Modest Style

Presiden Iran Meminta Polisi Bersikap Lunak terhadap Hijab

,
Perempuan Iran terlihat berbelanja di pertokoan di Teheran tanggal 7 Oktober 2013. Foto AFP /Atta Kenare
Perempuan Iran terlihat berbelanja di pertokoan di Teheran tanggal 7 Oktober 2013. Foto AFP /Atta Kenare

TEHERAN, 9 Oktober 2013 (AFP) – Polisi Iran sudah seharusnya berhati-hati dalam pelaksanaan peraturan menutup aurat bagi kaum perempuan, demikian dikatakan Presiden Hassan Rouhani pada hari Rabu.

Pernyataannya ini dipandang sebagai bentuk pemenuhan janjinya akan kebebasan sosial yang lebih baik, sebuah tema sentral dari kampanye yang telah memberikannya kemenangan mengejutkan pada pemilihan presiden di bulan Juni.

‘Jika diperlukan sebuah peringatan perihal isu pemakaian kerudung (penutup kepala dan bahu), polisi sebaiknya menjadi pihak terakhir yang melakukannya,’ presiden beraliran moderat ini menyampaikan kepada lulusan akademi polisi, demikian dilaporkan oleh kantor berita Fars.

‘Warga perempuan yang terhormat selayaknya merasa aman dan tenang dengan keberadaan polisi,’ ujarnya.

Rouhani menentang pendapat bahwa langkah-langkah dasar harus lebih banyak dilakukan untuk mengatasi apa yang dilihat oleh institusi keagamaan sebagai penyimpangan tata cara berpakaian.

Hal ini bisa dimulai lewat ceramah-ceramah di ‘sekolah-sekolah, sekolah lanjutan atas, universitas dan masjid’.

Tata cara berpakaian Islami yang diterapkan sebagai kewajiban di Iran mengharuskan seluruh kaum perempuan untuk menutup seluruh tubuh dari kepala hingga kaki.

Mereka yang membangkang dari peraturan akan menghadapi hukuman tahanan atau bentuk hukuman lain.

Pasukan kepolisian Iran termasuk unit ‘moralitas’ bertugas mengawasi warga perempuan di jalan, memastikan bahwa pakaian mereka tidak menyalahi nilai-nilai Islami.

Rouhani juga menyatakan bahwa beberapa masalah sosial terjadi karena perekonomian negara yang sedang rapuh, tercekik oleh sanksi internasional yang diberlakukan karena ambisi nuklir Teheran.

‘Untuk meningkatkan kehormatan dan moralitas dalam masyarakat, kita harus mengikis kemiskinan dan pengangguran,’ ujarnya.

Bulan lalu ulama Syiah peringkat-menengah mengimbau polisi untuk menegakkan hukum dengan memperhatikan martabat dan menghindari ‘metode ekstrem’ atas isu tentang hijab.

Presiden dengan tutur kata lembut itu, yang didukung oleh kaum reformis, moderat dan sebagian konservatif, berkampanye untuk kebebasan sosial dan kultural yang lebih baik dalam negara republik Islam ini.

Pernyataannya dilontarkan sehari setelah Menteri Kebudayaan Ali Janati mengkritik lembaga penyensoran buku yang sangat kaku di bawah pemerintahan bekas presiden Mahmoud Ahmadinejad, penganut aliran garis-keras.

‘Saya prihatin saat mengetahui bahwa beberapa buku mendapat penolakan izin penerbitannya hanya karena opini pribadi,’ harian reformis Arman mengutip perkataan Janati.

‘Menurut saya, jika saja Al Quran bukanlah sebuah wahyu Ilahi, saat diserahkan kepada dewan pengawas buku, mereka bisa jadi akan berkata bahwa beberapa kata di dalamnya tidak sesuai dengan moralitas publik dan mungkin mereka akan menolak izin publikasinya,’ ujarnya.

Penyensoran dan catatan hak sipil Iran hampir selalu mendapat kritik dari badan pemerhati HAM internasional dan pemerintahan Barat.

Leave a Reply
<Modest Style