Modest Style

Raden Ajeng Kartini, pahlawan pendidikan untuk perempuan dari Indonesia

,

Surat-surat visionernya yang terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang menyingkap pentingnya pendidikan untuk perempuan muda di mana saja. Ulasan oleh Najwa Abdullah.

Raden Ajeng Kartini adalah pelopor perjuangan hak azasi perempuan di Indonesia. Gambar: Wikimedia Commons oleh Tropenmuseum
Raden Ajeng Kartini adalah pelopor perjuangan hak azasi perempuan di Indonesia. Gambar: Wikimedia Commons oleh Tropenmuseum

Sejak kecil, saya selalu mengidolakan pahlawan perempuan Indonesia terkemuka, Raden Ajeng Kartini. Pertama kali saya mengenalnya adalah dari lagu Ibu Kita Kartini yang berkumandang di aula sekolah setiap tahunnya saat perayaan hari lahirnya pada 21 April. Pada hari ini, sekolah-sekolah di seluruh penjuru nusantara mengadakan berbagai kegiatan: Siswa siswi didorong mengenakan pakaian tradisional dan ikut serta dalam karnaval, lomba kostum dan masak, dan lain sebagainya.

Kemeriahan perayaan tersebut memberikan saya citra Kartini yang rupawan, seorang bangsawan Jawa abad ke-19 yang karakternya harus ditiru oleh perempuan Indonesia. Belakangan, saya mengetahui bahwa Kartini adalah pelopor perjuangan hak azasi manusia di Indonesia. Guru sejarah saya pernah menyatakan bahwa jika bukan karena Kartini, perempuan di Indonesia tidak akan dapat bersekolah.

Mendengar hal ini, citra Kartini menjadi lebih nyata dan heroik bagi saya. Hidupnya seakan membuka jalan bagi perempuan untuk mengenyam pendidikan, sekaligus menjadi tulang punggung pembangunan bangsa.

Baru-baru ini, saya berkesempatan membaca kompilasi surat-surat pribadinya yang diterbitkan sebagai buku Habis Gelap, Terbitlah Terang. Di dalam buku tersebut ia menuangkan pemikiran dan mimpinya dengan lugas dan penuh perasaan tentang sebuah dunia di mana perempuan Jawa dapat mengenyam pendidikan dan terbebas dari tekanan sosial.

Tumbuh di lingkungan keluarga Jawa yang sangat terdidik, Kartini bersekolah hingga usia 12 tahun – pencapaian yang tidak lazim bagi kebanyakan perempuan Jawa di masa itu. Karena itulah ia dapat membaca, berbicara, dan menulis dalam bahasa Belanda.

Meski begitu, ia kemudian berdiam diri di rumah untuk menunggu perjodohan. Dalam masa pengasingan ini, Kartini muda berkorespondensi dengan teman-teman Belandanya dan mendapat cerita tentang Eropa sebagai tanah kebebasan, di mana perempuan dapat memilih karir, pernikahan, dan pendidikan yang mereka inginkan.

Membaca surat-suratnya, saya menganggap Kartini sebagai pelompat waktu. Ia tidak ingin menjalankan hidupnya sebagaimana perempuan Jawa lain di masanya, karena ia memiliki pemahaman yang begitu berbeda tentang kesetaraan jender dan nasionalisme. Dengan pemikiran yang begitu maju, ia seharusnya hidup di Indonesia masa kini.

Kartini seorang pemberontak yang “lembut”. Meski pemikirannya begitu berani, ia tetap mengutamakan kecintaannya pada keluarga, yang menurut saya merupakan salah satu karakter terkuatnya. Dalam surat kepada E H Zeehandelaar bertanggal 25 Mei 1899, Kartini menulis:

Sebenarnya, saya bisa saja mengakhiri semua aturan tradisional ini (…) kecintaan mendalam saya pada orangtua yang telah memberikan segalanya untuk saya. Apakah saya berhak menyakiti hati orang-orang yang tidak pernah melakukan apapun selain dengan setia membahagiakan dan menyayangi saya setiap hari?

Saya juga menyadari bahwa dalam mewujudkan mimpinya, Kartini sangat memperhatikan kebutuhan orang lain. Ia sangat tidak ingin membebaskan dirinya sendiri, namun selalu menekankan pentingnya emansipasi perempuan untuk kemajuan masyarakat secara keseluruhan. Dalam surat kepada R M Abendanon-Mandri bertanggal 21 Januari 1901, ia menulis:

Perempuan sebagai pendukung peradaban! Bukan, bukan karena perempuan dianggap lebih baik, namun karena saya yakin dari perempuanlah perubahan besar dapat dimulai (…) Dari perempuan, seorang anak mendapat pendidikan pertama. Di pangkuan seorang ibu seorang anak belajar merasa, berpikir, dan berbicara (…) Dan bagaimana para ibu dapat mendidik anak-anaknya jika mereka tidak terdidik?

Dari 510 halaman surat ini, saya mempelajari banyak hal baru tentang Kartini. Meski meninggal pada usia muda, 25 tahun, warisannya secara khusus mempelopori kemajuan hak azasi perempuan Indonesia sekaligus identitas nasional secara umum.

Saya menyadari bahwa Kartini bukan hanya pahlawan bagi perjuangan perempuan kita, namun bagi setiap orang di Indonesia. Ia lebih dari sekadar seorang feminis yang meyakini bahwa perempuan dan lelaki harus bekerja berdampingan, namun juga seorang nasionalis yang meyakini pendidikan dapat mempersatukan perbedaan di negaranya. Sebagai seorang yang sangat relijius, ia melihat hubungan antara Tuhan dan manusia sebagai sesuatu yang sangat pribadi dan menyayangkan sikap masyarakat yang menyalahartikan agama dan mengkotak-kotakkan manusia.

Bacalah surat-suratnya dan Anda akan bertanya-tanya bagaimana pemikiran yang begitu mengagumkan dapat muncul dari seorang perempuan yang begitu muda, dari masyarakat yang sangat tradisional, dan pada masa tersebut. Habis Gelap, Terbitlah Terang seharusnya melengkapi koleksi buku setiap perempuan untuk selamanya menginspirasi mereka.

Leave a Reply
<Modest Style