Modest Style

Ramadhan Kelima Saya

,

Klaudia Khan dulu takut pada Ramadhan ketika dia baru masuk Islam, tapi tahun ini dia bersemangat mempersiapkan diri untuk menjalaninya.

Foto: SXC
Foto: SXC

Ramadhan kelima saya segera tiba dan tahun ini saya berencana untuk membuatnya istimewa. Saya merasa sudah bisa mengatasi rasa takut saya terhadap puasa, jadi tahun ini saya tidak akan makan berlebihan saat sahur, seperti yang saya lakukan pada Ramadhan pertama saya. Saya tidak akan mencari alasan untuk menghindari puasa – tahun ini saya tidak hamil atau menyusui dan tentunya tidak memiliki masalah kesehatan serius yang menghalangi saya berpuasa.

Butuh waktu cukup lama, tapi kini saya merasa telah memahami konsep dan tujuan Ramadhan. Ini bukan tentang sekedar berpuasa. Ini tentang menetapkan prinsip-prinsip yang tepat dan mempraktikkannya. Ini juga tentang peremajaan jiwa, pikiran, dan tubuh – berpuasa adalah salah satu cara untuk mencapai hal tersebut.

Saya menulis artikel ini di pertengahan bulan Sya’ban, tapi saya sudah memikirkan dan membicarakan tentang Ramadhan selama berbulan-bulan. Suami saya menertawakan saya dan kegembiraan saya yang kekanak-kanakan, tapi itu karena ia lahir di keluarga Muslim dan merayakan bulan suci ini setiap tahun sepanjang hidupnya.

Bagi saya, bulan paling istimewa dibanding bulan-bulan lain ini masih terasa baru. Bangun sebelum fajar untuk mempersiapkan sahur, rutinitas lambat di siang hari selama bulan Ramadhan, mencari waktu untuk shalat dan membaca Al Quran lebih banyak dari biasanya, menunggu matahari terbenam dan berkumpul dengan gembira di meja makan setiap berbuka puasa – semua ini menciptakan perasaan meriah yang berlangsung sepanjang bulan.

Satu-satunya yang bisa saya bandingkan dengan Ramadhan adalah menunggu Natal ketika saya masih kecil. Tapi Ramadhan lebih baik, karena lebih masuk akal untuk menikmati hadiah setelah melakukan sesuatu yang baik dan pada penghujung hari kita merasa puas telah mengikuti perintah Allah.

Ramadhan tidak melulu tentang puasa, tapi karena saya tahu bahwa akan perlu waktu untuk membiasakan diri berpantang dari makan dan minum, saya sudah mulai mempersiapkan tubuh saya untuk puasa. Salah satu cara saya melakukannya adalah melalui puasa sunah selama Sya’ban pada hari Senin dan Kamis – seperti tradisi Nabi kita (saw). Hal lain yang saya lakukan adalah untuk membuat tubuh saya perlahan-lahan terbiasa dengan rasa lapar dengan cara mengurangi makanan ringan, mengurangi porsi makan, dan bahkan melewatkan makan siang minggu lalu. Saya berharap persiapan ini akan membuat hari-hari pertama Ramadhan lebih mudah, insya Allah.

Ramadhan adalah waktu untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran kita, ketika fokus pikiran dan upaya kita bergeser. Bukan keduniawian yang kita fokuskan dalam ‘kondisi Ramadhan’, tapi lebih tentang apa yang menanti kita di akhirat dan apa yang bisa kita lakukan untuk memperoleh ridha Allah dan berhak atas pahala. Kita berusaha lebih keras untuk menjadi muslim terbaik.

Ini seperti mempersiapkan diri untuk perjalanan atau liburan, ketika kita masuk ke dalam suasana liburan bahkan sebelum kita bepergian. Demikian pula, dengan Ramadhan kita mulai menyusun ulang pikiran kita sebelum bulan penuh berkah ini mulai. Bagi saya, cara terbaik untuk masuk ke ‘kondisi Ramadhan’ adalah merencanakan kegiatan khusus saya di bulan ini, seperti beramal atau mengkaji bab-bab baru Al Quran. Membaca Al Quran dan belajar lebih banyak tentang puasa juga cara yang bagus untuk mempersiapkan mental menjelang Ramadhan.

Terakhir tapi tak kalah penting, untuk mempersiapkan Ramadhan saya membuat niat yang benar untuk puasa dan berdoa kepada Allah agar saya bisa memperoleh kebaikan sebesar-besarnya dari bulan penuh berkah ini. Saya juga perlu mengingat bahwa doa orang berpuasa paling besar kemungkinannya diterima – daftar permintaan saya semakin panjang dari hari ke hari!

Saya takut pada Ramadhan ketika saya pertama kali menjadi Muslim, tapi sekarang saya tidak sabar untuk memulainya. Saya ingin berbagi kegembiraan saya menantinya dengan suami saya, anak-anak saya, dan semua keluarga saya. Saya berbincang tentang Ramadhan dengan putri kecil saya, saya mencoba untuk menjelaskan maknanya kepada kerabat non-muslim saya dan saya merencanakan kegiatan-kegiatan khusus untuk keluarga saya, seperti belajar Al-Qur’an bersama-sama dengan suami saya atau mempersiapkan kartu Lebaran dengan anak-anak saya. Ramadhan bisa menjadi beban atau kesempatan. Saya memilih untuk melihatnya sebagai kesempatan dan saya akan membuatnya menjadi saat yang terbaik dalam setahun ini, insya Allah.

Leave a Reply
<Modest Style