sebutan bagi yang mereka sembah. Sebaliknya, saya berpikir bahwa saya tidak percaya pada banyak sesembahan — saya hanya percaya Tuhan yang Esa.

Hanya sedikit dampak yang ditimbulkan saat saya mempelajari Islam dalam konteks Perang Salib, selama tahun pertama saya di universitas. Meski saya dibesarkan dalam ajaran Gereja Katolik, Perang Salib terkesan seperti aksi ekstremis dari agama-agama tersebut. Mengenai pandangan bahwa Islam mestinya menjadi ‘musuh gereja’, saya tidak punya pendapat mengenai hal itu.

Saya selalu percaya pada Tuhan dan kehadiran Ilahi, bahkan ketika saya merasa agak terputus dari apa yang selama ini disajikan sebagai ‘Ilahi’ dalam kehidupan sehari-hari. Jadi saya mengeksplorasi dunia agama dan mempelajari sejumlah bentuk paganisme (paham non-agama). Setelah bertahun-tahun menekuni berbagai agama, saya menyerah mencari kebenaran dan hidup bahagia dalam pengetahuan agnostik di mana saya tidak memerlukan definisi Tuhan, karena keyakinan akan keberadaan-Nya pun sudah cukup bagi saya.

Lalu, saat hubungan saya dengan pemuda Muslim yang tidak selalu mengamalkan ajaran agamanya kandas empat tahun lalu, saya mencari ‘perlindungan’ pada The Alchemist. Saat pertama membacanya, saya hanya menangkap kisah cinta yang mengharukan dan penekanan pada perjuangan seseorang dalam mewujudkan tujuannya. Akan tetapi, kali kedua membacanya mengingatkan saya untuk mengikuti tanda-tanda yang diberikan Tuhan kepada hamba-Nya. Ketika saya mengenang kejadian 10 tahun ke belakang — peristiwa 9/11, kelas yang saya ambil di universitas, lelaki Muslim yang saya pacari, buku ini — saya menyadari sejumlah tanda yang saya terima menuntun saya ke arah Islam.

Jadi saya mulai mendalami Islam, walau tidak terlalu serius. Begitu saya menyuarakan gagasan ini, teman-teman dan rekan sejawat pun mulai menyuarakan pendapat mereka. Teman-teman Muslim mencoba menarik saya ke arah mazhab Islam tertentu, sementara kawan-kawan non-Muslim ingin saya menjauh dari mereka. Saya ditarik dan didorong ke segala arah. Lantas saya memutuskan untuk mempelajari Islam selama tiga tahun sebelum memutuskan untuk beralih menganutnya atau tidak.

Dalam tiga tahun itu, saya berjuang memahami keyakinan inti agama ini dan perbedaan antara berbagai mazhab. Sementara itu, saya juga telah menyelesaikan kuliah dan tidak lagi tinggal bersama orangtua. Saya menghabiskan tiga tahun untuk mencoba memahami sesuatu yang diwahyukan selama sekitar 23 tahun dan waktu beberapa abad sebelum akhirnya sampai kepada saya.

Tahun pertama saya mempelajari Islam, Ramadhan jatuh pada bulan Agustus. Artinya, puasa berlangsung selama 16,5 jam setiap hari. Karena puasa saya di Ramadhan pertama itu hanya demi memenangkan taruhan dengan seorang teman, saya bertekad mengabaikan tradisi ‘Muslim’ yang lain — saya membatalkan puasa pertama dengan sekaleng bir dan roti burger berisi keju dan daging babi asap (bacon).

Meski begitu, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk memperbaiki perilaku. Saya juga tidak memerlukan tiga tahun untuk jatuh cinta pada Islam. Sesungguhnya, setelah 30 hari berpuasa, saya terkagum-kagum pada tubuh sendiri. Sekalipun dengan keras kepalanya saya menerima taruhan untuk berpuasa dan bertekad memenuhinya, saya tidak pernah menyangka saya dapat melakukan tugas sehari-hari sebaik biasanya. Saya menyadari kinerja tubuh saya begitu baik dengan begitu sedikit makanan, dan alih-alih melemahkan, proses puasa malah telah memperkuat saya. Pada waktu itu, saya mungkin belum terlalu yakin tentang Islam, tapi saya sungguh yakin akan kekuatan Ramadhan.

Sesudah itu, perlahan tapi pasti, saya terus menekuni Islam. Setelah Ramadhan kedua, saya tahu saya ingin menjadi mualaf, tapi saya juga tahu saya perlu waktu lebih lama. Walau demikian, di titik ini, saya pun yakin Tuhan telah memberi saya ilham untuk memeluk agama Islam. Meyakini tenggat waktu-Nya memegang peran besar dalam keimanan saya.

Jadi, saat mempersiapkan syahadat (pernyataan keimanan) dengan teman-teman dan keluarga, saya berdoa setiap malam supaya Tuhan memudahkan hari peralihan saya. Ini gara-gara banyak Muslim mencoba meyakinkan saya untuk beralih secepatnya, sementara beberapa rekan non-Muslim berusaha menghalangi saya untuk beralih sama sekali. Tapi tidak ada yang bisa mereka katakan atau lakukan untuk mengubah sesuatu pun.

Pada 28 Juli 2012, setelah tiga tahun mempelajari Islam, dan tak lama setelah berbuka puasa, saya pun mengucapkan kata-kata yang akan saya ucapkan setiap hari sampai saya berpulang kepada-Nya — bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah.

Leave a Reply
<Modest Style