Modest Style

Perusahaan Singapura Luncurkan Aplikasi Shalat di Udara

,
Foto ini diambil pada 3 April 2012. Chief executive Crescentrating Fazal Bahardeen menampilkan tautan situs ke Air Travel Prayer Time Calculator (Penunjuk Waktu Shalat pada Perjalanan Udara) di komputernya di Singapura. Banyak muslim taat yang sering melakukan perjalanan bisnis merasa kesulitan dalam memperkirakan waktu shalat selagi dalam perjalanan udara. Salah satu perusahaan yang berbasis di Singapura mengklaim telah menemukan solusinya: Air Travel Prayer Time Calculator. AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN
Foto ini diambil pada 3 April 2012. Chief executive Crescentrating Fazal Bahardeen menampilkan tautan situs ke Air Travel Prayer Time Calculator (Penunjuk Waktu Shalat pada Perjalanan Udara) di komputernya di Singapura. Banyak muslim taat yang sering melakukan perjalanan bisnis merasa kesulitan dalam memperkirakan waktu shalat selagi dalam perjalanan udara. Salah satu perusahaan yang berbasis di Singapura mengklaim telah menemukan solusinya: Air Travel Prayer Time Calculator. AFP PHOTO/ROSLAN RAHMAN

SINGAPURA, 13 Agustus 2013 (AFP) — Sebuah perusahaan yang berbasis di Singapura meluncurkan aplikasi iPhone yang dapat memberitahukan waktu shalat untuk umat Islam dan ke arah mana harus menghadap bahkan ketika mereka berada setinggi 35 ribu kaki (sekitar 11 ribu meter) di udara.

Orang yang bepergian hanya perlu memasukkan rincian penerbangan mereka dan akan menerima informasi waktu shalat selama perjalanan mereka serta arah kota suci umat Islam, Mekkah.

Crescentrating, sebuah perusahaan yang memberikan peringkat ‘halal’ untuk hotel dan bisnis lainnya yang berhubungan dengan perjalanan, berencana untuk membuat aplikasi gratis yang disebut Crescent Trips untuk smartphone Android dalam beberapa bulan, kata chief executive Fazal Bahardeen.

Aplikasi ini juga mencakup klip audio shalat muslim — yang wajib shalat lima kali sehari pada jam-jam tertentu — yang diputar ketika mereka dalam perjalanan.

‘Wisatawan muslim mungkin adalah pasar terbesar yang belum tergarap di industri wisata dewasa ini,’ kata chief operating officer Crescentrating, Dany Bolduc.

‘(Pasar muslim) belum benar-benar terlayani dengan baik jika dibandingkan dengan besarnya pangsa dan potensi pasar ini.’

Biaya yang dikeluarkan oleh wisatawan muslim tumbuh lebih cepat daripada pengeluaran tingkat global dan diperkirakan akan mencapai $192 miliar (sekitar Rp 2.000 triliun) pada tahun 2020, naik dari $126 miliar (sekitar Rp 1.300 triliun) pada tahun 2011, menurut sebuah penelitian yang dirilis tahun lalu oleh Crescentrating dan DinarStandard, sebuah perusahaan yang berbasis di AS yang melacak pasar gaya hidup muslim.

Leave a Reply
<Modest Style