Modest Style

Polisi Wanita Afganistan Alami Pelecehan Seksual di Kantor

,
File photo: Afghan policewomen march during a graduation ceremony at a police training centre in Herat on March 15, 2012. AFP PHOTO / Aref Karimi
File foto: Polisi wanita Afganistan berbaris pada upacara wisuda di pusat pelatihan polisi di Herat, 15 Maret 2012 lalu. AFP PHOTO / Aref Karimi

KABUL, 25 April 2013 (AFP)—Polisi wanita (polwan) Afganistan kerap mengalami pelecehan seksual dari rekan kerja pria di kantor. Demikian diungkapkan Human Rights Watch (HRW), Kamis (25/4), yang lantas menyerukan perlunya WC dan kamar ganti khusus wanita demi meminimalkan kekerasan tersebut.

Menurut organisasi pembela HAM itu, untuk menanggulangi penganiayaan terhadap wanita yang merajalela di Afganistan, pemerintah perlu mengatasi masalah yang dihadapi polwan.

‘Pelecehan dan kekerasan adalah hal yang dialami banyak wanita Afganistan setiap hari,’ ujar Direktur HRW Asia, Brad Adams.

‘Tanpa kehadiran yang konsisten dari para petugas polwan di negeri ini, perlindungan hukum bagi wanita hanya akan menjadi janji yang tak kunjung ditepati,’ tegasnya.

Mengutip sejumlah besar laporan media tentang pemerkosaan para opsir wanita oleh kolega pria, HRW menyatakan kurangnya WC atau tempat ganti baju yang terpisah mengakibatkan mereka sangat mudah diserang.

Sebagian besar dari 1.500 polwan di Afganistan tidak dapat mengenakan seragam saat bekerja karena adanya ancaman dari pemberontak Taliban atau kelompok konservatif Islam lain yang menentang konsep polisi wanita.

‘Seiring dengan meningkatnya jumlah wanita di kepolisian, meningkat pula tuduhan pemerkosaan, kekerasan atau pelecehan seksual terhadap polwan oleh rekan kerja pria,’ ungkap HRW.

Pelecehan yang terjadi sering kali berlangsung di lokasi tertutup seperti WC dan tempat ganti baju yang tidak dilengkapi kunci.

HRW mengatakan polisi wanita Afganistan tidak mempunyai akses terhadap WC terpisah yang ‘aman dan nyaman’. Perintah dari pejabat tinggi untuk menyediakan fasilitas tersebut pun belum dilaksanakan.

‘Pemerintah Afganistan harus segera mengambil tindakan untuk menjamin para polisi wanita di negaranya mendapatkan akses terhadap fasilitas WC yang terpisah, aman dan dapat dikunci di kantor-kantor polisi,’ tegas HRW.

Di negara yang telah bertahun-tahun terlibat perang itu, wanita hanya mengisi satu persen dari 160.000 anggota kepolisian yang didanai oleh para sekutu Barat. Berdasarkan program pemerintah, jumlah tersebut akan ditambah hingga sekitar lima kali lipat.

Di Afganistan yang didominasi pria, wanita masih menderita akibat kekerasan domestik dan berbagai penyiksaan lain, bahkan setelah 12 tahun sejak jatuhnya pemerintahan Taliban, yang melarang wanita bersekolah atau melakukan segala bentuk kegiatan publik selama masa kekuasaan mereka (1996-2001).

Serangan yang dipimpin AS berhasil menggulingkan gerakan Taliban, tapi kini mereka mengobarkan pemberontakan dengan tujuan merebut kembali kekuasaan.

Pemerintahan presiden Hamid Karzai yang didukung pihak Barat telah meloloskan undang-undang ‘penghapusan kekerasan terhadap wanita’ demi menjamin perlindungan yang lebih baik.

Tetapi ‘peraturan itu belum sepenuhnya ditegakkan, antara lain karena jumlah polisi wanita tidak mencukupi untuk mendampingi para wanita korban kejahatan, termasuk sesama polwan,’ ujar HRW.

Leave a Reply
<Modest Style