Modest Style

Polisi Malaysia Kenali Identitas Korban “Perbudakan” di Inggris

,
Hasnah Abdul Wahab memegang foto usang adik perempuannya, Siti Aishah Abdul Wahab, dalam wawancara dengan AFP di rumahnya di Jelebu, kawasan Negeri Sembilan, luar Kuala Lumpur, 27 November 2013. Rabu itu di Kuala Lumpur, polisi menyatakan satu dari tiga perempuan yang diduga disekap dan dijadikan budak di London selama 30 tahun adalah warga Malaysia yang hilang pada 1960-an. Pernyataan itu disambut dengan suka cita oleh kakak dari perempuan yang sudah lama menghilang tersebut. AFP Photo / Mohd Rasfan
Hasnah Abdul Wahab memegang foto usang adik perempuannya, Siti Aishah Abdul Wahab, dalam wawancara dengan AFP di rumahnya di Jelebu, kawasan Negeri Sembilan, luar Kuala Lumpur, 27 November 2013. Rabu itu di Kuala Lumpur, polisi menyatakan satu dari tiga perempuan yang diduga disekap dan dijadikan budak di London selama 30 tahun adalah warga Malaysia yang hilang pada 1960-an. Pernyataan itu disambut dengan suka cita oleh kakak dari perempuan yang sudah lama menghilang tersebut. AFP Photo / Mohd Rasfan

JELEBU, 27 November 27 2013 (AFP) – Polisi di Kuala Lumpur, Rabu (27/11), menyatakan satu dari tiga perempuan yang diduga disekap dan dijadikan budak di London selama 30 tahun adalah warga Malaysia yang hilang pada 1960-an. Pernyataan itu disambut dengan suka cita oleh kakak dari perempuan yang sudah lama menghilang tersebut.

Mengutip informasi yang diberikan polisi Inggris, pejabat tinggi kepolisian Malaysia, Khalid Abu Bakar, telah menegaskan perempuan itu adalah Siti Aishah Abdul Wahab. Demikian tulis harian The Star dalam laporan singkat di situs webnya.

Menurut pihak keluarga kepada AFP, sekitar tahun 1968, Siti Aishah, kini 69 tahun, berangkat ke Inggris untuk bersekolah tetapi segera kehilangan kontak dengan keluarganya.

“Saya akan memeluknya dan menangis jika dia sampai di rumah,” ungkap kakak sulung Siti Aishah, Hasnah Abdul Wahab (88), saat mengetahui berita yang diumumkan polisi.

“Saya bersyukur Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu Siti Aishah sebelum saya meninggal,” katanya kepada AFP di rumah keluarga di Jelebu, Malaysia selatan, sambil memegang foto Siti Aishah saat masih muda.

“Saya akan mengadakan selamatan untuk bersyukur kepada Allah. Kami sudah mencarinya selama bertahun-tahun.”

Polisi telah menahan dua orang yang diidentifikasi media Inggris sebagai anggota sekte garis keras Maois karena menawan tiga perempuan dalam kasus yang menghebohkan Inggris itu.

Ketiga “budak” itu, termasuk perempuan Irlandia (57) dan Inggris (30) yang diyakini telah menghabiskan hidup mereka dalam perbudakan, dibebaskan 25 Oktober silam setelah salah satu dari mereka diam-diam menghubungi sebuah badan amal.

Identitas pasangan penyekap yang telah dibebaskan dengan jaminan itu dilaporkan beberapa harian Inggris sebagai pria kelahiran India, Aravindan Balakrishnan, dan istrinya, Chanda, yang berasal dari Tanzania.

Selama berlangsungnya penyelidikan kasus ini, polisi Inggris masih menutupi sejumlah fakta.

Akan tetapi, abang ipar Siti Aishah, Mohamad Noh Mohamad Dom, mengatakan istrinya, Kamar Mahtum, sudah berangkat ke London Rabu lalu untuk memastikan identitas adiknya. Sebelumnya, beberapa media Inggris telah memberitahukan pihak keluarga ada kemungkinan perempuan itu adalah Siti Aishah.

“Perasaan kami campur aduk,” tuturnya kepada AFP.

“Gembira, karena kami yakin telah menemukan anggota keluarga yang hilang, dan sedih, karena kami dengar dia sakit dan telah disekap selama lebih dari 30 tahun.”

Kamar (69), dalam wawancara dengan harian Inggris Daily Telegraph edisi Selasa, menggambarkan Siti Aishah sebagai perempuan yang cerdas dan optimis. Sejumlah foto berusia beberapa dasawarsa yang dimuat media Malaysia menampilkan seorang siswi muda yang sedang tersenyum.

Setelah menempuh pendidikan di sebuah sekolah elite Malaysia, dia memperoleh beasiswa untuk mempelajari survei kuantitas di Inggris namun kemungkinan besar diyakini malah jatuh ke dalam perangkap pasangan Maois tersebut.

Seperti dikutip media lokal, aktivis terpandang Malaysia, Hishamuddin Rais, mengatakan Siti Aishah, bersama sejumlah pelajar Malaysia lainnya, telah bergabung dengan sekte komunis di Inggris yang disebut “New Malayan Youth” (Pemuda Melayu Baru) pada 1970-an.

“Ketika istri saya tahu Siti Aishah masih hidup dan telah diselamatkan dari penyekapan, dia menangis,” ujar Mohamad Noh.

Rabu lalu, The Star melaporkan desakan Komite Tinggi Inggris di London untuk menyediakan akses konseling untuk perempuan tersebut.

“Saya ragu apakah dia akan mengingat saya tapi saya harap iya,” ungkap Kamar kepada portal berita The Malaysian Insider sebelum berangkat ke London.

Menurut laporan Media Inggris, korban perbudakan asal Malaysia itu baru-baru ini telah menderita stroke.

Polisi mengatakan para perempuan yang diduga keras menempati sebuah flat di London selatan itu telah dicuci otaknya dan dilaporkan sering menerima pukulan.

Sabtu lalu, polisi menyatakan dua korban yang lebih tua berkenalan dengan laki-laki penyekap mereka melalui “kesamaan ideologi politik”, dan pada awalnya tinggal dengan pria itu sebagai bagian dari sebuah kelompok.

Leave a Reply
<Modest Style